
Disepanjang perjalanan Andrean seperti orang gila, tersenyum sendirian, bahkan kini saat ia duduk dikursi kerjanya, masih saja tersenyum-senyum.
‘Dasar wanita nakal, berani sekali dia menggodaku!” gumamnya, meraba bibirnya sendiri.
Dedrick bahkan telah berkali-kali memanggilnya, hingga ia menepuk bahu adiknya itu kuat.
“Ooooww!!!” pekik Andrean terkejut.
“Kakak, kau mengagetkanku saja!” dongkolnya.
“Berapa jam kau terlambat?” Dedrick menunjuk jam tangan ditangannya.
“Cuma 3 jam.” jawab Andrean santai.
“Cuma?” Dedrick menjewer telinga Andrean.
“Adududuuuuh! Sakit Kak!”
“Sepertinya gajimu aku berikan pada Sakinah saja deh!” ucap Dedrick dengan bersidekap.
“Terserah Kakak saja! Uangku yang lain masih banyak kok!” Andrean masih menjawab santai.
“Bagaimana kalau asetmu ku minta Mama menariknya? Hm, oh ya, Mama sangat setuju jika aku mengusulkan untuk pengalihan semua aset pada anak-anak dan Sakinah. Dari pada uangmu habis untuk meroyalkan wanita-wanita liar itu.”
Setelah berkata seperti itu, Dedrick berjalan pergi.
“Kakak!!!” teriak Andrean, ia mengejar Dedrick.
“Kakak, jangan lakukan itu. Bagaimana mungkin aku seorang pria uangnya dipegang wanita!”
“Kalau begitu berubahlah!” Dedrick mendorong kening Andrean dengan telunjuknya kebelakang.
“Ah, aku sampai lupa! Ini ada undangan, sepertinya aku tak bisa pergi, tolong wakilkan aku ya.”
Andrean melihat undangan itu. “Hahahaha. Serahkan saja padaku!”
“Ingat, kau harus waspada!”
“Tenang saja, aku ahlinya.” jawab Andrean.
___________________
Hari H undangan.
Jam 7 malam Andrean telah rapi dengan pakai jasnya.
“Mau kemana?” tanya Sakinah.
“Ada undangan dari rekan bisnis.” jawab Andrean.
“Oh, tamunya banyak wanita ya?” Sakinah bertanya lagi.
“Tentu saja, namanya juga pesta.”
“Ooooh.”
“Kenapa?” tanya Andrean penuh selidik, wajah istrinya itu tampak murung.
“Tidak apa-apa, aku hanya kesepian tidur sendiri. Pulang jam berapa? Jangan pulang malam-malam ya.”
Bibir Andrean dengan reflek membentuk bulan sabit, ia tersenyum kecil. “Ekheeem! Kau selalu saja berkata membuat orang salah paham.”
“Aku akan pulang cepat.” lanjutnya lagi.
__ADS_1
________________
Ditempat acara.
Para pria dengan pakaian berjas dan perempuan dengan dress yang glamour, serta beberapa anak kecil dengan pakaian yang tak kalah rapi dan bagusnya dari orang-orang dewasa.
Di tempat acara juga ada Irfan dan Berend yang sedang mengobrol dengan rekan bisnis lainnya sembari memegang gelas berisi anggur.
Arsen juga dibawa oleh Berend, ia berdiri disamping Frans cucu Irfan.
Sekilas Andrean melihat Arsen, namun ia menepiskan penglihatannya itu, tak mungkin anak Billa dan Jimi berada di Belanda, sedangkan sepasang suami itu telah pulang kembali ke Indonesia.
Arsen bersikap bodoh, mendengar ucapan Frans yang menyombongkan diri di depan anak-anak lain. Menganggukkan kepala, membenarkan apapun yang dikatakan Frans.
Arsen, anak laki-laki itu memegang potongan kue, memakannya layaknya anak kecil.
“Frans aku mau kesana dulu ya.”
“Ya, pergi saja sana! Aku juga tak peduli!” jawab Frans. Arsen tersenyum penuh arti. Lalu, berjalan pergi, berhenti di tempat yang agak sepi.
Ia berbisik pada bodyguardnya untuk menabrak tubuh Andrean. Saat bodyguard itu membarak, konsentrasi Andrean pecah, ia selipkan benda kecil dikantong jas Ayah kandungnya itu.
“Maaf, Maafkan saya.” ucap Bodyguard. Lelaki berbadan kekar ini bernama Xander Pim.
“Hm.” sahut Andrean, ia menepuk-nepuk jasnya.
“Hallo, Honey,” sapa seorang wanita cantik dengan pakaian seksi berwarna hitam. Ia langsung mengecup bibir Andrean.
Untuk pertama kalinya, tangan Andrean refleks menghapus bibirnya dari ciuman wanita, bahkan tak membalas ciuman itu.
“Kau tak merindukanku Honey?” rengek wanita itu melihat sikap Andrean.
“Di sini terlalu banyak orang, ada beberapa rekan bisnis.”
“Bukan begitu. Aku sekarang menjadi perwakilan Kakakku.” alasan Andrean.
Jujur saja, ia merasa risih dicium, yang ada dalam benaknya hanya ada ciuman Sakinah. Ia ingin merasakan ciuman itu lagi. Tetapi entah kenapa ia malu bahkan tak berani meminta izin. Mendekati Sakinah saja ia tak leluasa.
“Cih!” Arsen berdecih saat melihat Andrean dicium bibirnya oleh seorang wanita.
Arsen berjalan mendekat kearah mereka.
“Aku merindukanmu Honey.“ Wanita itu menggelayutkan tangannya dileher Andrean.
“Nanti malam aku tunggu ya, di apartemenku.” ucapnya mengelus wajah Andrean.
Byur! Prang! Prang! Terdengar suara pecahan gelas dan baju wanita itu basah terkena cipratan air di dalam gelas yang pecah itu.
“Awch! Siaaalan!” pekik wanita itu.
“Maaf, Maafkan saya Nona.” Seorang pelayan wanita meminta maaf.
Plak! Wanita itu langsung menampar pelayan wanita itu.
“Kau bisa bekerja tidak?!”
“Sudah, dia tidak sengaja!” Andrean meraih pinggang wanita itu, masuk ke dalam dekapannya.
Wanita seksi ini adalah putri dari rekan bisnis yang mengundangnya ke dalam acara.
Arsen memicingkan matanya sembari mengulas tangan di dagu.
Barusan ia sengaja menyandung kaki pelayan, tetapi sungguh kasihan, pelayan itu mendapatkan omelan dan tamparan.
__ADS_1
“Anak pintar yang nakal, apa yang barusan kau lakukan? Apakah kau begitu sangat membenci keluarga Van Hallen?” bisik Berend.
Ya, pria itu memperhatikan kejadiannya, Arsen dengan sengaja menyandung pelayan itu.
“Menurut Paman?” Arsen tersenyum devil.
“Ckckck. Kau anak kecil penuh ambisi! Bagaimana bila kau besar nanti?”
Pesta terus berlanjut, semua orang saling berbincang. Hingga pada titik dimana Andrean telah berjalan terhuyung-huyung dan dipapah oleh wanita sexsy tadi. Tak ada yang tau pasti kejadiannya seperti apa? Apakah pria playboy itu mabuk?
“Ya, tidak pun Dedrick, kau pun jadi Honey.” ucap wanita yang memopongnya itu, kemudian mengecup bibir Andrean sekilas.
Wanita itu membuka pintu kamar hotel dengan membopong tubuh Andrean masuk, membaringkan diranjang.
“Kita akan bersenang-senang tanpa alat pengaman Honey.” Wanita itu menuangkan cairan ke dalam mulut Andrean.
Benda kecil yang dimasukkan Arsen didalam jas Andrean tadi tentu saja berfungsi, tapi sayang gambarnya hanya gelap, tetapi suara wanita itu sangat jelas.
‘Sepertinya ada yang tidak beres!’ gumam Arsen.
Arsen berjalan keluar dari ruangan pesta dan diikuti oleh Bodyguardnya.
Ceklek! Pintu dibuka paksa oleh Arsen dengan alat congkel sebesar jarum berbentuk seperti kunci L.
“Siapa kalian!” teriak perempuan itu dengan tubuh polos tanpa sehelai benang pun. Andrean juga telah dibuka bajunya.
Cih! Arsen mendecih!
Arsen memberikan isyarat mata pada bodyguardnya.
Xander Pim pun memegang wanita itu dan memaksanya meminum minuman yang terletak dimeja. Dari aromanya itu jelas mengandung obat di dalamnya.
“Paman, bawakan aku pria yang kemarin ke dalam kamar 101 sekarang.” Arsen menelfon Berend.
“Pindahkan dia ke kamar 108!” perintah Arsen pada Xander, bodyguardnya.
“Baik, Tuan Muda.” jawab Xander Pim, lalu membawa Andrean ke kamar 108.
Berend telah membawa seorang pria paruh baya dengan perut buncit, pria itu sepertinya tengah mabuk karena banyak meminum alkohol.
“Mari kita tinggalkan mereka berdua di dalam kamar ini, Paman. Biarkan mereka merasakan karma atas perbuatannya sendiri!” ajak Arsen.
“Bawahan Paman masih standby mengawasi Irfan 'kan?” tanya Arsen berjalan berbarengan dengan Berend di koridor menuju kamar 108.
“Bagaimana? Apakah CCTV nya sudah di hapus tentang ini?” tanya Berend pada Bodyguardnya yang baru datang menyusul.
“Sudah selsai, Tuan. Semuanya sudah beres.” jawabnya.
Arsen membuka pintu kamar 108, Bodyguardnya sudah menidurkan tubuh Andrean dengan pakaian lengkap di ranjang.
“Saya sudah meminumkan obat padanya Tuan Muda. Apa yang harus kita lakukan lagi?”
“Tidak ada, ayo kita tinggalkan dia! Lalu, hapus juga rekaman dikamar ini.”
“Bukankah kau benci pada keluarga Van Hallen? Kenapa kau menolongnya, Anak Kecil?” tanya Berend penasaran.
Arsen tak menjawabnya, malah pergi terlebih dahulu dari kamar itu yang juga di susul oleh yang lainnya.
Setelah mereka semua pergi, Andrean membuka matanya.
‘Jadi, aku tak salah lihat? Anak itu??’ gumamnya berpikir.
...***...
__ADS_1