
Jam 8 malam.
Anak-anak sedang bersalaman dengan Rukhsa dan suaminya, seperti biasa, anak-anak akan ke musholla setiap magrib, selesai Magrib mengaji sampai masuk waktunya isya. Setelah itu, mereka akan sholat berjamaah yang di imami oleh salah satu dari mereka, sedangkan Rukhsa, setiap sholat isya selalu memantau anak-anak, kemudian baru sholat sendiri setelah melepas anak-anak pulang.
Suami Rukhsa duduk di teras membaca novel islami yang baru dia beli online sambil menunggu Rukhsa sholat isya sendiri.
“Hei cantik!” sapa Bilal pada Jamila yang duduk di samping suami Rukhsa.
Jamila menoleh. “Hm, hai.”
“Om yang beristri itu udah pulang duluan?” tanya Bilal, dia menyodorkan permen alpenlibe rasa strawberry. “Ambil lah, ini enak tau!” Bilal tersenyum, menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Aby!” Jamila memanggil suami Rukhsa yang tengah fokus pada bukunya.
“Iya, Milla!” jawabnya tanpa menoleh.
“Aku boleh makan permen pemberian dari dia Aby?”
“Boleh, tapi jangan banyak-banyak, ya!” jawabnya masih fokus pada bacaannya.
“Baik Abi.” Jamila pun mengambil permen pemberian Bilal.
“Enak 'kan?” tanya Bilal setelah Jamila memasukkan permen alpenlibbe tangkai ke dalam mulutnya. Kemudian, dia juga memakan miliknya yang rasa coklat.
“Besok kamu mau kemana? Mau main layang-layang sama aku?”
“Hm, besok aku mau jemput kedua kakakku ke bandara. Jadi, gak bisa.”
__ADS_1
“Oh, kalau begitu, lusa aja ya!” tawar Bilal.
“Aku nggak janji ya. Eh, nama kamu siapa?” Bola mata Jamila bulat bersinar sambil berkedip-kedip menunggu Bilal menyebut namanya.
“Kok diam aja?”
“Hm, kamu cantik seperti boneka berbie, aku jadi lupa memperkenalkan diri. Namaku Bilal Atqan Hanif, kamu Jamilla Ryker Van Hallen 'kan?”
“Loh, Kok tau nama lengkapku?” Jamila memiringkan kepalanya, menatap Bilal serius sambil mengemut permen tangkainya.
“Karena kau istriku, setelah kita dewasa, aku akan melamar mu dengan bismillah.”
“Atas restu Allah ku ingin milikimu...
ku berharap kau menjadi yang terakhir untukku...
restu Allah ku mencintai dirimu...
“Suaramu bagus!” puji Jamila.
Greb! Telinga Bilal di jewer oleh Rukhsa. “Oh, ini rupanya anak kecil yang mengaku menjadi suami anak ustadzah ya? Apa PR sudah selesai? Sudah hafal juz 9?”
“Hm-- Ustadzah-” Bilal mengelus telinganya yang dijewer.
Rukhsa menggelengkan kepalanya, anak zaman now, nyanyi yang didengar nyanyi cinta, bukan nyanyi anak-anak sesuai usianya. Jadinya, sudah pandai mengatakan kupinang dengan bismillah.
“Memangnya kamu tahu apa itu pinang? Dan apa itu menikah?” Rukhsa menatap Bilal yang tengah menunduk.
__ADS_1
“Pinang itu buah pinang Bu, bisa dijual dan dapat uang. Kalau menikah itu hidup bersama dalam suka dan duka. Jika aku punya permen, aku berikan istriku juga permen, jika aku punya layang-layang, aku juga akan memberikan padanya jika dia suka, kalau aku bermain, aku akan mengajak dia bermain.”
“Lalu?” Rukhsa berkacak pinggang. Suami Rukhsa yang tadi tidak terlalu memperhatikan, kini tengah menutup mulutnya agar tidak tertawa keras dan tetap terkesan berwibawa.
“Sekarang kamu pulang, tanya pada ibumu apa itu menikah, apakah boleh anak kecil mengatakan menikah?” Intonasi bicara Rukhsa sedikit menghardik.
“Ibuku berkata boleh menikah, yang tidak boleh 'kan pacaran Ustadzah, waktu itu Ustadzah juga bilang pada Kak Nisa dan Bang Revan yang mengobrol berduaan di sungai, gak boleh pacaran. Oleh karena itu, aku mengajak Jamila bicara saat dia duduk bersama ustadz,” tutur Bilal.
Rukhsa terperangah mendengar penuturannya. “Ok, Bilal. Sekarang berapa umurmu?”
“11 tahun Ustadzah, tahun besok aku sudah tamat SD dan akan masuk MTS atau pesantren di Pariaman.”
Rukhsa duduk di samping Bilal, mengelus rambut ikal anak itu. “Umur 11 tahun itu belum boleh mengatakan nikah, pinang, dan istri seperti itu secara gampang. Seseorang saja membuat KTP saat mereka umur 17 tahun, jadi perkataan menikah itu hanya boleh dikatakan oleh anak berumur 17 tahun. Menikah itu bukan hanya sekedar makan permen dan main layang-layang, tetapi ada tanggung jawab yang besar.”
“Kamu lihat Ibu dan ayahmu bekerja setiap hari dari pagi sampai petang 'kan?” tanya Rukhsa dan Bilal pun mengangguk mengiyakan.
“Itu adalah bentuk tanggungjawab dari menikah. Mereka harus bekerja untuk menafkahi diri mereka sendiri dan anak-anak, membelikan pakaian, makanan, dan semua perlengkapan penting, menyekolahkan anak-anak, tentu saja masih banyak hal lain juga.”
“Jadi, jangan katakan hal seperti itu lagi ya, nah, sekarang kamu dan Jamila hanya boleh kata teman, ok?”
“Ayo, ucapkan, teman!” pinta Rukhsa.
Bilal mengulurkan jari kelingkingnya kehadapan Jamila. “Kita berteman!” ucapnya.
Jamila melihat ke arah Rukhsa, melihat anggukan kepala dari Rukhsa, Jamila mengaitkan jari kelingking mereka. Saat jari kelingking itu bertaut, Bilal berkata;
“Setelah umurku 17 tahun, aku akan melamarmu dengan bismillah!”
__ADS_1
“Hadeeeeeh!” Rukhsa menepuk jidatnya sendiri.
Suami Rukhsa menutup mulutnya dengan buku bacaan, sambil memegangi perut, sedangkan Jamila hanya terbengong sambil mengedipkan matanya lucu.