Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Akan Menggantinya


__ADS_3

Empat manusia itu menelan salivanya kasar dan saling pandang.


“Hm, i-it-tu ... maaf, rumah itu ... sudah saya jual.” jawab Hanum gugup.


“Loh, kok bisa dijual? Rumah itu 'kan atas nama Mom saya?” Arsen menatap Hanum tajam.


“Tapi, almarhumah Ibu Kinah sudah menandatangani surat rumah itu.” jawabnya lagi.


“Hahahahhaa!” Arsen tergelak. Menoleh ke arah Andrean. “Pa, apa menurutmu rumah itu sudah sah dijual belikan? Papa masih jago dengan hukum jual belikan?” tanya Arsen dengan senyuman anehnya menatap Andrean.


“Hm...,” Andrean mengelus tengkuk belakangnya dengan tersenyum kecil. “Kalau di Belanda, Papa sangat ahli, mulai dari pengacara, polisi, semua nya bisa Papa hadapi. Akan tetapi, ini di Indonesia, desa kelahiran Mom mu. Apakah Papa bisa bertanya pada kawan Papa yang ada di Indonesia. Jendral Sigiran?”


Pak Agus dan Buyung Galeme semakin bergetar lututnya, ia menelan salivanya. Siapa yang tidak tahu dengan Jendral Sigiran itu, mulai dari pelosok hingga kota.


“Ia penegak hukum, seharusnya tahu hukum di Indonesia 'kan? Ah, atau bagaimana kalau Papa hubungi saja ... pengacara Hotman Paris? Bagaimana menurutmu, Na-?” lnjut Andrean.


“Ah, Pak Andrean. I-it-tu bisa kita usahakan, tenang saja, saya dan istri saya akan segera mengembalikan rumah itu.” potong Buyung Galeme cemas. Ia mendelik tajam pada Hanum.


“I-iya, Pak Andrean. Saya dan istri saya akan segera membuatkan gerobak jualan untuk Rukhsa, dua kali lebih bagus dari gerobak yang dulu.” sambung Pak Agus.


Andrean mengetuk-ngetuk tangan sofa, melirik Arsen dengan senyuman penuh arti. “Saya sih, terserah putra sulung saya. Dia yang akan memutuskan semuanya.” ujarnya masih dengan bibir tersenyum.


“Kalau Paman dan Tante semua bersedia tentu saja saya sangat senang, tetapi namanya tata krama harus ada 'kan? Yang bersalah harus meminta maaf dan mengakui kesalahannya. Masalah ini dibawa ke balai adat, rumah bagonjong, tentu saja kita harus menyelesaikan dan saling maaf-maafan di sana, di saksikan warga dan Pak RT.” jelas Arsen.


“Iya, tentu.” jawab Agus dan Buyung Galeme, sedangkan dua istrinya menatap sengit, tak suka, mengembalikan rumah dan gerobak jualan, bukankah itu uang keluar? Mereka jengkel sekali.


“Kalau begitu, kapan surat rumah Mom kembali, gerobaknya sudah selesai, Papa akan mencabut perintahnya.” Arsen berdiri. “Ayo, Mom, ceritakan tentang danau Maninjau dan Bujang Sambilan yang melegenda itu. Aku penasaran!” seru Arsen menarik tangan Sakinah.


Sakinah ragu, ia menatap Pak RT dan Andrean. “Sana, temani anak-anak, biar aku yang menemani tamu mengobrol.” ucap Andrean, seolah tau apa yang dipikirkan istrinya.


Sakinah mengangguk, meminta izin pergi pada Pak RT dan semua tamu yang tampak beranekaragam reaksi wajahnya.


Sakinah dan Sikembar sudah tiduran di ruang televisi kembali. “Ayo, cerita lagi, Mom.”


“Nih, Arhen dan Ardhen lagi nonton.” tunjuk Sakinah.


“Kami bisa matikan, kok, televisinya Mom. Ayo, cerita lagi, kami penasaran.” Arhen langsung mematikan televisi. Mereka sudah mendengar beberapa cerita rakyat, mulai cerita dari sungai musi, sungai jodoh, danau Toba, danau atas bawah, Puti Ranti, dan lainnya. Kini, mereka ingin mendengar cerita danau Maninjau.

__ADS_1


“Besok kita akan pergi ke danau Maninjau, jadi kita harus tau dulu ceritanya.”


“Eh, tapi lebih enak ke kebun teh loh, di Solok, atau mandi dipemandian Alahan Panjang?” sambung Arhen.


Pletak! Arsen menjitak kepala dua adik kembarnya. “Kalian hanya mikir jalan-jalan dan makan aja, ujungnya pasti itu! Cerita ini kita dengar, untuk nambah ilmu, petik kebaikan dalam ceritanya.” ucap Arsen dengan tatapan tajam.


“Mom, lihat Abang....” rengek Arhen, Ardhen juga ikutan memeluk Sakinah yang dipeluk Arhen.


“Sudah, jangan bertengkar, Mom akan cerita.” Sakinah mengelus kepala Arhen dan Ardhen lembut, lalu mengelus Arsen juga.


~~


Shaleh Yusuf kembali ke tempat Billa berkunjung, ia membawa hadiah untuk kehamilan Billa.


“Shaleh.” ucap Shaleh mengulurkan tangan.


“Jimi.” Jimi menyambut uluran tangan Shaleh. Ada rasa cemburu yang bersemayam di hati Jimi saat menatap pria dihadapannya.


Tatapan mata Shaleh yang lembut penuh perhatian. ‘Apakah pria ini suka pada istriku?’ Itulah ucapan pertama yang ia bisikkan dihatinya.


“Kakak datang terlambat loh, beberapa hari yang lalu, Sakinah sekeluarga dari rumahku. Aku lupa juga mengabari Kakak. Hm....” ucap Billa menggantung kalimatnya sambil memakan buah pisang.


“Enggak, dia di kampung. Mungkin cukup lama, selama anak-anak liburan sekolah.” jawab Billa.


“Oh...” Wajah Shaleh tampak tersenyum cerah. Jimi terus menatapnya sejak tadi. Tak banyak bicara, hanya menyahut sepatah dua patah kata, selebihnya menjadi pendengar yang baik.


‘Apa karena Billa hamil, ya? Aku jadi sensitif, gampang curiga dan cemburu gak jelas. Pria ini memang memiliki sifat baik dan ramah, bukan hanya pada istriku, tetapi juga pada Sakinah.’ gumam Jimi lagi.


“Semoga kamu suka, ya, sama hadiah sederhananya. Aku harus pergi dulu, ada keperluan.” pamit Shaleh setelah berbincang-bincang dengan Billa dan Jimi.


“Ya, Kak. Hati-hati.” balas Billa bersalaman dengan Shaleh. Lalu, pria itu juga bersalaman dengan Jimi, dan berlalu pergi dari rumah Billa.


Disepanjang jalan, ia melihat tiket online, langsung memesannya untuk pulang besok. Ia ingin bertemu Sakinah sekeluarga. Semenjak ia bertamu ke rumah Billa waktu itu, ia tak berharap lagi hidup di Batam. Kini, alasan itu cukup kuat untuk ia pulang kampung.



__ADS_1


Sakinah telah selesai menceritakan kisah sad ending dari cerita rakyat Danau Maninjau. Arhen dan Ardhen menangis mendengar cerita itu.



“Apa sih yang kalian tangis 'kan? Akhirnya, sembilan kakaknya dikutuk jadi ikan. Itu 'kan akhiran bahagia, gak sia-sia adik bungsu dan kekasihnya itu mati melompat.” Arsen memarahi sikembar Arhen dan Ardhen. ya, begitulah pikiran anak-anak laki-laki sulung Sakinah itu.



“Abang kejam banget sih! Sedih tau! Mereka cuma salah paham gara-gara kakak ke-duanya. Adiknya cuma digigit lintah padahal, huhuhuhu.” jawab Arhen menangis.



Sakinah tersenyum, mengecup pipi ketiga putranya. “Nah, dari cerita rakyat itu, apa yang bisa kita petik pelajarannya?” tanya Sakinah.



“Gak boleh pacaran, gak boleh jumpa berdua-duaan, apalagi disemak dengan orang yang bukan mahram, supaya nanti gak dihukum.” jawab Ardhen. “untung saja kita hidup gak di zaman dewa seperti zaman dulu lagi.” lanjutnya.



“Untung saja, kalau gak, kalian pasti sudah jadi Adikundang.” sahut Arsen.



“Apa itu Adikundang?” tanya Arhen dan Ardhen.



“Malinkundang untuk anak yang melawan pada ibu. Kalian 'kan sering melawan padaku.” sahutnya menyedekapkan kedua tangannya di dada, membuat dua adik kembarnya mendengus.



Sakinah hanya tersenyum kecil mendengar mereka. “Ya udah, masih mau denger lagi cerita rakyatnya?” tanya Sakinah.



“Iya.” sahut mereka bertiga bersemangat.

__ADS_1



“Tapi, lanjutkan lagi dong pijit Mom.” Sakinah tersenyum lembut.


__ADS_2