
Bab Keras! Anjuran untuk 21+ Adegan tak bisa banyak di skip karena proses cerita membutuhkan adegan itu, bukan bermaksud vulgar apalagi mencuci otak😁 Banyak-banyak istighfar pas baca, ya. Upz, jangan lupa, tentu bacaan seperti ini di baca selesai berbuka puasa ya, agar pikirannya masih jernih😁😁🙏
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Arhen kembali ke hotel tengah malam. Aini menyambut Arhen dengan baik.
“Kamu belum tidur, Nur?” tanya Arhen saat ia telah membuka pintu kamar hotel dengan kartu.
“Iya, aku masih menonton,” jawab Aini.
“Ooh!” Arhen langsung membuka jacket dan pakaiannya yang lain, Aini telah berdiri di dekatnya.
“Ada yang bisa saya bantu?”
“Tidak ada, aku hanya ingin mandi air hangat saja!” Arhen pun langsung mandi dengan air hangat, kemudian memilih merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
“Mau aku pijit?” tanya Aini.
“Baiklah!” jawab Arhen. Aini pun memijit Arhen.
“Kamu ngapain dan kemana sehari ini?” tanya Arhen.
“Tidak kemana-mana, hanya di kamar saja,” sahut Aini dengan memijit kaki Arhen.
“Kau tidak bosan di dalam kamar? Kartu kemarin bisa kamu gunakan untuk membeli barang-barang yang kau inginkan.”
“Aku tidak ingin apa-apa, semua sudah disiapkan dan diantarkan oleh pelayan hotel. Pemandangan di kamar bagus, kasurnya empuk, ada televisi dan WiFi, jadi aku tidak merasa bosan,” terang Aini.
Kedua kaki Arhen telah dipijit, kemudian berpindah pada tangan. Saat Aini memijat tangan, tatapan Arhen tak sengaja menatap dada Aini di sebalik belahan bajunya yang di desain cukup seksi.
“Hm, apa kamu tidak ingin membeli pakaian baru atau apalah gitu?” Arhen mencoba mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
“Tidak, Lucas menyediakan banyak pakaian di dalam lemari, kainnya terasa dingin dan enak di pakai.”
“Ooh!” Arhen tak bisa konsentrasi, apalagi saat dada itu bergerak sesuai dengan gerakan tubuh Aini yang memijit tangannya. Entah Arhen yang sedang eror, atau cuaca tengah malam yang dingin. Arhen merasakan getaran aneh dari dalam tubuhnya.
“Ekhem, apa ... kamu menginginkan tubuhku? Em, maksudnya, apa kau tertarik denganku?” Arhen bertanya hati-hati, khawatir jika istrinya masih khawatir atau trauma atas kelakuannya yang buruk.
Aini tampak diam, bahkan tangannya juga berhenti memijit. “Maaf, kamu gak tertarik ya!” tanya Arhen lagi.
“Kalau kamu tertarik tidak padaku?” Aini malah bertanya balik.
Terbesit senyuman kecil yang tersungging di sudut bibir Arhen. Sejak tadi, iblis tak sia-sia menggodanya, mau cinta atau tidak cinta, berduaan dengan kaum hawa dengan pakaian setengah seksi, apalagi wanita itu istrinya yang halal disentuh, pikirannya mulai berkelana.
“Kalau aku bilang aku mau melakukan hubungan suami istri denganmu malam ini, apa kamu mau?” Arhen bertanya kembali.
“Iya, aku mau. Berdosa jika aku menolaknya.”
Arhen terdiam sejenak. Benar, mereka telah menikah, melakukan hubungan badan itu adalah ibadah. Kemudian, Arhen duduk, merengkuh wajah Aini dan menge*cup bibirnya sekilas, pindah ke dua pipinya, dan kembali mencium bibirnya.
Ciuman yang awalnya masih kaku, kini terbawa suasana, mereka berdua menjadi pandai dan lihai secara otodidak setelah praktek. Memakai insting sebagai lelaki dan ilmu edukasi *** yang pernah dia pelajari melalui teori, Arhen menyentuh Aini lembut, meraba dan mencium seluruh tubuhnya, terkhusus area-area sensitif yang membangkitkan perasaan berdebar.
Dia mulai mengusir pikiran tentang Aini kecil, melanjutkan mencium dada Aini sambil meramas. Tidak hanya sampai di situ, tangannya mulai menjelajah ke area bawah dan membuka pakaian bawah Aini juga.
Keadaan Aini sudah polos, kedua tangannya tergeletak di samping kepalanya, meremas seprai. Arhen masih menyentuh tubuhnya, memberikan ciuman, lalu berhenti sejenak saat melihat pangkal paha Aini ada bekas luka, sedikit lagi hampir mengenai area sensitifnya.
Arhen menyentuh bekas luka itu, memastikan luka itu sudah sembuh dan kering. Kemudian melihat raut wajah Aini. Setelahnya, Arhen mencoba membuka seluruh pakaiannya sendiri hingga polos.
Miliknya telah mengeras seperti tiang listrik yang memiliki tegangan tinggi, keras, dan bahaya.
Dia menyodorkan miliknya di area sensitif Aini sambil menggesek pelan dan mencoba memasukkan. Keningnya berkerut, karena area milik istrinya itu sudah sangat becek dan siap di tanami bibit, tetapi tiang listriknya masih belum bisa masuk.
Arhen menekan dengan kuat, Uh, baru sedikit, bisa dikatakan lebih dipaksakan, tampak lutut Aini sedikit bergetar, ia memejamkan mata dengan menggigit bibirnya sendiri.
__ADS_1
Arhen mulai berkeringat, berhenti tidak mungkin, kepalanya sudah berat, ini sudah terlanjur, ia tak bisa menghentikan aktivitas yang mendebarkan ini. Dia sangat ingin merasakannya.
Sekali lagi, Arhen memberikan dorongan yang lebih kuat memakai tenaga penuh, lebih memaksa dan terasa kasar. Namun, apa yang terjadi? Tiang listriknya masih tersangkut di dalam ruang gelap, belum siap di terangi dengan cahaya, gua milik istrinya itu.
Masih separoh jalan...
Sekali lagi lebih kuat dan ... “Aaakh!” Aini yang sejak tadi tak bersuara, malah terpekik, Arhen menoleh padanya, tampaknya, istrinya itu kesakitan.
‘Aku benar-benar buruk, bagaimana rasa sakit yang ia derita saat aku memperkosa dia waktu itu, ya? Sedangkan dalam keadaan sadar dan mau, dia aja kesakitan? Aku sudah sangat bersalah padanya,’ Arhen masih sempat berpikir dan merasa bersalah. Akan tetapi, tidak dengan hati dan tubuhnya yang serasa ingin meledak akan luapan surga dunia ini.
Tak peduli seperti apa Aini meringis, tubuhnya telah bermain maju mundur. Hingga Aini membuat gerakan tiba-tiba, dia setengah duduk dengan bertumpu satu tangan di ranjang, satu tangan merangkuh tengkuk Arhen, lalu menge*cup bibir Arhen menggila, suaranya menjadi terdengar aneh, mende*sah tak karuan, membuat Arhen yang mendengar pun tak lagi waras, mabuk dalam surga dunia itu.
“Arhen!”
“Arhen!” Suara-suara Aini memanggilnya penuh perasaan, membuat Arhen melayang. “Arhen aku mencintaimu,” bisik Aini dan mengecup bawah daun telinga Arhen, membuat tenaga pemuda tampan itu semakin bertambah kuat.
Mereka berdua menghabiskan malam dengan malam panas yang mendebarkan.
***
Arhen terbangun jam 5 subuh, saat adzan berkumandang, sikembar memang terbiasa bangun subuh sejak kecil, jadi tubuh Arhen refleks terbangun.
“Indonesia memang negara yang selalu aku rindukan!” Arhen senang mendengar adzan. Di Belanda tidak sebebas di Indonesia untuk melakukan adzan.
Bukan karena mendengar adzan saja sebenarnya, tetapi karena ia mendapatkan pelayanan yang menyenangkan tadi malam dari istrinya, sehingga ia begitu senang.
“Nur, bangunlah, apa kamu ingin sholat bareng denganku?” Arhen membangunkan Aini dengan mengelus bahunya yang tidur memunggung.
“Hm.” Terdengar gumaman dari mulut Aini.
Arhen meraih cel*ana da*lamnya dan memakainya di atas tempat tidur. Kemudian, hendak beranjak mengambil handuk dan mandi, tetapi saat ia beranjak, seprai putih di tengah-tengah posisi mereka tadi malam berbaring, ada bercak merah.
__ADS_1
Arhen mengangkat seprai, sampai noda merah itu tampak keseluruhan. ‘Darah?’ Arhen terpaku.
...----------------...