Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Haizum


__ADS_3

“Hah? Hanya karena Kak Arhen mengatakan dia menyukai Rufia, kau lemas begitu?” Cleo mendesah.


“Tentu saja! Kak Arhen itu tampan, kaya, dia sangat keren, dan ... aku mengidolakan dia!” gumam Abraham.


“Aku paham! Kau dan aku kan sama-sama mengidolakan Kak Arhen sejak dulu!” Cleo menepuk-nepuk punggung Arhen.


Mereka berdua memang mengidolakan Arhen sejak dulu, bahkan sering menitipkan tanda tangan dari Arhen pada Ardhen. “Namun Ham, masalah hati dan perasaan, kita gak bisa menyangkutkannya dengan idola, walau kau memajang foto kak Arhen di kamarmu, tetap saja kau harus berjuang dengan hatimu!”


Cleo merapikan anak rambutnya, lalu merogoh hp dari kantong. “Aku tak yakin Kak Arhen suka dengan Rufia seperti kau menyukainya, Kak Arhen itu Casanova, tiap minggu ganti pacar!” terang Cleo.


“Ya, aku tahu itu Cleo. Akan tetapi, pandangan mata Kak Arhen pada Rufia itu berbeda, dia menatap Rufia penuh dengan minat, dia lebih ramah dan lembut, berbeda dengan cara dia bersikap pada wanita lain,” jelas Abraham sambil menghela nafas panjang.


“Baiklah, kalau kau berpikir seperti itu! Sekarang, kita hanya perlu perasaan Rufia, jika dia lebih nyaman dan cocok denganmu bagaimana? Kamu jangan insecure duluan, hanya karena Kak Arhen artis idolamu!”


**


Arhen dan Arsen tangah duduk santai di bawah pondok di tepi pantai, mereka berdua baru saja sampai. Xander Pim dan Lucas juga memilih duduk di pondok lain di sebelah pondok yang di duduki dua pemuda kembar itu.


Tak lama, pelayan pantai yang dipesan private oleh Arsen itu datang membawa nampan dengan buah kelapa muda diatasnya.


“Silahkan, Tuan!” Pelayan itu mempersilahkan, kemudian ia bersiap untuk membakar makanan seafood untuk empat pria yang bertamu secara spesial sekarang di sini.


“Bukankah waktu itu kau berkata bisa menaklukan dengan mudah wanita itu?” Arsen mulai membuka tutup kelapa muda yang telah dibuka, lalu memegangi sedotan dan menyedot air kelapa muda yang manis dan menyegarkan itu.


“Ya, ku sudah menaklukkannya bukan? Masalahnya semakin merepotkan setelah menaklukkannya.” Arhen pun juga ikut membuka tutup kelapa muda itu dan mulia menyedot air kelapa muda.


“Tapi, tadi kau berkata ia mendekati Ardhen juga?” Arsen menoleh menatap Arhen.


“Menurutku sih, dia suka menanyakan Ardhen padaku, dia tampak berbinar jika aku mulai menjawab tentang Ardhen. Aku jadi ilfeel! Masa dia awalnya suka Abang, terus aku, dan baru-baru ini mulai tertarik pada Ardhen, bukankah itu namanya serakah? Terlalu percaya diri, sok kecantikan!”


“Bukankah kau berkata waktu itu dia cantik?”


“Ih, Abang! Maksudku, dia memang cantik, tapi beda lgi dengan sok kecantikan, Bang!” Arhen mulai geram.

__ADS_1


“Hm,” sahut Arsen hanya berdehem, kemudian menghidupkan laptopnya.


“Filmmu yang ini beberapa saat lagi selesaikan? Ap kau tertarik dengan sesuatu lagi?” Arsen bertanya.


“Aku ingin istirahat dulu setelah ini, aku ingin pulang ke Indonesia.”


Arsen menatap Arhen lama dengan diam, lalu berkata, “Baiklah kalau begitu, aku akan berbicara dengan Papa, kita sudah lama tak pulang kampung, terakhir kita pulang saat BI Rukhsa menikah. Aku juga ingin berkunjung ke pusara Kakek....”


***


Rufia masih sibuk dengan kegiatan dan aktivitasnya, ia bekerja dengan giat dan sungguh-sungguh. Di sebelahnya adalah meja kasir, dulunya sebelum Vend Boutique diperluas dan diperlebar, meja resepsionis dan kasir hanya satu, kini mejanya terpisah.


“Haizum, tolong jaga sebentar ya, aku hendak ke toilet!” ujar Rufia terburu-buru, karena ia sangat terdesak ingin buang air kecil. Lalu, lngsung berlari ke belakang.


“Ok!” sahut Haizum terkekeh kecil melihat Rufia berlari.


Tak lama, Ardhen datang sendirian, ia mendekat ke arah Haizum sambil membuka jas nya, melepaskan dasi dan membuka kancing atas kemejanya.


“Apakah Anda butuh air minum, Tuan Muda?” tanya Haizum dengan wajah bersemu merah.


Haizum mengambil air minum digalon di dekat meja resepsionis tempat Rufia.


“Ini Tuan!” Haizum memberikan air minum. Ardhen mengambilnya dan lngsung meneguknya sampai habis.


“Rufia mana?” tanya Ardhen memberikan gelas kosong pada Haizum.


“Ke belakang sebentar Tuan, dia hendak ke kamar kecil.”


“Oh. Oh ya, coba tunjukkan pembukuan dan buku barang!” pinta Ardhen.


“Hm, baik, Tuan!” Haizum segera menunjukkan data di komputer di mejanya, serta beberapa buku di pembukuan yang sudah ia catat.


Ardhen melihat komputer itu sebenertar, kemudian tangannya meraih pembukuan. Cukup lama ia duduk di sana, membuat jantung Haizum berdetak tak karuan.

__ADS_1


Atasannya yang tampan, pintar, baik, ramah, membuat Haizum terpesona sejak ia bekerja di sini.


Haizum masih berusia 17 tahun, ia telah bekerja di sini selama dua tahun, ia belum menamatkan sekolahnya, lebih teptnya ia berhenti sekolah karena kehidupannya yang susah, hingga Tuan Samber membawanya kemari bekerja, karena dia jujur dan cekatan, i diletakkan dibagian kasir. Kini, ia mengambil pelajaran privat agar mendapatkan ijazah sekolah menengah atas.


“Farfummu sangat wangi!” ucap Haizum keceplosan, ia segera menutup mulutnya. Ardhen melirik dengan ekor matanya sedikit.


“Kau bicara padaku?” tanya Ardhen masih dengan mata fokus pada pembukuan.


“Ah, i-itu, farfum Tuan Muda harum dan cocok dengan Anda!” Haizum menjawab dengan gugup.


“Oh, iya, aku memesannya pada Frans sepupuku di Amerika. Kau suka? Aku akan meminta dia mengirimkan farfum untuk wanita. Ku suka aroma tajam, lembut tau segar?” tanya Ardhen dengan wajah datar.


“Tidak usah Tuan Muda. Farfum itu cocok dengan Anda, mungkin belum tentu cocok denganku!” jawab Haizum.


“Oh! Ya sudah!”


Tak lama Rufia akhirnya datang, ia mencuri-curi pandang melihat Ardhen yang sibuk melihat buku di dekat Haizum.


“Aku akan membawa pembukuan ini dulu, aku ingin mempelajarinya, katakanlah pada Paman Samber nanti, jika dia datang!” ucap Ardhen, ia langsung berdiri dan berjalan pergi dengan santai tanpa menghiraukan senyuman indah yang ditebarkan oleh Rufia dan Haizum padanya.


“Hai, apa Ardhen sejak tadi datang?” tanya Rufia berbisik pada Haizum.


“Iya!” jawab Haizum dengan mengangguk.


Rufia masih menatap pintu di mna Ardhen menghilang tadi. Ia ingin melihat Ardhen lebih lama lagi.


“Eh, Kak Fia! Ap kau menunggu Tuan Abraham datang? Sejak tadi melihat pintu terus?” tanya Haizum menggoda dengan setengah berbisik.


“Apaan sih! Enggak kok!”


“Hayoo, ngaku aja Kak, gak usah malu, aku gak ember kok! Lagian, Tuan Abraham terlihat menyukai Kakak juga!”


“Berisik! Aku dan dia hanya berteman Zum!”

__ADS_1


“Ya, ya, ya! Temen bisa jadi demen loh Kak, heheheh!” Haizum terkekeh.


Ardhen telah sampai di rumah belakang, ia telah mempraktekkan membuat beberapa kripik, ia sedang menghitung barang-barang, untung dan rugi.


__ADS_2