Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Melawan


__ADS_3

Arsen akhirnya menuju titik koordinat di mana Papa pertama dan Papa keduanya berada untuk menolong Ibu dan adik-adiknya. Bukan hanya itu, dia juga sudah mengabari Vindo. Meninggalkan pesan di email Arhen dan Ardhen, berharap kedua adiknya akan segera membaca.


Arsen bergerak perlahan, penuh perhitungan. Darahnya mendidih saat melihat Ibunya tergantung, adik-adiknya terikat, kelompok Papa Pertama dan Papa keduanya terjebak ditengah yang ditembaki banyak orang dengan jebakan cahaya infrared.


Saat Arsen datang, dia disambut dengan beberapa orang, adu tembakan pun juga terjadi. Arsen melemparkan permen ajaib yang harganya satu biji 20 juta, senjata andalannya.


Duarr! Mereka mati seketika karena ledakan itu.


“Hahaha! Aku senang kau datang lebih cepat dari perkiraan ku. Aku sudah menunggumu!” Semua orang diam mendengar ucapan yang kembali tersiar dari toa.


Lalu, tiba-tiba sebuah kotak kayu yang tampak sempit, berisikan Roselia dan Hans, hanya kepala mereka berdua yang terlihat dari kotak itu. Kemudian, tali berkarat yang melintang di penggantungan tiang yang mengikat Sakinah bergerak berlawanan karena di pandu dengan mesin oleh seseorang yang entah berada dimana.


Tiang itu menjadi lebih dekat ke arah kotak kayu yang berisi Roselia dengan jarak 5 meter.


Posisi Sakinah dan Roselia sama-sama bahaya, di ketinggian yang sama, hanya berjarak 5 meter mereka. Arsen menatap ke arah mereka tak berkedip.


“Aku punya pilihan untukmu, kau bisa memilih dia atau wanita yang melahirkanmu, aku berjanji membebaskan mereka salah satunya. Satu gerakan maju ke depan, satu tembakan untuk orang yang tidak kau pilih, bagaimana?”


“Jangan dengarkan Tuan Muda, dia manusia penipu!” teriak Hans. “Aaaaahh!” Kotak itu jadi tergoyang dan terhenyak turun ke bawah lalu naik ke atas kembali.


“Kau suka yang mana? Aku memberikan kamu waktu 5 detik untuk terus melangkah, satu langkah satu tembakan untuk orang yang tidak kau pilih. Lalu--- juga satu tembakan untuk siapa saja, jika kau menghentikan langkahmu.”


Mendengar penjelasan itu, Andrean berteriak pada Arsen. “Papa percayakan padamu, Papa akan menolong Princes dan lainnya bersama Papa kedua!”


Ya, Andrean juga tidak bisa menjangkau keberadaan Sakinah yang jauh, cahaya infrared ditambah tembakan setiap mereka bergerak dari bawahan Johan. Mereka seolah sedang dalam permainan game nyawa.


***

__ADS_1


Beberapa saat yang lalu.


Roselia dan Hans berniat kabur dari ruangan gelap itu. Hans menjolang tubuh Roselia, untuk melihat lokasi luar dari cahaya yang masuk dari lubang ruangan itu.


Tangan mereka berdua masih terikat, tetapi kaki mereka tidak. Dengan susah payah, Roselia naik dan turun dari pundak Hans.


“Bagaimana?” tanya Hans.


“Hutan. Sepertinya kita berada ditengah hutan yang tidak berpenghuni, kita harus memiliki kekuatan agar lepas dari hutan,” jawab Roselia.


“Kalau begitu kita harus menyusun rencana Dik! Kakak yakin, Tuan Muda akan menolong kita. Lihat, koordinat jam tangan Kakak.” Hans memamerkan pada Roselia.


“Jam? Bukannya kancing baju Kakak?” tanya Roselia memiringkan kepalanya.


“Kok--Kok kamu tahu?” Hans menatap Roselia curiga.


Mereka berdua pun membuat rencana.


Malam hari, mereka bisa melepaskan borgol ditangan mereka, mereka bisa keluar dengan mencongkel kunci menggunakan kunci kecil serba guna yang di letakkan di dalam mesin jam tangan Hans.


Saat mereka berdua sampai di luar dengan berbagai rintangan yang sangat hati-hati di lalui dari tadi. Nyatanya, Johan tersenyum dengan seringai jahat, dia langsung menarik rambut Roselia, hingga gadis manis itu beringsut mundur.


Roselia merasakan tubuhnya diangkat karena dia pingsan. Saat dia tersadar, dia sudah berada dalam kotak kayu yang dipakai bersama kakak laki-lakinya, Hans. Mereka berdua di naikkan ke sebuah perahu, lalu ditarik ke atas helikopter.


Helikopter berhenti di sebuah bangunan yang terbengkalai, mereka diikat dan ditutupi dengan tirai berwarna hitam gelap. Dia mendengar percakapan buruk, rencana yang sangat jahat.


“Ini semua jebakan! Tidak, aku mohon jangan datang, pada akhirnya kami juga akan mati,” ringis Roselia dalam hati khawatir akan rencana yang dia dengar.

__ADS_1


Saat kotak di buka, Roselia melawan dan meludahi bawahan Johan. “Cewek Sialaaan!” Bawahan itu menjambak rambut Roselia dengan kasar. Hans berteriak dan memberontak.


Plak! Bugh! Plak! Bugh! Roselia ditampar, sedangkan Hans di tinju perutnya.


Roselia tetap kembali berdiri, memberikan perlawanan walau tangannya diikat, tetapi kakinya tidak, sehingga dia menendang senjata pusaka leluhur para bawahan Johan.


Cetak! Satu kali lagi, Roselia masih saja menendang. “Sialaan!” Plak.


“Aaach!” Roselia tersungkur ke bawah, pipinya sudah memar dan bengkak, bahkan sudut bibirnya berdarah. Dia melihat tangannya yang mulai di lumuri darah segar karena semalam dilukai oleh Johan. Dengan tubuh masih bergetar, air matanya mulai menetes, dia berharap keselamatan untuk Arsen dan Kakak laki-lakinya.


“Jika harus mati, setidaknya aku akan memberikan perlawanan, walau hanya dengan menendang, aku tidak akan mati diam!” gumam Roselia.


“Ros!” Pekik Hans, dia melawan dan memukul kerumunan orang itu. Sebenarnya perlawanan Hans dan Roselia adalah sesuatu yang sia-sia. Mereka hanya manusia lemah yang tidak terlatih melawan kelompok orang yang sudah terlatih dengan otot besar seperti itu.


Hans hanya seorang asisten yang mengandalkan bodyguard dan tenaga orang lain, karena yang dia miliki hanya kuasa jabatan dan kepintaran otak. Sedangkan Roselia juga sama, hidup sederhana, dengan kepintaran yang tak jauh beda dengan Hans. Selama ini juga selalu dilindungi Arsen diam-diam.


Hans di pukul sampai ia tersungkur, dia merangkak sambil di pukul, saat sampai dekat, dia langsung memeluk Roselia dan memegang tangan adiknya sambil menangis.


“R-ros, ba-bangun!” ucapnya lemah. Bruk! Dia pun juga ikut pingsan bersama Roselia yang telah lebih dulu pingsan.


Setelah itu, para bawahan Johan memasukkan mereka berdua ke dalam kotak kayu, mengeluarkan kepala mereka berdua, sedangkan badannya diikat di dalam kotak itu dengan rantai. Kemudian, kotak itu diikat dan di gantung di atas.


•••


Seperti sekaranglah posisi mereka. Saat Roselia dan Hans sadar dia sudah tergantung dan mendengar suara tembakan. Matanya terbelalak melihat Sakinah terikat di hadapannya.


Arsen muncul, Roselia meneteskan air matanya. Jika waktu bisa diputar, saat Arsen mengatakan ingin menikah dengannya, dia akan berkata YA dan memeluknya. Kini, apa semua ini, dia hanya menunggu kematian.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2