Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Pusara


__ADS_3

“Sudahlah, Sayang! Jangan marah-marah begitu, tidak baik, nanti kamu darah tinggi. Tolong redamkan amarahmu. Mereka masih muda, kamu harus mengerti. Sudah, ya.” Ibu Irfan mengelus dada Ayah Wizza.


Tatapan jijik penuh kebencian yang ditunjukkan Wizza sangat jelas. Ia sangat benci dengan wanita yang menggoda ayahnya itu. Ia langsung berdiri, tanpa ada rasa sopan sedikitpun, mengabaikan ucapan ayahnya dan membanting pintu kamarnya dengan kuat.


“Maaf, Yah...” lirih Irfan.


“Kamu memang anak baik, maaf ya, dia pasti yang memulai memukulmu 'kan?” Ayah Wizza mengelus rambut Irfan.


Irfan selalu menunjukkan sikap baiknya, membuat Wizza semakin benci dan jijik.


Hari-hari terus berlalu, hingga suatu malam, saat mengadakan pesta bersama, Roqa mabuk berat, Irfan yang mencintainya mengikutinya diam-diam dan mengantarnya ke penginapan. Sesampainya di sana, Roqa malah memagut dan mencumbuinya dengan liar, Irfan remaja yang sedang mabuk cinta dan memiliki keinginan kuat tak bisa menahan debaran di dadanya.


Berkali-kali ia mencoba mendorong dan menolak Roqa, akan tetapi cinta satu malam itupun terjadi jua di ranjang panas itu.


Kebencian Wizza semakin menjadi saat mengetahui fakta kalau kekasihnya tidur bersama Irfan, bahkan Roqa hamil.


“Bajingaan! Keparaat! Kau sama dengan Ibumu, murahaan!” makinya lantang.


Brug! “Bajingan kau Irfan! Brengseek!” Brugh! Wizza memukul Irfan. Pemuda yang dipukuli itu tak membalas sedikit pun. Ia hanya diam membisu menerima pukulan demi pukulan.


“Hentikan, Kak! Hentikan!” teriak Roqa. “Aku hamil, kami harus segera menikah, tolong jangan pukuli dia lagi.”


Begitulah akhirnya, Irfan menikah dengan Roqa.


••


Kedua pria tua itu, sama-sama menghela nafas berat kembali, setelah tersadar dari lamunan masing-masing.


“Kau ingin mendengar ceritaku, tentang kalung ini-” Belum juga selesai Wizza berbicara, Irfan langsung memotongnya.


“Tidak!” jawabnya tegas.


Wizza tersenyum kecil. “Rupanya kau masih cemburu padaku, ya, aku senang sekali.” Irfan mendelik mendengar itu.


“Aku akan tetap bercerita, walaupun kau tak ingin mendengarnya.” ucap Wizza. “kalung ini kuberikan pada Roqa saat kami pertama kali jadian, aku menembaknya dan dia menerimaku. Lalu, kami berciuman.” kenang Wizza yang membuat Irfan semakin jengkel dan tak ingin mendengarnya.

__ADS_1


“Akan tetapi, pada hari itu, dia mengembalikan kalung ini padaku.” Wizza menekuk wajahnya, menatap kalung yang ia pegang itu. Ada semburat kesedihan melintas di sana.


“Kematian Roqa bukan karena ia ingin hidup bersamaku, ingin menikah dan kabur bersamaku, bukan ... bukan itu....” Suara Wizza memelan.


“Dari awal, kau sudah menang Dik, hanya aku yang egois dan memaksa...” sambung Wizza lirih.


“Kematiannya bukan karena ia tak bahagia bersamamu. Tapi, karena ia terlalu senang saat menyadari kalau ia sangat mencintaimu.”


Deg! Jantung Irfan berdetak cepat.


“Apa maksud kakak, jangan bahas lagi tentang kematiannya. Aku tak ingin mendengar apapun lagi.”


“Aku tak ingin dihentikan siapapun lagi, sudah cukup selama ini aku diam, aku tak ingin menahannya lagi.” Wizza langsung memeluk Irfan.


•••


Roqa menyusui putranya, ia memberikan nama dengan Roque Van Denc, tak ingin memberikan nama embel Van Hallen diujung nama putranya. Ia masih meragu selama ini, namun ia baru menyadari sesuatu.


“Bi, tolong jaga dia, ya. Aku harus keluar dulu.” ucapnya meninggalkan pesan pada Baby Sister itu.


“Kak, mari kita bertemu di kafe biasa. Ada yang ingin aku katakan, penting.” Roqa menelfon Wizza.


Mereka bertemu di kafe yang sering mereka jumpai.


“Kak, maaf, aku tak bisa melanjutkan hubungan kita. Aku sudah memiliki anak dengannya dan kini aku menyadari, aku telah jatuh cinta padanya. Maaf, Kak.” ucap Roqa diinti pertemuan mereka.


“Kenapa, Roqa? Aku bisa menerima putramu, aku tak peduli. Kita telah lama berhubungan, aku bisa memahami kejadian dan kesalahan semalam itu.” tolak Wizza.


“Tidak bisa, Kak. Aku sudah menikah dengannya, lupakanlah aku!” tegas Roqa.


Wizza langsung berdiri, bersimpuh dan menggenggam tangan Roqa. “Tolong, jangan tinggalkan aku seperti ini...” lirihnya.


Irfan melihat kejadian itu dari jauh, hatinya terasa terkoyak-koyak. Yang ia pikir, bahwa Wizza melamar istrinya. Ia pernah mendengar telponan Roqa dan Wizza saat wanita itu tengah hamil besar saat itu, setelah melahirkan, mereka akan menikah dan segera mengurus surat perceraian dengannya.


Ia berbalik dan air mata mengalir di pipinya. Sakit, sungguh sakit melihat istri sendiri yang sangat dicintai memilih hidup dengan pria lain.

__ADS_1


Sedangkan kejadian sebenarnya, Roqa melepaskan pegangan tangan Wizza pelan, melepaskan kalung yang ia pakai. “Kak, maaf,” ucapnya. Kemudian memberikan kalung itu ke tangan Wizza.


“Tolong berikan pada wanita yang Kakak cintai nanti, ya. Semoga kakak segera bertemu penggantiku.” Perlahan, Roqa berdiri dan berjalan menjauh.


Irfan berjalan gontai menjauhi dan membelakangi kafe, memegang dadanya yang terasa sangat sakit. Sedangkan Wizza terduduk lemah karena ditinggalkan, hatinya benar-benar patah. Tak ada yang melihat ke arah Roqa seorang pun diantara mereka berdua.


Roqa berjalan lega dan tersenyum, ia hanya ingin segera bertemu dengan Irfan, lalu mengatakan isi hatinya.


Brak!!! Sebuah mobil menabrak tubuh seorang wanita dengan sangat keras. Suaranya membuat semua orang di sekitar sana terkejut, namun tidak membuat Irfan dan Wizza tersadar. Ya, wanita itu Roqa.


Roqa berharap dan menanti tangan suaminya akan datang, ia rindu sekali wajah cemas yang menitikkan air mata sambil mencium tangannya. Dimana kejadian itu saat ia melahirkan putranya ia rasakan.


Hingga ia dibopong ke rumah sakit. Ia mencengkram seseorang yang menolongnya. “Tolong berikan pada suamiku.” ucapnya lemah dengan suara parau. Lalu menghembus nafas terakhirnya.


•••


“Kau masih menyimpan mainan kalung itu 'kan?” tanya Wizza, ia masih memeluk Irfan sambil menangis.


Lutut Irfan bergetar, rasanya ia tak sanggup menopang tubuhnya, hingga ia memeluk erat Wizza.


Wizza menepuk-nepuk punggung Irfan. “Kau harus membukanya.” Wizza melepaskan pelukannya.


“Membuka apa?” tanya Irfan sambil menghapus air matanya.


“Jadi, kau tidak tahu, kalau mainan kalung itu adalah kunci?” balas Wizza yang juga bertanya balik.


Wizza menepuk pundak Irfan. “Ayo, kita selesaikan semuanya dengan baik. Mari, aku temani kau membuka harta karun Roqa.” ajak Wizza.


Ia kemudian membalik badannya, menatap dua pusara itu. “Hai, Roqa, kau lihat wanita di sebelahmu? Dialah wanita yang menggantikanmu dihatiku. Kini, dia menemanimu yang sendirian di sini. Kamu senang 'kan?” ucap Wizza. “Istriku, dia Roqa. Ah, aku sudah mengatakan padamu, ya. Tetapi, ada satu yang aku tutupi, sebenarnya dia mantanku, bukan hanya istri adikku. Maaf, ya. Tapi, percayalah, hanya ada kau seorang dihatiku.” lanjutnya. Lalu berbalik, menepuk pundak Irfan yang bengong menatapnya.


Irfan melihat dua pusara itu, lalu memejamkan matanya, berdo'a dalam hati. Kemudian mengikuti Wizza yang masuk ke dalam mobil.


“Hai, apa yang kau katakan pada istriku?!”


“Rahasia.” jawab Irfan. Wizza tersenyum dan mengelus kepala Irfan.

__ADS_1


Pria tua itu tersenyum saat Wizza mengelus rambutnya. Sudah sangat lama, walaupun terlambat, tetapi ini bisa menjadi obat.


__ADS_2