
Abraham tampak tak bersemangat akhir-akhir ini, ia sering merenung.
“Heh, Abra!” Cleo menepuk pundak Abraham. “Kau kenapa Ham?” tanyanya menatap wajah Abraham.
“Aku baik-baik aja, Cle!”
“Please, don't call me Cle!” Cleo menatapnya tajam. “Panggil aku Cleo atau Leo, jangan Cle!” Ia berkacak pinggang.
“Kau saja memanggilku suka-suka, kadang Abra, kadang Ham, kadang-” Abraham langsung menghentikan ucapannya, menatap Cleo yang terkekeh.
“Kadang B-R-A, hahhahhha!” Cleo terkekeh memegangi perutnya. Abraham langsung mengeteki Cleo.
“Makan ketekku, makan!”
“Ahahaha! Akhirnya, kau tersenyum juga sohibku!” Cleo membalas ketekan itu dengan pelukan hangat.
“Cleo!” Abraham langsung memeluknya dan tak terasa air matanya mengalir di sebelah matanya yang sebelah kanan. Ia segera menghapusnya.
“Kau ingin menangis? Menangis saja, tak apa!” ujar Cleo.
“Aku pria, aku bukan wanita, menangis itu hanya wanita!”
“Hei!” Cleo menepuk pundak Abraham. “Siapa bilang yang menangis itu hanya boleh wanita? Lalu pria tak menangis? Tuhan menciptakan wanita dan pria sama-sama memiliki mata dan air mata, tentu saja air mata itu harus dikeluarkan, tidak memandang gendre pria ataupun wanita, jadi menangis saja!” Cleo menarik turunkan alisnya.
“Melihat kau seperti itu, bukannya menangis, aku malah ingin memukul wajahmu yang sok ketampanan itu!” sahut Abraham dengan senyuman kecil.
“Hei, dasar curang! Kak Arhen memandangmu seperti itu dengan menaikkan alisnya bahkan mengedipkan matanya, kau malah senang, dasar teman pilih kasih!” Cleo menoyor kening Abraham.
“Beda dong, Kak Arhen idolaku!” Abraham membela diri.
“Ya, ya, terserah deh.”
Beberapa saat mereka berdua terdiam cukup lama.
“Sebenarnya ... aku mendengar Rufia bertanya tipe wanita yang di sukai oleh Ardhen pada Ardhen.” Abraham berniat memulai ceritanya pada Cleo.
“Lalu?” Cleo menoleh padanya.
“Setelahnya, Rufia mulai mempelajari agama yang dianut oleh Ardhen.” Abraham langsung terdiam setelah berkata begitu.
“Maksudmu, Rufia menyukai Ardhen?” Cleo bertanya. Abraham mengangguk. Lalu, keduanya kembali diam.
“Cleo, aku ingin pergi ke Jepang.”
__ADS_1
“Hah? Apa maksudmu Abraham?” Cleo terkejut.
“Aku mencintai kalian berdua sebagai sahabat, bahkan aku menganggap kalian saudara, keluarga kalian adalah keluargaku juga, begitulah aku mengartikannya, namun aku juga mencintai Rufia, cinta sebagai pasangan yang ingin kumiliki. Sedangkan wanita itu menyukai Ardhen.”
“Jika saja Rufia terkesima pada Kak Arhen, aku masih bisa percaya diri, kita semua tahu, kalau Kak Arhen belum bisa serius dengan wanita manapun, akan tetapi Ardhen, kita tahu dia pria serius, lembut, pintar dan baik. Aku merasa tak akan mampu melihat Rufia dekat dengan Ardhen.”
“Abraham, dengar, belum tentu juga Ardhen menyukai Rufia! Kau masih banyak kesempatan!” Cleo menatap manik mata Abraham.
“Ya, aku tahu. Tapi aku tak ingin persahabatan kita menjadi renggang karena rasa, karena itu aku ingin mengubur rasaku ini dengan memilih pergi menjauh, aku tak mengapa jika Rufia menyukai Ardhen, dia pilihan yang lebih baik.”
“Kau benar-benar buruk dan pengecut!” Cleo berdiri, tak habis pikir dengan jalan pikiran Abraham. “Kalau kau suka, kau perjuangkan, jangan mundur ditengah! Kau bahkan belum mengungkapkan rasa sukamu!” Cleo menunjuk dada Abraham dengan kesal.
“Aku sudah mengejarnya selama ini di Italia, bahkan sudah memberikan kode padanya, namun ia tak menanggapi, itu sudah cukup untukku berkaca diri! Aku sudah tahu jawabannya, tanpa harus aku utarakan, yang akhirnya hanya membuat hubungan diantara kita menjadi canggung.”
Cleo mendesah dan menghela nafas panjang. “Ya sudahlah, aku pasti akan sangat merindukanmu nanti!” Cleo memeluk Abraham.
***
Vindo dan Eline semakin dekat, mereka sering bertemu. Malam ini, Eline berdandan sangat cantik dan seksi, ia sudah membuat janji bersama Vindo disebuah kamar hotel bintang lima.
“Hei, baby!” sapa Vindo.
“Hei,” Eline tersenyum malu-malu.
“Iya, katakan saja!” Eline sudah tak sabar.
“Apa kau mencintaiku?” Vindo bertanya.
“Ya, aku mencintaimu.”
“Sungguh?”
“Ya, sungguh!” tegas Eline.
“Apakah kau mencintai semua kekuranganku dan menyukai apapun semua yang aku suka?” Vindo bertanya serius.
“Tentu saja, aku mencintaimu apa adanya!” sahut Eline.
“Baiklah!” Vindo menelfon seseorang. Tak lama, masuklah dua orang pria kekar dan dua orang wanita berpakaian seksi.
“Sebenarnya aku menyukai pria, karena kau berkata mencintai apapun yang aku cintai, menyukai apapun yang aku sukai, aku memberikan apa yang aku suka, kamu mau 'kan menerima hadiahku?”
Eline melotot. “Tolong terima hadiahku Sayang, ini rasa sayang dan senangku untukmu.” Vindo langsung mengelus dada pria kekar salah satu yang ada di sana, lalu mendekatkan wajahnya dan menekan pundak pria kekar itu ke depannya, menempelkan bibir mereka sekilas, terlihat sangat mesra dan manja.
__ADS_1
“Sayang, tolong terima hadiahku ini! Mari kita bersenang-senang, aku akan bermain dikamar yang berbeda, kamu juga ya!” Vindo keluar dengan dua pria kekar itu.
Sesaat setelah tiga pria itu keluar, Vindo dan pria yang tadi dicium bibirnya segera menghapus bibir mereka dengan tisu, bahkan segera berlari ke toilet dan berkumur-kumur. “Untung saja bukan aku yang kena!” gumam pria kekar satu lagi yang tak kena cium.
“Ayo, Sayang!” Dua wanita seksi itu mendekati Eline.
“Tidak, apa yang mau kalian lakukan? Aku normal, aku tidak pecinta sejenis, lepaskan aku!” Teriak Eline ketakutan.
“Sayang, ayolah!” Dua wanita seksi itu terlihat sangat agresif, ia menarik paksa dan menindih tubuh Eline, dua wanita itu mulai menggerayangi tubuh Eline dengan ciuman.
“Tidak, jangan, aku mohon, lepaskan aku!” Eline sangat ketakutan, ia mulai menangis.
Dua wanita itu memang memiliki selera aneh, mereka memang pecinta sejenis.
“Jangan takut, kami akan memanjakanmu Sayang, mari bersenang-senang!” Tangan dua wanita itu mulai meraba-raba tubuh Eline.
“Tidak! Tidak! Aku mohon!” Eline meratap, menangis ketakutan. “Aku mohon lepaskan aku!” Ia histeris, lalu pingsan.
Dua wanita itu memeriksa tubuh Eline. “Dia sepertinya pingsan, Sayang!” ucap wanita dengan rambut bercat pirang.
“Ya, aku akan mengabari dia, jika tugas kita sudah selesai.”
Wanita itu menelfon Vindo. “Aku sudah mengambil foto dan dia tengah pingsan, bagaimana lagi?”
Wanita itu menatap Eline dan mengangguk sambil mendengarkan perintah Vindo.
“Baiklah!” sahut wanita itu.
“Tuangkan ke mulutnya!” perintahnya pada kekasih sejenisnya itu dengan memberikan sebotol bir.
Dia juga menuangkan alkohol di lantai, di atas kasur, memecahkan botol minuman itu dan lainnya, seolah Eline itu mabuk berat.
“Sudah kau tuangkan ke mulutnya alkoholnya?”
“Sudah, Sayang.”
Dua wanita itu segera pergi meninggalkan Eline, setelah memasang kembali pakaian gadis itu dengan rapi. Lalu mengirim pesan pada asisten Eline menggunakan hp Eline, agar menjemputnya.
Setelah kedua wanita itu keluar, satu pria tegap berjas hitam telah menantinya. Ia adalah bawahan Vindo. Mereka menyerahkan rekamannya serta foto-foto, kemudian dua amplop tebal mereka terima dari tangan bawahan itu.
“Terimakasih. Jika Tuan Vindo masih membutuhkan bantuan, kami akan siap membantu!” ucap mereka, sedikit mengangguk memberi hormat, lalu pergi.
...----------------...
__ADS_1