Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Impas!


__ADS_3

Saat Arsen membuka pintu apartemen, yang pertama kali ia lihat adalah punggung seorang gadis terekspos setengah dengan rambut di sanggul.


Gadis itu menggunakan tank top polos longgar sedikit panjang sampai menutupi pantatnya tanpa memakai cela*na sebagai bawahan, sehingga memperlihatkan paha mulus gadis itu. Tulang tengkuk, belikat, sampai punggung terlihat begitu menggoda, lengannya yang mulus pun terlihat begitu lembut. Mata Arsen terus disuguhkan dengan lekuk tubuh yang aduhai.


Gadis itu berdiri dengan satu tangan bertumpu ke meja, tentu saja masih dengan posisi memunggungi Arsen. Lalu sedikit merukuk, tangannya sibuk membolak balik kertas sambil menggoyangkan satu kakinya, rupanya gadis itu sedang mendengarkan musik dengan handset tanpa tali yang terpasang dikedua telinganya, sehingga ia tak mendengar pintu apartemen terbuka.


Gadis itu kembali berdiri tegak, lalu menari-nari sambil bernyanyi, tenggelam dalam alunan musik yang ia dengar. Entah berapa lama Arsen menonton pertunjukkan indah itu, pipinya sudah memerah, ia malu, tapi suka. Sebenarnya, Arsen sudah berdehem beberapa kali, namun Roselia tidak mendengar, ia sibuk menari dan bernyanyi.


Hingga akhirnya, gadis itu berputar dengan wajah masih tersenyum sambil menari, posisi kaki yang masih berdiri satu, dengan kaki satunya lagi dalam gerakan seolah menendang, kedua tangan sedang naik ke atas. Ya, posisi menari, dan....


Brak! Gadis itu terjatuh. “Aaakh!!” Ia berteriak malu, langsung berdiri, padahal Arsen berniat membantunya bangun, namun gadis itu sudah bangun sendiri langsung berlari masuk ke dalam kamarnya dengan wajah merah padam. Arsen pun juga begitu, pipinya yang putih mulus dengan wajah baby face itu memerah, tetapi bibirnya malah mengukir senyum bahagia.


Tak lama Hans sudah datang dengan dua kantong makanan. “Tuan Muda!” panggil Hans yang menatap Arsen penuh selidik. Atasannya itu terlihat aneh, pipinya memerah.


“Ekhem! Iya, Kak. Kau sudah selesai berbelanja?” jawab Arsen.


“Iya, kok Tuan Muda berdiri di sini, apa Roselia tidak mempersilahkan? Apa dia belum pulang, ya?” Hans bergumam-gumam. Arsen tak menyahuti, ia hanya diam saja.


“Mari, silahkan duduk Tuan Muda. Saya akan segera menyiapkan minuman dan cemilan dulu,” tawar Hans, Arsen mengangguk setuju, lalu memilih duduk di sofa.


Lagi-lagi, Hans menemukan atasannya itu tersenyum sendiri, saat ia menghidangkan minuman dan cemilan. “Hm, apa Tuan Muda ingin mengatakan sesuatu pada saya?” tanya Hans.


“Hm?” Arsen menoleh pada Hans dengan menaikkan satu alisnya. “Oh, tidak ada,” jawab Arsen kemudian.


“Oooh!”


“Ya.”


Hans terdiam sejenak. “Kalau begitu, silahkan di cicipi Tuan Muda, saya hendak menemui adik saya dulu.” pamit Hans.


“Silahkan.” jawab Arsen.

__ADS_1


Toktoktok! Hans mengetuk pintu kamar adiknya. “Ros!” panggil Hans. “Ros, apa kau sudah pulang?” lanjut Hans lagi bertanya. “kalau kau sudah pulang, buka pintunya, Kakak mau ngomong sebentar!” ujar Hans di depan pintu kamar Roselia.


“Iya, tunggu sebentar!” jawab Roselia.


Tak lama, gadis itu membuka pintu kamarnya. Ia telah mengganti pakaiannya dengan sopan dan tertutup.


“Kakak pulang bersama Tuan Muda Arsen, sudah kakak hidangkan cemilan dan minuman, barusan kakak beli makanan jadi, tolong panaskan, ya! Temani Tuan Muda ngobrol dulu, Kakak mau mandi, gerah banget!” ucap Hans menjelaskan dan meminta bantuan Roselia.


“Iya, Kak,” jawab Roselia patuh.


“Baiklah, Kakak mohon bantuannya, ya!” Hans mengelus kepala adik perempuannya itu, lantas beranjak pergi dari sana.


Di ruang tamu.


Gara-gara melamun, lebih tepatnya menghayal, memikirkan Roselia, ia menumpahkan minuman yang ia minum, membiarkan cangkir itu menempel di bibirnya tanpa ia seruput air di dalamnya, hingga tertumpah ke baju dan celananya.


“Cih! Sial!” dengus Arsen.


Mata gadis itu terbelalak, seolah mereka sudah impas, tadi Arsen melihat tubuhnya, kini ia melihat tubuh gagah Arsen, perutnya yang sixpack dengan otot lengan yang terlihat mulus tetapi kenyal. Lebih parahnya lagi, keduanya malah terbengong dengan mata yang saling menatap intens dengan jarak yang cukup jauh.


“Aaah, maaf!” ucap Roselia setelah beberapa saat melihat tubuh Arsen, kemudian membalikkan tubuhnya.


“Aah?” Arsen malah baru sadar dengan kondisinya yang memalukan. Mukanya memerah, tadi ia sedang memegang celana yang tepat didepan burung pipitnya sambil ia kipas-kipas.


‘Apa yang akan Ros pikir tentangku? Apa dia akan berpikiran aku pemuda mesum? Mengintip dia? Lalu, sekarang? Aaaaakkkkkhh! Tidak!’ Arsen frustasi memikirkan hal memalukan yang terjadi dengannya sekarang.


“Maaf, Tuan Muda, aku tidak tahu jika Anda sedang ... maksud aku ... hm, itu, aku tidak melihatnya. Em, bukan, bukan! Maksudku, aku tak sengaja melihatnya, maafkan aku.” Roselia mencoba menjelaskan kejadian yang tak sengaja ini, dengan posisi masih membelakangi Arsen. Sedangkan pemuda tampan itu tak mendengar penjelasan Roselia karena tenggelam dalam pikirannya yang merasa sangat malu.


Arsen memakai kembali baju kemejanya yang tadi kotor karena tumpahan minuman.


“Ekhem!” Arsen berdehem. “Aku sudah selesai memakai baju!” ucapnya. Roselia pun berbalik dan tersenyum canggung padanya.

__ADS_1


“Mana Kak Hans?" tanyanya menatap Roselia.


“Sedang mandi di kamarnya Tuan Muda,” jawab Roselia.


“Oh, baiklah. Kalau begitu, aku akan menemui dia ke kamarnya.” Arsen berdiri, berjalan menuju ke kamar Hans.


Roselia hanya mengangguk dan menatap kepergian Arsen. Setelah Arsen pergi, Roselia langsung ke dapur, memanaskan makanan yang dibeli kakaknya, Hans.


“Kak Hans?!” Arsen memanggil Hans di depan pintu kamarnya sambil mengetuk pintu kamarnya beberapa kali.


‘Hm, apa ia di dalam kamar mandi kali, ya? Jadi, gak denger? Apa aku coba telfon aja?’


Arsen pun memanggil Hans dengan cara menelfon. Ya, benar saja, pria itu tengah berendam di bathtub merilekskan tubuhnya, ia lihat hpnya yang bergetar di atas keramik di samping bathup. Rupanya Arsen, kemudian ia mengangkat panggilan itu.


“Aku sedang berada di depan pintu kamarmu, Kak. Tut!” Hanya berkata seperti itu saat Hans mengangkat panggilannya, kemudian dengan tidak sopannya Arsen langsung mematikan panggilan itu. Akan tetapi, Hans yang diperlakukan seperti itu merasa tak apa, malahan dia bergegas memakai baju handuk, langsung keluar dari kamar mandi menuju pintu kamarnya dan membuka pintu itu.


“Maaf, saya merasa gerah, jadi saya mandi terlebih dulu.” Hans mencoba menjelaskan pada Arsen.


“Oh, tak apa! Aku cuma mau pinjam baju kemeja Kakak. Bajuku kotor!” Arsen menunjuk noda minuman di kemejanya yang putih.


“Apa ... Tuan Muda ingin mandi dulu?” tanya Hans. Arsen menjawabnya dengan mengangguk.


Hans langsung mengambil baju kemejanya beserta handuk baru. “Em, apakah Tuan Muda bersedia mandi di kamar mandi Ros? Soalnya saya belum selesai mandi.” tanya Hans hati-hati, takut atasannya itu tak suka. Dulunya, kamar Roselia adalah kamar Arsen.


“Baiklah, tolong antarkan saya ke sana terlebih dahulu, saya tak enak sendirian ke sana.” pinta Arsen.


“Ok!”


......................


Jangan lupa tinggalkan like dan komentar manis manjanya Arlove💓😎

__ADS_1


__ADS_2