
“Hai, Dik!” jawab Arhen.
‘Kabar Kakak dan Kakak ipar baik-baik saja 'kan?’
“Ya, begitulah. Bagaimana denganmu, apa kabar kau dengan Rufia?” tanya Arhen.
‘Rufia?’ Ardhen diam sejenak sebelum menjawab kembali. ‘Dia sudah kembali ke Italia!’
“Loh, aku tak tahu, bukannya dia yatim piatu, gak punya keluarga lagi?” Arhen yang tadi galau, mulai penasaran dan antusias mendengar cerita sang adik.
‘Ya, aku menolaknya, dia aneh Kak. Masa dia mengatakan suka padaku? Terus mau berpindah keyakinan hanya karena suka aku? Kalau Tuhan saja dia ingkari, bagaimana dengan aku nanti? Aku 'kan hanya makhluk Tuhan,’ jelas Ardhen. ‘Sebelumnya Abraham juga pergi ke Jepang, perusahaanku sedang bermasalah juga sekarang. Perusahaan Abang dan Papa juga. Apa Abang sudah cerita sama Kakak?’
“Hah? Aku gak tahu Dik. Abang gak cerita!”
‘Mungkin Abang gak mau kakak jadi kepikiran, Kakak 'kan juga dapat masalah di Jakarta sampe nikah mendadak gitu sama Kakak Ipar.’
“Dik, kenapa Abraham tiba-tiba pergi ke Jepang? Apalagi kamu cerita setelah kepergian dia, perusahaan jadi kacau, dia gak menaruh dendam sebelum pergi 'kan? Dia 'kan sejak dulu suka banget sama Rufia. Pas Kakak isengin Rufia aja, mukanya sampe masam dan memerah waktu itu!”
Ardhen terdiam. “Hehehehe, Kakak cuma bercanda, gak usah dipikirin, gak mungkinlah Abraham yang temenan sejak kecil sama kamu, kamu jahatin perusahaan hanya karena seorang wanita. Dia tak akan sebodoh itu. Apalagi, perusahaan itu juga ada saham dia bersama Cleo Nathan, bukan cuma kamu aja yang punya keuntungan di sana.”
“Hm, ya udah, Kakak matikan dulu panggilannya. Mom miscall nih! Bye, Assalamu'alaikum!”
‘Wa'alaikumsalam!’
***
Setelah panggilan berakhir, Ardhen menoleh dan hendak memberikan ponsel pada Kakak laki-lakinya, tetapi rupanya Arsen telah tertidur dalam posisi duduk dengan kepala bertumpu di meja.
“Abang pasti capek dan pusing banget, sampe ketiduran di sini.” pikir Ardhen. “Bang, tidur di rumah belakang yuk!” Ardhen mencoba mengguncang lengan Arsen, namun tak ada respon, hingga akhirnya ia memangku Arsen dengan kewalahan ke arah sofa beberapa langkah dari kursi ia duduk.
__ADS_1
Dia baringkan Arsen di sofa dengan meletakkan bantal di kepala kakaknya. “Aduh, berat juga Abang!” gumamnya masih dengan nafas ngos-ngosan. “Abang pasti lelah banget nih, sampe gak sadar aku pindahin.”
Setelah membaringkan Arsen, Ardhen kembali sibuk dengan urusannya.
Di meja resepsionis Vend Beutique. Seorang pria memakai kemeja putih, celana dasar hitam dengan sepatu kulit hitam yang mengkilap, tengah tersenyum ramah pada tamu. Dia baru seminggu ini di terima Ardhen bekerja di sini. Bukan hanya itu, sejak tadi dia juga mengamati dan mencuri-curi pandang melihat ke arah Arsen dan Ardhen.
“Eh, Bob! Tolong tunggu sebentar ya, aku mau ke toilet sebentar!” pinta Haizum meminta tolong pada pemuda yang baru bekerja sebagai petugas resepsionis.
“Ok!”
Haizum ke toilet terburu-buru, setelah itu, dia bergegas kembali ke meja kasir. Tampaklah Bobi duduk di sana menunggu mejanya. “Kenapa duduk di sini, di tempat resepsionis aja gak apa-apa kok. Btw, makasih yah!” ujar Haizum, lalu kembali duduk di tempatnya, begitu pula Bobi si anak baru, kembali duduk di meja resepsionis.
Arsen terbangun dari tidurnya, namun masih bermalas-malasan, jadi ia masih memilih tidur, namun matanya perlahan sudah mulai terbuka. Pertama kali yang dia lihat adalah sesuatu yang janggal, sehingga ia memperhatikan diam-diam.
“Eh, Abang sudah bangun?” tanya Ardhen yang baru melewati Arsen.
“Ya, barusan! Pemuda itu karyawan baru?”
“Dia agak aneh, ya?”
“Iya, agak ngeselin, tapi dia cekatan kok!”
“Ooh!” Perlahan Arsen pun bangun dari tidurnya yang hanya sebentar itu. “Kepalaku rasanya pusing!”
“Itu karena Abang tidurnya gak nyaman dan sebentar. Mending Abang tidur di kamar rumah belakang deh!” tutur Ardhen.
“Gak usahlah! Mending pulang ke mansion! Kamu kapan pulangnya? Pulang bareng nggak?” ajak Arsen.
“Iya sebentar lagi. Abang mau nunggu?” Ardhen menatap Arsen.
__ADS_1
“Ok!”
***
Setelah mematikan telepon dan berganti panggilan dengan Sakinah, senyuman sumringah menghiasi wajah Arhen.
“Assalamu'alaikum Mom!”
“Wa'alaikumsalam Sayang. Apa kabar kamu sama istrimu Nur?”
“Baik Mom.”
“Alhamdulillah. Mom cuma pesan, jika ada apa-apa, masalah sekecil apapun, harus diselesaikan dengan kepala dingin, gak boleh langsung marah, berkata kasar, apalagi membentak istri. Kakak harus bersabar, belajar mengenal sikap istri, belajar jadi suami yang baik, menafkahi istri lahir dan batin. Buat dia bahagia jiwa dan raganya,” ujar Sakinah lembut.
“Mom mengerti, Kakak memaksakan diri menikahi dia karena bertanggungjawab, tetapi belajar dan berusaha mencintai dan menyayangi istri Kakak, ya! Mom berdoa untuk kebahagian kalian, semoga langgeng, sakinah, mawadah, dan warahmah.”
“Aamiin, makasih Mom. Ngomong-ngomong, Mom kapan pulang ke Indonesia? Kakak sebentar lagi selesai nih urusannya di Jakarta.”
“Hm ... Mom ikut Papa dan dua saudara kembar Kakak aja sih. Masih sibuk kayaknya. Begini aja, kalo urusan Kakak udah selesai, Kakak duluan aja sama Nur pulkam, nanti Mom sama yang lain nyusul,” terang Sakinah.
“Hm, ok deh Mom! Miss you!”
“Miss u too Sayang! Sekarang Kakak dimana nih? Nur mana, Mom mau ngomong sama dia, kemarin gak sempet video call, cuma bisa panggilan suara aja.”
“Kakak lagi di kamar Lucas Mom, tadi lagi nyelesaikan urusan, Nur ada di kamar kami. Nanti deh, kalo Kakak dah sampe kamar, Kakak call mom lagi, ok!”
“Ok, Sayang. Kalau begitu, Mom matikan dulu ya teleponnya. Assalamu'alaikum!”
“Wa'alaikumsalam.”
__ADS_1
Setelah panggilan di akhiri, Arhen pun menyimpan hp, berniat kembali ke kamarnya.