
“Kenapa kalian begitu lama untuk mengabariku? Bukankah seharusnya beberapa jam yang lalu kalian sudah sampai!” ucap Arsen setelah pergi masuk ke dalam kamar tamu yang telah Billa siapkan untuknya.
‘Maaf.’ sahut Arhen dan Ardhen di seberang telepon.
“Kalian bersenang-senang hingga lupa padaku?”
‘Tidak, itu tidak mungkin, Bang!’
“Kirimkan alamat lengkap serta kode seri CCTV di sana!”
‘Tapi kami belum tau, Bang. Rumah di sini sangat tinggi seperti istana, mungkin langit-langit kamar tingginya ada 4 kali badan kami, Bang. Setidaknya ada 4 meter keatasnya.’
“Aku tidak menyuruh kalian memanjat dimana CCTV itu berada 'kan? CCTV di kamar kalian menghadap kemana? Lemari pakaian menghadap kemana? Arahan jendela kamar dan kamar mandi dimana?” Serentetan pertanyaan mulai ditanyakan Arsen.
Arhen dan Ardhen menjawab semua pertanyaan Arsen. Mereka bertiga memiliki rencana agar bisa menemukan kode seri CCTV.
Setelah berbincang cukup lama tentang rencana mereka, Arsen mengubah topik pembicaraan untuk Mom tercinta mereka.
“Apa Mom terlihat nyaman? Bahagia tidak di sana? Apa Andrean itu baik?”
‘Kami belum bertemu dengannya, kata Grandma dia sibuk.’
“Siapa Grandma? Kenapa dia tidak menjumpai kalian? Dia itu bisa menjadi Ayah kita gak sih?”
‘Nenek.’ Hanya terdengar jawaban itu, tidak ada lagi sambungan balasan tentang Andrean.
“Memangnya apa bedanya Grandma sama Nenek?”
‘Beda Bang.’
“Apa bedanya!”
‘Beda gaya bahasanya!’ jawab Arhen.
Lagi, Arhen dan Arsen berdebat.
‘Tapi tadi Adik lihat Pipi Mom merah. Hei, Ssstt! Kau ini!’ Terdengar Arhen memarahi Ardhen.
“Arhen! Katakan apa yang terjadi!”
‘Tidak apa-apa Bang. Mom cuma terjatuh katanya.’
__ADS_1
“Memangnya kalian tidak lihat?”
‘Tidak Bang, kami sedang mandi. Mom tidak ikut. Pas kami selesai mandi, Mom sudah gak ada, kami menunggu dia di ruang Makan cukup lama.’ jelas Arhen.
Arsen terdiam lama, ia tampak berpikir.
“Ya sudah, kalian harus mengabari aku selalu. Dan satu hal lagi, kalian harus jaga Mom!”
‘Ok, Bang. Jangan khawatir.’
_________________
Setelah makan, Sekar membaca beberapa laporan yang diletakkan David diruangan kerja. Data tentang jewerly, perusahaan serta kegiatan Dedrick dan Andrean.
Maid mengantarkan teh hangat dan air mineral serta cemilan, meletakkannya di nakas.
Tak lama setelah itu, Kepala Pelayan memasuki ruangan kerja itu. Ia memarahi pria itu dengan bahasa Belanda.
“Dimana otakmu? Kau menyuruh Istri majikanmu memakai baju golongan rendah yang aku gaji?”
“Tidakkah kau lihat dia datang bersamaku tadi dengan para Tuan Muda? Tak habis pikir, sampai kau tidak bisa mengenalinya. Bahkan jika otakmu kau gunakan, setidaknya dari cara pakaiannya kau sudah mengenalnya!”
Plak! Tamparan keras mendarat di pipinya.
Pria itu masih diam dan tak melawan.
“Sekarang pergilah!” Sekar mengibaskan tangannya. “Hukum manusia yang menyuruh Istrinya Andrean memakai baju itu!” sambungnya lagi.
“Baik, Nyonya. Terimakasih banyak, saya undur diri dulu.”
“Hm.” jawab Sekar.
Di dalam kamar para Maid.
David menatap tajam semua orang, berbicara dengan bahasa Belanda.
“Kalian sudah lihat wanita tadi? Perhatikan wajahnya dengan jelas, dia adalah Nyonya Muda dirumah ini, istri Tuan Muda Andrean, dua anak laki-laki adalah anak mereka berdua.” tutur David tegas.
“Aku tak ingin mendengar sedikit pun kesalahan lagi! Kalian masih tahukan, mata, bibir dan telinga kalian hanya ada satu? Begitu pula dengan tangan dan kaki kalian hanya sepasang.”
Setelah mengucapkan perkataan seperti itu, ia meninggalkan para maid yang berwajah tegang karena takut.
__ADS_1
Wanita yang congkak kala itu bernama Nani, di hidungnya memiliki tahilalat besar, ia adalah Maid senior yang cukup lama berkerja di sini. Merasa diri lebih berkuasa. Ia tak menyangka wanita berpakaian aneh dengan membalut seluruh kain dalam tubuhnya itu istri Tuan Andrean, pemuda yang sering bergonta-ganti perempuan. Benarkah? Sungguh sulit rasanya ia percaya.
Tadi ia baru saja dihukum oleh Kepala Pelayan saat Sakinah makan. Ia mendapatkan tamparan dua kali di pipi, lalu hukuman cambuk di kaki. Sungguh nasib yang malang, hendak berlagak senior malah kena batunya.
Maid yang memberikan Sakinah cake di dapur tadi bernama Amy, ia memiliki bintik-bintik di wajahnya. Memang dikenal dia sangat lembut dan baik hati. Ia pun juga memelintir roknya ketakutan. Tadi ia tidak bersifat formal pada Sakinah. Apakah dia juga akan dicambuk seperti Nani? Ia menjadi takut.
Semua Pelayan di rumah ini menerima gaji 3 kali lipat dari pelayan biasa, belum lagi bonus dan tunjangan lainnya. Namun mereka harus siap ditampar, di cambuk dan dihukum lainnya jika melakukan kesalahan. Bibir mereka harus siap terkunci rapat, telinga harus siap menjadi pura-pura tuli. Disini yang berkerja hanya orang-orang yang berkekuatan mental baja dan harus pintar.
Setelah keluarnya David, mereka sedikit bernafas lega, namun tampak Kepala Pelayan kembali masuk ke dalam kamar mereka.
“Apa kau menampar Nyonya, Nani?” tanyanya pada wanita bertahilalat itu.
Wanita itu diam tak menjawab dengan kepala menunduk.
“Kau memaksanya memakai baju itu?”
Baru saja dia kena hukum cambuk di kaki dan ditampar. Apakah ia akan ditambah hukuman lagi?
“Maafkan saya, Tuan.”
Kepala Pelayan itu mendesah. “Seharusnya kau minta maaf bukan padaku Nani, tetapi pada Nyonya Muda. Kau salah satu pekerja yang cukup lama bekerja di sini. Berdoalah Tuan Andrean tidak mengetahuinya dan tidak menghukummu.”
“Saya akan segera minta maaf pada Nyonya.”
“Ya, semoga beliau mengerti. Sepertinya Nyonya tidak fasih dalam berbahasa Belanda ataupun Inggris. Hanya para Tuan Muda yang fasih. Jadi berusahalah.”
Ia menghela nafas kasar, memijat keningnya beberapa saat.
“Untuk kau Nani, akan ada pengurangan poin, jangan lakukan kesalahan lagi, posisimu akan turun jika melakukan kesalahan lagi, kurangilah sikap sombongmu!”
“Untuk yang lain, tolong ingat dan layani Nyonya bersama para Tuan Muda.” Ia tatap Nani sekali lagi, ia tak tega untuk mencambuk atau menghukum dia lagi.
“Obatilah segera lebammu, jangan sampai terkena hukum lagi.” ucapnya pelan pada Nani berbisik. Lalu pergi.
Amy mendekat dan menepuk pundak Nani pelan. “Sabar, Kak. Sini, biar aku kompres. Kakak duduk di sini ya, aku akan mengambil kompresnya dulu.” ucapnya. Nani menjawab dengan mengangguk.
Maid yang lain membereskan ranjang mereka, bersiap ganti baju dan membersihkan diri. Badan mereka terasa pegal dan lelah seharian bekerja. Sebenarnya pekerjaan tak terlalu berat, tetapi tanggung jawabnya yang besar jika melakukan sedikit saja kesalahan.
Amy mengompres pipi Nani yang memerah, juga mengompres kaki Nani serta mengoleskan salep.
“Makasih Amy, tidurlah segera. Besok kamu harus bangun pagi-pagi. Aku bisa mengompresnya sendiri.”
__ADS_1
...***...