
Bab sensitif 😁 Baca setelah berbuka aja ya 😁😁😁🙏🐝🐝🐝
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Andrean membuka pintu kamar dengan kunci cadangan, ia masuk terburu-buru, tampak Sakinah sedang menelungkup. Andrean mendekat, menatap Sakinah, mata wanita itu tertutup dengan bekas air mata yang sudah mengering, tetapi matanya jelas membengkak.
Matanya menelisik semua bagian kamar, terlihat rapi dan baik-baik saja, dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Dia mengelus kepala Sakinah yang masih memakai hijab, tangannya turun mengelus bahu Sakinah.
“Kau bahkan belum mengganti bajumu, apa ada sesuatu yang membuatmu bersedih seperti ini, Sayang?”
Sakinah langsung duduk dan memeluk Andrean, pria tampan itu juga memeluk Sakinah. Ia tahu kalau Sakinah tidak tidur, bahkan tadi ada kerutan di alisnya saat mengelus wajah istrinya itu.
“Aku gagal menjadi seorang ibu...” lirihnya, air matanya mengalir, menempel di jas Andrean yang berwarna hitam.
“No!” Andrean melepaskan pelukan, mengangkat dagu Sakinah. “Kamu adalah istri terbaik, ibu yang hebat untuk anak-anak,” sambung Andrean.
“Tidak! Aku gagal mendidik Jamila.” Sakinah sangat sedih.
“Tidak Sayang, kamu sudah mendidik dan mengajarkan dia dengan sangat baik. Jamila masih anak-anak, aku yakin sebentar lagi dia tidak akan seperti itu. Sabar ya,” ucap Andrean lembut.
Sakinah kembali memeluk Andrean. Hati dan pikirannya benar-benar kacau, tak disangka olehnya jika merawat seorang anak perempuan lebih sulit dari tiga orang anak laki-laki.
“Pantas saja dulu Ibu dan Ayahku pernah berkata, memelihara anak perempuan apalagi gadis, lebih sulit dari pada sapi 10 ekor. Sapi hanya perlu diikat di tempat rumput yang banyak dan diberikan rumput, sedangkan anak perempuan tak bisa begitu, terlalu bahaya, kecil saja sudah begini, apalagi nanti kalau sudah besar?”
“Sayang, masa putri kita dibandingkan dengan sapi, sih?” Andrean membelai lembut wajah Sakinah, lalu mengecup pipinya. “Putri kita itu sebenarnya anak yang baik, hanya sedikit keras kepala, aku yakin kok, kamu akan bisa menaklukkan princess kita!” Andrean menggenggam kedua tangan Sakinah, mencium punggung tangan itu.
“Badanku pegal, maukah istriku ini membantu memandikanku?” Memasang wajah memohon. Lalu, menyodorkan rambutnya ke dada Sakinah, meletakkan satu tangan Sakinah di rambutnya, minta dielus.
“Apakah aku bisa meminta obat hatiku yang merasa gusar dan lelah karena bekerja di luar? Ataukah istriku ingin aku obati karena perasaannya lagi kacau?” Andrean berkata lembut dan mesra.
__ADS_1
“Memangnya bagaimana cara mengobati aku dan mengobati gusarmu?” Sakinah mulai mengusap kepala Andrean yang terbenam manja di dadanya.
“Itu gampang, tinggal dipijit saja!”
“Dipijit?”
Andrean menegakkan kepalanya saat mendengar tanya Sakinah, dengan tersenyum mesum dan pandangan mata menggoda dia berkata, “Ya, kamu memijitku, aku memijitmu, kita saling memijit, itu bisa merilekskan tubuh.”
“Dasar mesum!” Sakinah memukul dada Andrean pelan.
“Bagaimana lagi, aku tidak bisa tidak mesum jika bersama istriku!” Dia berdiri dan melepaskan semua pakaiannya, menyisakan hanya cel*na dal*m saja.
“Kamu mau ngapain?” Sakinah tak percaya suaminya ini sangatlah mesum, padahal dia sedang menangis dan sedih tadi, tetapi saat kedatangan Andrean tangisan itu terhenti dan perasaan nya malah berubah.
“Mau mandi bareng istriku, kamu belum mandi 'kan? Lihat bajumu, kamu masih memakai baju untuk bepergian dan aku juga baru pulang dari kantor!” Mulai membuka hijab Sakinah, resleting dress yang terletak di depan di dekat dada istrinya.
“Sayang, ini adalah tempat favorit ku, muach!” Satu kecupan di dada Sakinah lembut. Kemudian melanjutkan melepaskan seluruh pakaian, hanya meninggalkan penutup dada dan bagian bawah Sakinah.
Andrean langsung memasukkan Sakinah ke dalam bathup perlahan, menghidupkan kran air di bathup itu, mengisinya hingga setengah yang dicampur dengan sabun cair beraromaterapi.
Perlahan tangannya lincah menggosok lengan, pinggang, dan perut Sakinah, tapi bibirnya juga liar menciumi leher istrinya. “Kita tak boleh melakukannya di sini! Ini tempat tinja!” Sakinah menghentikan tangan nakal Andrean.
“Hehehe, iya Sayang. Hanya pemanasan sambil mandi, biar bersih dan wangi,” jawab Andrean terkekeh kecil. Lalu, ******* bibir Sakinah rakus.
Sakinah mendorong tubuh Andrean. “Jangan, ayo mandi!” tolak Sakinah.
Andrean tersenyum, dia langsung berdiri dan mandi di shower sambil berkata. “Kau sangat sensitif sekali Sayangku.” Sakinah hanya tersenyum mendengar, ia menggosok tubuhnya dan juga berdiri ke arah shower.
Andrean menatap mesum, mematikan air shower. “Aku ingin melahapmu sekarang!” Langsung mencium bibir Sakinah.
__ADS_1
“Sudah, tunggu aku di ranjang saja!” Sakinah mendorong Andrean pelan.
Andrean pun mengalah, ia mengambil handuk, setelah mandi. “Sayang, jangan lama ya membersihkan diri, aku menunggu di ranjang!” Andrean menatap tubuh Sakinah yang terlihat sangat menggoda imannya.
Setelah keluar dari kamar mandi, Andrean teringat bunganya, dia langsung memakai cel*na pendek dengan handuk yang diselempangkan di atas bahu, dia keluar, melihat bunga yang ia beli tadi rupanya tercampak di atas sofa saat ia berlari melihat empat orang berdiri di kamarnya tadi.
“Ooh, kau rupanya di sini!” Andrean mengambil, mengelus, dan merapikan sebuket bunga itu.
Saat dia masuk kembali ke dalam kamar, Sakinah telah keluar dari kamar mandi, dengan tubuh masih dililit handuk, wanita itu mengeringkan rambutnya dengan hairdryer.
“Sayangku, kau sangat sexsy seperti ini. Biar aku bantu keringkan.” Andrean mengambil alat pengering rambut dan memberikan buket bunga pada Sakinah.
“Bunga yang cantik, bagaimana dengan pekerjaanmu tadi di kantor?” tanya Sakinah sambil mencium bunga.
“Semuanya baik-baik saja, jangan cemas, aku hanya lelah secara normal belum kelelahan over, dan obatnya adalah istriku, cup.” Mengecup tengkuk Sakinah.
“Sayang, keringkan dulu rambutku, jangan mulai dulu.” Merasa geli dan meremang.
Bukannya berhenti, Andrean malah mematikan alat pengering rambut itu, langsung menggendong Sakinah, mendudukkan di ranjang, mulai mencium istrinya dengan tangan yang meraba-raba, dan pastinya handuk sudah ia tarik turun hingga mempertontonkan tempat favoritnya.
“Andrean- rambutku belum-” Andrean tak membiarkan istrinya itu bicara, dia terus menciumi bibirnya.
“Sayang, aah, seharusnya kau menghiburku yang bersedih, aah--” gumam Sakinah setelah ciumannya terlepas di bibirnya, dan Andrean berpindah mencium ke bagian dada.
“Beginilah caraku menghibur hatimu yang gundah gulana kekasih hatiku, bidadari cintaku, cup, cup, cup!” Andrean memberikan ciuman bertubi-tubi.
Akhirnya, mereka berdua menghabiskan waktu dengan cinta yang manis.
...----------------...
__ADS_1
Upzz, apakah kalian berpikir malam pertama Arhen dan Aini? Kalau ada tunjuk tangan😁