Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Panggil Aku Sayang!


__ADS_3

Puloh bertemu dengan seseorang yang terlihat misterius, memakai masker dan jacket. Ia pun mulai waspada.


“Sial, aku ceroboh sekali! Aku tertipu!” Puloh hendak berlari namun ia sudah di kepung.


Puloh di seret paksa kesebuah ruangan, ia dipaksa menandatangani surat pengalihan hak kepemilikan perusahaan, rumah dan vila yang ia miliki atas nama Sakinah.


“Tanda tangan!” perintah seorang pria kekar. Puloh menatap semua orang di sana, tak ada satupun yang ia kenali. Namun nama Sakinah cukup ia ketahui.


“Apa kalian suruhan Andrean?!” tanyanya menatap tajam.


“Hanya perusahaan kecil, untuk apa Tuan Andrean mengambil perusahaanmu? Cih!” jawab pria kekar itu mencemooh.


“Kalau perusahaan kecil, kenapa memaksa saya menandatangani ini!” teriaknya kesal.


Pria kekar didepannya langsung meletakkan mulut senjata api tepat dikenang Puloh. “Aku tidak suka mulut banyak bicara, jika kau ingin tetap hidup, tanda tangani ini!” perintahnya.


Puloh gemetaran dan terpaksa menandatangani surat-surat. Kemudian pria kekar itu mematahkan kedua tangan Puloh.


“Aaaaaaaaaaaahhhhh!!!” teriak Puloh kesakitan.


“Jika kau ingin tahu kami di suruh siapa? Aku akan memberitahumu! Kami di suruh oleh Tuan Arsen mematahkan tanganmu karena beraninya menculik dan menyentuh rambut ibunya.” bisik Pria kekar itu kemudian memukul kepala Puloh dengan sangat kuat, hingga pria itu tak sadarkan diri.


“Sita semua uang dan barang-barangnya, kemudian bawa dia ke rumah sakit kita, katakan pada perawat, jika dia sadar langsung masukkan ke rumah sakit jiwa!” ucap Pria berdandan misterius.


Dia adalah Berend Elmo. Pria yang baru beberapa hari lalu melamar kekasih hatinya.


~~


Berend dan Xander Pim menunggu Arsen di kursi panjang di luar gerbang sekolah. Ia masih memakai jacket dan masker menutupi wajahnya.


“Tuan, maaf, saya tidak bisa hadir di hari bahagia Tuan. Semoga nanti saya bisa hadir di pernikahan Tuan.” ucap Xander memulai perbincangan.


“Terimakasih. Kamu juga. Aku tenang saat meletakkan kau di samping Tuan Muda, tolong jaga dia baik-baik ya.”


“Pasti, Tuan.”


Mereka kembali hening. Hingga sebuah tepukan dipundak membuat kedua pria itu menoleh.


“Kalian terlihat seperti sahabat sejati, Paman!” ucap Arsen.


“Kenapa mencariku? Apakah urusanmu sudah selesai dipulau Laut Kebebasan, Paman?” tanya Arsen menatap Berend.


Berend diam sejenak, “Saya ingin berbincang dengan Tuan Muda. Maukah Tuan Muda mampir ke pulau?” ajak Berend meminta.


“Apakah sangat penting dan terdesak?”


“Hm... it-”

__ADS_1


“Jika masih berpikir, berarti tak terlalu mendesak. Lebih baik kita ke mansion dulu, aku harus minta izin pada Mom jika bepergian. Izin Mom adalah segalanya bagiku, Paman. Apalagi kita akan menyeberang lautan, Mom pasti akan khawatir.” jelas Arsen.


“Baik, Tuan. Mari kita pulang!” jawab Berend tersenyum.


Mereka sampai di mansion, hampir serempak dengan Arhen dan Ardhen yang juga baru pulang sekolah.


Setelah berganti baju, Sakinah menemani ketiga putranya makan. Setelah makan Arsen pun meminta izin pada Sakinah.


“Mom, bolehkah aku pergi dengan Paman Berend ke sebuah pulau?”


“Berapa lama?” tanya Sakinah.


“Paling lama tiga hari.” jawab Arsen.


“Tetapi kamu masih sekolah.”


“Aku akan mengurus surat izin dan mengerjakan tugas sekolah di sana. Apakah boleh Mom?”


“Kakak juga ikut, boleh ya Bang, boleh ya Mom?!” Arhen langsung menyambung pembicaraan mereka.


“Ke pulau tempat Paman melakukan lamaran romantis itu, ya? Adik juga mau ikut. Bang, adik ikut ya. Mom, adik ikut, ya!” rengek Ardhen.


“Baiklah, tetapi jika Papa mengizinkan kalian.” jawab Sakinah.


“Ok, kami akan meminta izin sama Papa.” seru Arhen dan Arhen antusias.


Arsen menatap Berend, apakah pria dewasa itu setuju. Berend tampak tersenyum dan mengangguk, artinya mengizinkan dua Tuan Muda itu juga bertamu ke pulau pribadinya.


~~


Arhen dan Ardhen mencium pipi Andrean, Arsen juga ikut mencium tetapi terlihat canggung. Andrean tersenyum, ingin menjahili Arsen, ia peluk dan pangku Arsen, menciuminya bertubi-tubi sampai membuat Arhen dan Ardhen terkekeh, melihat expresi jijik Arsen yang tak berdaya.


“Ada apa? Pasti kalian ingin sesuatu. Kalau tidak, mana mungkin bersikap semanis ini pada Papa.” ucap Andrean. Ketiga anak laki-laki itu tersenyum menunjukkan gigi mereka yang rapi berderet.


Arhen dengan posisi memberi jempol, Ardhen dengan meletakkan kedua tangannya di pipi, sedangkan Arsen berdiri kaku.


Semua ini adalah usulan Arhen, sebenarnya Arsen malas mengikuti. Dia hanya ingin minta izin layaknya minta izin, tetapi Arhen memiliki rencana lain.


“Katakan saja, apa yang kalian inginkan. Papa kalian kaya raya, tampan, pintar dan cukup berkuasa. Kalian bisa meminta apapun!” ucap Andrean narsis.


“Itu yang kami suka dari papa, kaya raya! Kalau begitu, bisa 'kan memberikan kami helikopter? Kami ingin pergi ke pulau privasi milik Paman Berend.” pinta Arhen.


“Iya, Pa. Masa Papa tega lihat kami bertiga naik bot. Kami bisa mual dan pusing. Ombak 'kan besar. Papa sayang kami 'kan?” sambung Ardhen.


“Iya, Pa.” Arhen berwajah menyedihkan.


“Kalian ngapain ke sana?” tanya Andrean penuh selidik.

__ADS_1


“Main, Pa.”


“Sama Mom?”


“Enggak, Pa. Cuma kami bertiga aja.” jawab Ardhen.


‘Baguslah!” gumam Andrean dalam hati.


“Tetapi kalau Mom ikut, pasti lebih seru tuh!” usul Arhen, yang diberikan anggukan setuju oleh Arsen dan Ardhen.


“Tidak boleh!” seru Andrean keceplosan. Membuat tiga putranya itu mendelik. “maksud Papa, Mom tidak boleh kemana-mana dulu, Mom sedang perawatan kesehatan agar kalian segera punya adik dan kalian akan pulang kampung 'kan ke Indonesia saat liburan nanti?” jelas Andrean.


“Iya juga ya.”


“Jadi, Papa akan memberikan kami helikopter 'kan?”


“Iya, tenang saja. Nanti, Papa akan hubungi David.” ujar Andrean.


“Aaahh, Papa paling terbaik!” Arhen memeluk Andrean, Ardhen juga, kemudian terakhir Arsen memeluk mereka bertiga.


~~


Di dalam kamar.


Andrean merebahkan tubuhnya dan memeluk Sakinah. Membelai rambut istrinya yang masih pendek.


“Sayang, apa anak-anak sudah minta izin padamu?”


“Apa?”


“Anak-anak sudah minta izin padamu?” ulang Sakinah.


“Bukan, bukan itu!”


“Yang mana? Aku tak mengatakan yang lain selain itu.” Sakinah mengerutkan alisnya.


“Panggilanmu tadi.” ucapnya mengelus bibir Sakinah.


“Mulai sekarang, panggil aku sayang ya, kalau kita berdua saja.” ucap Andrean manja, menelusukkan hidung mancungnya ke ceruk leher Sakinah.


“Mau 'kan, Sayang?”


“Iya.” jawab Sakinah.


“Janji?!”


“Iya.”

__ADS_1


Andrean tersenyum kemudian langsung mengecup bibir Sakinah lembut.


“Kamu sangat cantik memakai kalung ini. Anak kita itu memang sangat hebat dan cerdik.” ucapnya setelah melepaskan ciuman mesranya, menatap leher Sakinah yang putih memakai kalung yang ia beli 300 Milyar dari perusahaan putranya.


__ADS_2