Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menelfon


__ADS_3

Arsen tidur menelungkup di sofa.


Billa dan Jimi perlahan mendekatinya. “Hei, Jagoan! Ayo, makan!” ajak Jimi.


“Miss beli ayam ceker pedas nih, sama kek pisang Aniara.” sambung Billa menepuk pantat Arsen.


“Aku tidak lapar.” jawabnya dengan suara yang kurang jelas tertutup bantal sofa yang ia himpit.


“Hei, nanti kau sakit. Bukankah kita akan segera menyusul mereka ke Belanda.”


“Mereka belum menghubungiku semenjak pergi! Apa mereka baik-baik saja?” Arsen duduk dengan wajah lesu.


Hilang sudah wajah dingin dan juteknya, kini yang ada hanya wajah anak-anak butuh kasih sayang.


“Mungkin mereka belum sampai.” Billa mengusap wajah Arsen lembut.


“Miss yakin, mereka akan segera menghubungi kita. Jadi, jangan khawatir.”


“Sekarang, ayo kita makan!” ajak Billa.


Billa memainkan mata pada Jimi. Lalu, Pria itu membawakan makanan dan duduk kembali disamping Arsen setelah melihat kode mata istrinya.


“Miss suapi ya? Atau mau Daddy yang suapi?”


“Hm.” Hanya sahutan kecil seperti itu yang terdengar. Arsen masih menatap sayu ke depan, tak bersemangat.


“Ayo, buka mulutnya.” Billa menyendokkan makanan ke mulut Arsen. Sedangkan Jimi, mencicipi ceker ayam pedas dengan suara yang dibuat-buat.


“Hm... enaknya! Ini sangat enak!” ucap Jimi. Ia melirik Arsen, berharap anak itu terpancing dan merebut makanannya.


Kenyataannya Arsen tetap abai. Billa dan Jimi menjadi lesu, mereka kembali teringat saat anak itu berumur 5 tahun. Sakinah menggila menghancurkan semua handphone, laptop serta komputer.


‘Anak ini tidak normal! Bagaimana mungkin anak kecil bisa melakukan hal berbahaya seperti ini, Billa?! Apakah lelaki yang memperk*saku saat itu Alien?!’ Sakinah memijat keningnya dengan raut wajah yang kusut.


‘Tenanglah Kinah, tidak mungkin! Kau jangan termakan film. Itu cuma ada di film, manusia beranak alien, beranak vampir, beranak setan, mana ada itu!’ ucap Billa meyakinkan.


‘Kalian berdua jangan belikan anak ini lagi yang berbau internet, atau apalah itu! Tentang teknologi itu! Aaaaahh....!!’ Sakinah mengusap wajahnya kasar.


‘Maafkan Abang, Mom.’ lirih Arsen memegang kaki Sakinah. Membuat semua orang menjadi iba.


Sakinah pun melemah, ia usap pucuk kepala putranya itu. ‘Baiklah, Mom akan memaafkanmu, tetapi kau tidak diizinkan lagi memainkan itu. Hanya boleh main masak-masakan, main lakon-lakonan dan mobil-mobilan.’ jelas Sakinah.


‘Iya, Mom.’ jawab Arsen pasrah.


Ia memang patuh, tak memainkan laptop dan hp lagi, tak merakitnya kembali, tetapi anak itu lebih memilih bermenung durja sendirian, tak bicara, malas makan sampai anak itu demam. Mau tak mau, akhirnya Sakinah, Billa dan Jimi kembali membelikan, memberikan izin, asal anak itu tidak mengacak-acak sesuatu yang berbahaya lagi seperti situs perusahaan, membobol data.


Hanya boleh bermain game di waktu tertentu, begitulah perjanjiannya. Kini, Billa dan Jimi menemukan wajah pasrah seperti itu lagi. Apa yang harus mereka lakukan.

__ADS_1


“Daddy melihat iklan tadi di Instagram, ada laptop terbaru keluaran Jepang. Mau lihat gak?” Jimi memperlihatkan gambar di hpnya.


Arsen melirik sebentar, terus memutar kembali bola matanya.


Jimi dan Billa mendesah.


“Miss dan Daddy juga merindukan mereka. Mari kita berdoa, semoga mereka sampai dengan selamat dan selalu baik-baik saja.”


Lagi, Arsen masih diam, hingga suara handphonenya berbunyi. Ia bergegas meraih Handphone itu dari kantong celananya.


Keningnya berkerut.


‘Nomor rumah Dedrick?’


Arsen menjadi waspada, ia buka sebuah aplikasi, ia tekan Yes. Lalu, ia angkat telepon itu. Lama Arsen diam, menanti suara yang ada di sebalik telepon.


‘Hallo, Hallo, Abang! Apakah sudah masuk? Abang! Abang! Ini kami!’ Terdengar suara cempreng Arhen dan Ardhen berebut di seberang sana.


“Kalian?” Wajah Arsen berubah bahagia.


Billa dan Jimi lega, kemudian menggeser rapat tubuh mereka, merapatkan telinga di hp Arsen.


“Huh!” Arsen mendengus, kembali jutek. Ia berdiri, berjalan pergi meninggalkan Billa dan Jimi.


“Astaga!!! Anak itu. Ya Tuhan, My Honey, look!” Ia mengadu menatap Jimi.


“Sudah, dari pada dia seperti tadi, iya 'kan?” jawab Jimi tersenyum, lalu mengecup bibir Billa sekilas.


“Nanti saja, tunggu Arsen tidur dulu.”


“Dasar mesum!”


“Tapi suka 'kan?” jawab Jimi terkekeh kecil.


Drt! Drrt!


Billa menatap layar hpnya yang bergetar. “Sakinah! Dia menelfon!” seru Billa semangat.


“Ayo angkat!” pinta Jimi. Billa mengangkat panggilan itu dan membuat loudspeaker agar bisa mendengar kabar mereka disana.


________________


Di Belanda.


Setelah makan, Sakinah meminta David mengantarkan dia ke kamar Maid karena ia tidak bisa berkomunikasi untuk mengambil tasnya yang tertinggal. Saat sampai di sana, semua penghuni tampak tunduk, yang memberikan dia cake tampak tak berani lagi bicara, perempuan yang menamparnya juga terlihat lebam di wajah dan kakinya. Wanita itu menunduk tak congkak seperti saat itu.


Kepala Pelayan mengambilkan tas Sakinah, berniat mengantarkan Sakinah ke kamar karena David harus mengurus sesuatu.

__ADS_1


Sakinah langsung mengambil handphone dari dalam tasnya, masih berdiri dan tak beranjak dari kamar Maid.


Sakinah terdengar berdecak lidah beberapa kali dengan kening berkerut.


“Kenapa Nyonya? Apakah ada yang hilang? Ada yang bisa saya bantu?” tanya David.


“Aku tak bisa menelfon! Aku ingin mengabari temanku.”


“Hidupkan WiFi saja Nyonya. Kata sandinya hallen99one.”


“Makasih, ya.” ucapnya setelah WiFi terhubung.


David mengangguk, tersenyum ramah.


Kinah diantar oleh Kepala Pelayan ke kamarnya sembari menelfon dengan panggilan suara WhatsApp. Setelah sampai di dalam kamar, ia merubah panggilan menjadi panggilan video.


Arhen dan Ardhen juga begitu, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamarnya setelah makan, mencoba menelfon Arsen tapi tidak bisa.


“Kenapa sinyal hilang? Rumah mewah tapi tidak ada signal!” ejek Arhen. Ia lempar hpnya ke kasur karena kesal.


Mereka lihat telepon yang ada di nakas kamar. Mereka memencet nomor Arsen. “Apa-apaan ini?”


“Eh, tunggu! Kau tidak ingat Dik, bukankah kalau kita menelfon area luar, harus menggunakan kode +62? Itu adalah kode negara. Ingatkan waktu Abang pernah kerjain orang India? Nomor awalnya +91 dan negara Inggris +44. Masih ingatkan?”


Ardhen mengangguk.


Mereka pun memencet +62 lalu nomor tujuan. Nihil, hasil yang sama.


Mereka kesal, lalu melihat ada kode angka tertempel. “Dik, sepertinya ini deh kodenya!”


Arhen dengan cekatan menekan angka berkode 333. Tuuuutt! Tersambung.


“Hallo.” ucapnya.


Seseorang menjawab, mereka adalah pelayan dibagian dapur. Arhen mematikan dan menelfon kembali, tersambung pada Satpam.


“Eh?”


Lagi, Arhen memanggil lagi, terhubung pada pelayan pakaian mereka. Pelayan itu meminta menunggu di dalam kamar.


“Maaf, lama menunggu Tuan Muda.” ucap wanita itu dalam bahasa Belanda.


Ia bergegas membuka lemari, mengambil baju tidur.


“We kunnen het zelf!” ucap Arhen saat tangan wanita itu hendak membuka kancing bajunya. (Kami bisa melakukannya sendiri!)


“We hebben je hulp nodig. Ik wil mijn familie in Indonesië bellen.” (Kami butuh bantuanmu. Aku hendak menelfon keluargaku di Indonesia)

__ADS_1


Wanita itu mengangguk. Mengatakan jika mereka harus berganti baju dulu, baru dia akan mengajarkan.


...***...


__ADS_2