
Di Indonesia. Tepatnya di dalam pabrik yang dibeli oleh Arsen.
Jimi telah bertemu langsung dengan Hans. Mereka berbincang-bincang, lalu meminta Hans untuk menemui pemilik perusahaan tempat ia bekerja di Belanda.
“Ini tidak lucu Pak, bagaimana Anda bisa bercanda seperti itu pada saya?” ucap Hans.
“Saya tidak bercanda. Anda bisa baca surat-surat ini, beliau mengangkat Anda menjadi asisten pribadi. Sekarang Beliau menunggu di Belanda.” jelas Jimi dengan menyodorkan surat-surat.
“Anda juga sudah melihat, ini pabrik yang baru dirintis, karyawannya masih 25 orang. Namun, pemiliknya hendak mengembangkannya, jadi ia sangat tertarik dengan proposal Anda.”
Hans hanya mengangguk sembari berpikir
“Baiklah, kalau begitu saya akan pergi ke Belanda.” jawab Hans akhirnya.
“Bagus, kalau begitu, saya akan menghubungi Beliau dan akan ada yang menjemput Anda di bandara setelah sampai.”
____________________
Hans telah sampai di Belanda dengan perasaan bercampur aduk antara percaya dan tidak percaya.
Setelah dijemput oleh orang suruhan teman Jimi dan diantarkan ke apartemen Arsen, ia sedikit percaya namun masih meragu.
Arsen duduk diatas sofa, sedangkan Hans duduk di hadapannya. Menatap anak kecil itu tak berkedip.
“Saya Arsen, dia adalah bodyguard saya dan di apartemen ini saya memiliki 2 orang Maid.” Arsen memperkenalkan dirinya dan tiga orang yang berdiri disampingnya.
“Maksudnya Anda anak Tuan Arsen.” ucap Hans membantu meralat ucapan Arsen. Ia tak percaya jika anak kecil itu adalah atasannya. Otaknya menolak keras untuk percaya!
“Maid akan memandumu selama tinggal di sini. Aku juga ingin melihat beberapa rencanamu, sekalian menandatangani kontrak.”
Hans hanya tersenyum.
“Baiklah, sudah jelas, istirahatlah untuk hari ini karena kau baru saja sampai, besok aku akan melihat cara kerjamu.” Arsen mengibaskan tangannya.
“Mari, Tuan.” ucap salah satu Maid. “Kami akan memandu Tuan.” lanjutnya lagi.
Maid menunjukkan kamar untuk Hans. “Apa di apartemen ini hanya ada dua kamar? Lalu, kalian tidur dimana?” tanya Hans.
“Kami hanya bekerja sampai jam 8 malam, Tuan. Yang bekerja dengan Tuan Muda 24 jam hanya Tuan Bodyguard saja.” jelas Maid itu.
Hans mengangguk. “Baiklah, terimakasih.
Setelah Maid pergi, Hans membersihkan dirinya, lalu tidur.
Keesokan harinya.
Hans kembali bertanya, “Kapan Ayah Anda, Tuan Arsen akan datang, Tuan Muda?”
“Akulah Arsen.” jawab Arsen.
“Oh, jadi Ayah Tuan Muda kapan datang?” Hans kembali bertanya.
“Untuk apa dia datang?” tanya Arsen.
__ADS_1
“Ada urusan dengannya tentang sebuah pekerjaan, suatu saat jika Anda sudah besar pasti akan mengerti.“ ucap Hans mengelus kepala Arsen. Ia masih tak percaya atasannya itu adalah Arsen.
Arsen menepis tangan itu dingin. “Aku tak suka orang lain menyentuh kepalaku sok akrab!” Ia menatap Hans tajam, membuat pria berumur 25 tahun itu menelan salivanya.
“Aku sudah menjelaskan padamu kalau aku Arsen, lalu aku juga sudah mengatakan kemarin akan melihat proposalmu langsung. Apa kau sudah menyiapkannya?”
“Jika sudah, bawa kemari!” perintah Arsen kemudian bermain hp.
“Kenapa kau masih diam disini?” tanyanya melirik dengan sudut matanya.
Akhirnya Hans mengambil proposalnya, menyerahkan file kepada Arsen.
“Silahkan dimulai!” perintah Arsen.
Sedikit ragu dan bingung. ‘Benarkah aku akan presentase di depan anak kecil? Apakah Tuan Arsen itu bercanda? Atau sedang ingin mengujiku?’ gumam Hans.
“Arahkan ke sana!” tunjuk Arsen ke arah dinding.
Hans menghidupkan laptopnya, memulai presentase dengan memantulkan cahaya infokus ke dinding. Mulai menjelaskan rancangannya.
Arsen membaca file dan juga mengamati gambar yang terpantul itu.
Setelah selesai presentase, Arsen melompatkan file yang telah ia coret pada Hans. “Ulangi lagi, banyak kesalahan! Beberapa perkalian kurang teliti, walaupun hanya ceroboh Lima belas rupiah jika dikalikan untuk karyawan 2000 itu angka cukup besar. Ya, walaupun sekarang karyawan baru 25 orang. Bukankah perencanaan ini membutuhkan tenaga kerja 500 orang? Berhati-hatilah dalam membagi dan mengkali angka!”
Arsen kembali memainkan hpnya, tak mempedulikan Hans yang terbengong bodoh.
‘Apakah benar anak kecil ini Tuan Arsen? Itu alasannya Pak Jimi menyuruh saya langsung ke Belanda? Karena pemiliknya anak kecil?’ pikir Hans.
Hans pun mulai serius, memeriksa dengan sangat teliti, lalu kembali memberikan pada Arsen. Lagi, Arsen memeriksanya sebentar, mencoret dan melemparkan kembali, kemudian bermain hp.
Hans merasa sangat bodoh sekarang, hanya dengan seroang anak kecil, proposal yang ia buat susah payah tetap salah.
Lagi, akhirnya selesai sore hari. Arsen telah tertidur.
“Fyuuhhh!” Hans menghembus nafasnya, ia baru saja menyelesaikan dan ingin Arsen memeriksa, tapi anak kecil itu sedang terlelap dengan nyenyak.
Malam pun datang.
Maid telah menyiapkan makan malam, lalu mereka izin pamit.
“Besok aku akan sekolah, aku hanya memiliki waktu libur dua hari dalam seminggu. Aku akan pulang sekolah jam 2-3 siang. Maid akan datang setiap jam 6 pagi.” jelas Arsen di sela makan bersamanya dengan Hans dan bodyguardnya.
“Aku memiliki seorang Ibu dan dua adik laki-laki kembarku, mereka tinggal di Mansion keluarga Papaku. Terkadang Mom akan datang kemari, sedangkan adik-adik biasanya akan datang di hari-hari tertentu. Lihat foto itu! Itu keluargaku.” ucap Arsen menunjuk foto yang tergantung.
“Iya, Tuan Muda.”
“Masalah proposal, letakkan saja dikamarku, aku akan memeriksanya nanti sebelum tidur. Aku akan keluar menemui seseorang sebentar lagi bersama bodyguardku.” lanjut Arsen.
“Iya.”
________________
Arsen sedang duduk di sebuah ruangan VVIP, Ia sedang bertemu dengan Irfan.
__ADS_1
Teman Jimi membuat pertemuan dengan Irfan atas permintaan Arsen.
“Maaf, Tuan, Anak saya tidak mau tinggal di rumah bersama bodyguard. Entah kenapa malam ini dia menjadi rewel. Jadi, saya terpaksa membawanya kemari.” ucap teman Jimi memperkenalkan Arsen sebagai putranya pada Irfan.
Nama pria ini Berend Elmo. Ia memiliki tatto di tangan kiri dan tattoo ular cobra di tengkuknya.
“Dasar anak muda! Kapan kau menikah dan memiliki istri? Aku tidak mendengar!”
“Aku tidak menikahi wanita itu Tuan. Hanya percintaan semalam yang lupa pakai alat pengaman.” jawabnya sembari menghisap rokoknya.
“Kau benar-benar ya. Bagaimana dengan kesepakatan kita?”
“Kerangka kalung?” tanya Berend. Irfan mengangguk.
“Bisa aku melihatnya kembali, Tuan?”
Irfan melihatkan kerangka itu.
“Aku pasti bisa mengerjakannya Tuan, jangan khawatir, asalkan ininya jelas.“ jawab Berend dengan kode menggesekkan jari telunjuk dan jempolnya.
“Kau tenang saja, semua sudah siap!” Irfan mengeluarkan 1 koper uang.
“Hm, ah, ini yang aku suka.” Berend mencium seikat uang dalam koper yang telah dibuka itu.
“Hitunglah!”
“Tidak usah, aku sangat percaya pada Tuan Irfan.” Berend mengambil uang di koper itu.
Arsen masih bersikap layaknya anak-anak, sibuk memakan makanan yang tersaji, namun siapa sangka, anak kecil itulah yang menyusun rencana ini.
Akhirnya pertemuan mereka pun diakhiri.
Berend duduk dikursi belakang mobil bersama Arsen, sedangkan di depan duduk Sopir sekaligus Bodyguard Berend dan disampingnya ada bodyguard Arsen.
“Terimakasih Paman, sudah mau bekerja sama.” ucap Arsen.
“Aku sangat senang bisa membantu anak temanku. Tak kusangka anak Jimi bisa sepintar dirimu! Padahal Jimi itu dulu tidak pintar. Ahahaha!”
Arsen hanya tersenyum kecil saja mendengarkan.
“Bagaimana dengan dia dan para Maid?” tunjuk Berend pada bodyguard Arsen.
“Orang-orang pilihan Paman sangat luar biasa.“ puji Arsen.
“Lalu uang ini bagaimana? Apa rencana selanjutnya? Apakah Paman melanjutkan membuat kalung itu?”
“Uangnya Paman ambil saja, lalu buatlah kalung itu sesuai kesepakatan.”
“Ta-”
“Aku punya rencana Paman. Lanjutkan saja, masalah uang Paman kendalikan saja.”
...***...
__ADS_1