
Billa menatap surat pindah sekolah Arsen.
“Honey, bagaimana ini? Sudah hampir dua minggu Arsen keluar dari sekolah, disini tertuliskan pindah sekolah, tetapi dia tidak pergi ke Belanda. Aku pusing, apa aku daftarkan sekolah di sekitar sini?” tanya Billa pada Jimi.
“Tak usah, minggu depan Arsen akan ke Belanda.” jawab Jimi masih menatap laptopnya serius. Ia tak terlalu fokus dengan ucapan Billa.
“Honeeeey! Kau mau ke Belanda tanpa bermusyawarah denganku dulu, mau pergi tanpa sepengetahuanku?!” teriak Billa langsung berdiri dari duduknya, berkacak pinggang. Marah!
“No, Honey! No. Ok, dengar! Arsen ingin membeli apartemen disekitar sana dengan uangnya.” Jimi menghentikan tangannya dari laptop, menoleh pada Billa yang berkacak pinggang.
“Uangnya?!”
“Hm ... itu ... Arsen memiliki uang yang cukup banyak, aku membantu menyimpankannya. Jadi, dia ingin membeli apartemen.” jawab Jimi salah tingkah. Seharusnya bukan seperti ini memberitahukan berita ini pada Billa.
“Anak kecil itu punya banyak uang? Kau bercanda Honey? Sakinah hanya memberi uang jajan anaknya Rp. 10.000,- perhari. Artinya kurang lebih hanya Rp. 300.000,- perbulan. Ahahahahaha, jangan konyol!”
“Ya, walaupun terkadang aku memberikan dia jajan Rp. 50.000,- itu tak tiap hari juga. Tak mungkin juga, kalau kau berani memberinya belanja 2 juta sehari!” Menyipitkan matanya, seolah mengejek suaminya.
“Baiklah, aku akan menceritakan sesuatu padamu, Honey. Sebenarnya, aku ingin menceritakan ini nanti saja, tetapi sudah terlanjur, jadi aku akan menceritakannya sekarang. Arsen memiliki sebuah usaha yang ia rintis semenjak satu tahun yang lalu, sama halnya dengan Arhen yang memiliki jumlah uang yang cukup banyak dari hasil pemotretan dan aktingnya.”
“Kalau Arhen, aku dan Sakinah juga tahu, tapi Arsen? Anak jutek dingin itu selalu bermain game?” ucap Billa tak percaya.
“Dia bukan bermain game Honey, dia selalu melakukan hal-hal yang kamu dan Sakinah tak tahu.” sambung Jimi lagi.
“Tapi ini aku ceritakan hanya padamu, jangan beritahu Sakinah. Kasihan Arsen, ia sudah menyembunyikan bakatnya selama ini.”
“Maksudmu, kau membiarkan Arsen mencuri data perusahaan dan menjual data-data itu pada lawan bisnis?!! Honey, kau tau tidak itu resiko yang sangat besar!!” seru Billa.
“No Honey, aku sudah membaca dan memeriksanya juga. Arsen memang terkadang iseng membobol data perusahaan tertentu yang ia inginkan. Hanya membaca dan mempelajarinya saja, tak lebih. Ia anak yang menepati janji. Tak akan membuat Sakinah murka.”
Billa terdiam lama, berpikir.
“Honey percayalah, Arsen hanya membuat sebuah aplikasi game dan menjualnya. Kau tau aplikasi Arbluefire? Itu adalah game ciptaan Arsen sendiri.”
“Apa?!” Billa terkesiap, matanya membulat sempurna.
__ADS_1
“Hahahah. Honey, please! You Joke?! Anak kecil itu membuat aplikasi game yang terkenal itu?! This crazy!”
“Ya, begitulah kenyataannya. Arsen mendapatkan banyak uang dari sana. Dia bukan hanya sekedar main game itu, dialah pembuat game itu dan menjualnya. Dia hanya main untuk mencheck sistem dan perubahan pada game, menambahkan Avatar terbaru dan lainnya.” jelas Jimi.
Billa langsung terduduk lemah, kepalanya langsung berputar-putar. Apa yang dia dengar barusan? Anak kecil itu yang membuat aplikasi? Dia pemilik game itu?!
‘Beginikah perasaan Sakinah saat mengetahui kemampuan luar biasa anaknya? Sampai ia berpikir anaknya Alien?’ Billa bergumam.
Genius, anak-anak yang memiliki pemikiran luar biasa diatas orang normal. Orang-orang seperti Arsen pasti paling banyak hanya 10 orang di dunia ini dari ratusan juta manusia.
Arhen dan Ardhen juga dianggap genius, namun kepintaran mereka masih bisa dicerna oleh otak Billa, tetapi Arsen? Billa tak habis pikir.
“Honey, tolong ceritakan semuanya padaku, jangan buat aku terlihat bodoh dan memalukan lagi didepan anak itu. Apa dia juga menciptakan aplikasi TOKTOKTOK?”
“Hehehe. Honey, kamu bisa juga bercanda. Tentu saja tidak. Sepertinya, anak dingin seperti Arsen itu, apakah akan membuat aplikasi seperti itu?”
“Ya, iya juga. Anak seperti Arsen memang cocok membuat game Arbluefire sih. Aaaaahh, kenapa aku bodoh sekali, aku bahkan pengguna game itu, kenapa aku tak curiga dengan huruf awalnya Ar!”
“Game perang yang sangat favorit, tak kusangka pembuatnya anak kecil yang selalu bersamaku!”
“Iya, Honey. Apa kamu masih ingin mendengar yang lain?”
“Beberapa waktu lalu, dia juga membeli pabrik yang tak difungsikan lagi di daerah Galang.”
Kening Billa berkerut. “Untuk apa?” tanyanya.
“Ia ingin membuat perusahaan untuk Sakinah.”
“What?!” Billa tercekat air ludahnya sendiri. “Anak kecil itu mau buat perusahaan?”
“Memangnya ada berapa uang Arsen yang kamu simpan? Mana yang lebih banyak dari Arhen?”
Jimi mengambil hp nya, mengetik sesuatu, mengeluarkan aplikasi bank. “Nih, segini.” Ia sodorkan hp nya di hadapan Billa.
Billa lama terdiam, menghitung dan memastikan jumlah angka yang ada di sana, 10 kali atau 20 kali lebih banyak dari uang Arhen. “Honey, ini berapa jumlahnya, aku tak bisa menghitungnya!” seru Billa tak percaya.
__ADS_1
Anak kecil seperti Arsen dan Arhen lebih kaya dari pada mereka berdua.
Jimi tersenyum, mengelus pipi Billa. “Arsen akan mengajak kita Minggu depan ke Belanda, jangan beritahu Sakinah, kita akan memberi dia surprise! Cup!” Jimi mencium sekilas bibir Billa.
“Honey, aku sungguh tak mengerti, sebenarnya Arsen itu anak kecil atau manusia yang sedang berenkarnasi?”
“Honey, kamu terlalu banyak baca novel dan komik nih? Atau nonton drama Korea dan China romance fantasi? Itu tidak mungkin, sewaktu Arsen kita periksa bersama waktu kecil, anak itu memiliki IQ 180, lebih tinggi dari Arhen dan Ardhen, jadi wajar dengan kita yang hanya memiliki IQ 100.”
Billa tersenyum kecil, memikirkan perasaan Sakinah saat mengetahui kegeniusan anaknya. Sekarang, ia pun juga memiliki pikiran yang sama dengan temannya yang berhijab itu. Menganggap Arsen manusia yang berenkarnasi.
“Lalu, Arsen akan sekolah di Belanda?” tanya Billa kemudian.
“Lihat saja nanti, Honey. Aku dan kamu bekerja di Indonesia, bagaimana mungkin kita membiarkan Arsen yang dititipkan pada kita sekolah di Belanda. Aku akan memikirkannya kembali bersama Arsen. Kamu tenang dan jangan pusing lagi. Aku harus menyelesaikan ini dulu untuk Arhen. Dia mengirim email tadi.”
“Hm, baiklah, jangan lama-lama. Aku merindukanmu.”
“Apa kau sedang menggodaku Honey?”
“Coba tebak!” Billa menjulurkan lidahnya dan berlalu pergi, namun sejurus kemudian ia berputar kembali. Cup! “Cepat selesaikan Honey, aku menunggumu.” Mengedipkan mata dan pergi.
“Nakal!” ucap Jimi tersenyum.
____________
Arsen sedang berada di kamar, sedang mengotak atik komputernya. Seri CCTV yang di kirimkan Ardhen telah ia lacak. Ia sudah memiliki rekaman saat Sakinah di tampar.
‘Apa kau melihat lebam selain di pipi Mom?’ tanya Arsen pada Ardhen saat penyerahan kode seri CCTV saat itu.
‘Saya sudah lihat semua tangan, lutut dan kaki, sepeti yang Abang bilang, tapi tidak ada.’
Ya, begitulah percakapan pendek antara Ardhen dan Arsen kemarin.
Yang namanya jatuh, tidak mungkin pipi yang merah. Pasti lebam pipi ditambah dengan telapak tangan atau goresan ditangan atau kaki. Setiap manusia yang terjatuh, biasanya tangan yang diciptakan Tuhan itu akan reflek melindung tubuh. Layaknya mata yang langsung reflek tertutup saat sesuatu hendak mengenainya, seperti terhembus angin, terkena air ataupun lainnya.
Dan disini, terjawab sudah kecurigaan Arsen. Ia menemukan Ibunya dipaksa memakai baju pembantu, disuruh membersihkan rumah dan mencuci piring. Kata-kata tajam pelayan padanya dengan perbuatan yang tak bisa ia terima, hijab Ibunya yang ditarik paksa dan pipinya yang merah itu karena tamparan.
__ADS_1
Tangan Arsen mengepal membentuk tinju. “Ini tak bisa ditunda lagi, aku harus segera ke Belanda!”
...***...