Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Ganti Rugi


__ADS_3

Isu Edi sakit dan lainnya terdengar oleh Ruksha karena ia selalu keluar untuk berbelanja, mengajar mengaji setiap sore dan didikan subuh setiap Subuh.


Pak Agus dan Buyung Galeme serta istri mereka masing-masing memohon pada Pak RT agar bisa menolong mereka untuk membujuk Andrean. Erik bahkan sudah di suruh minta maaf dan Hasan disuruh membujuk Arsen.


Tapi tidak ada yang berhasil, sejak masalah itu, sikembar tidak pernah keluar lagi dari rumah termasuk Andrean.


~~


Di rumah Sakinah, tepatnya di ruang tamu.


“Pa, Kaka dan Adik masih ingin main di desa Mom. Kami gak mau pulang...” lirih sikembar. Sedangkan Arsen hanya memilih diam.


“Desa ini tidak aman, Kita akan bawa Kakek dan Bibi kalian ke Belanda. Desa ini bahaya untuk perempuan dan anak-anak.” Lagi, sejak kemrin Andrean selalu berkata seperti itu. Ia tak bertanya kenapa dan bagaimana bisa terjadi pertengkaran. Apa yang terjadi dengan Edi ataupun yang lainnya, dia tidak mau tau.


“Mom...” Kini, giliran Ardhen putra bungsunya memohon pada Sakinah, agar membujuk sang Papa.


“Kemarin Mom sudah bilang 'kan? Kalian boleh main, tapi jangan buat masalah.” jawab Sakinah.


“Maafkan kami, Mom...” lirih Arhen dan Ardhen. Sedangkan Arsen tak berkata sepatah katapun sejak kemarin. Saat sakinah bertanya, apa yang ia lakukan pada Edi, ia hanya diam saja, tak ada jawaban sama sekali.


“Apa ada yang ingin kamu katakan pada Mom?” Sakinah menatap Arsen. Anak itu masih saja diam. Sakinah menatap Andrean, berharap suaminya itu bertanya pada Arsen, namun pria itu malah tak peduli. Yang ia inginkan hanya membawa pergi anak dan istrinya dari desa ini.


Toktoktok! Suara ketukan terdengar.


“Biar aku yang buka, Yah!” ucap Sakinah, saat melihat Ayahnya tertatih-tatih hendak membuka pintu.


Saat Sakinah membuka pintu, tampaklah Tek Sariman dan Hanum bersama para suami mereka yang di temani Ayah Billa, Pak RT.


“Silahkan masuk.” Sakinah mempersilahkan tamu mereka masuk.


Sakinah langsung membuatkan air minum untuk mereka, lalu memilih duduk bersama sikembar. Andrean dan Ayah Sakinah duduk di sofa dengan para tamu.


“Mom, tolong hidupkan televisinya dengan suara keras!” pinta Arhen.


“Loh, kenapa? Nanti telinganya sakit.” jawab Sakinah.


“Telingaku lebih sakit mendengar seseorang bicara!” sindir Arhen kesal.

__ADS_1


“Hei, putra Mom tidak boleh begitu!” Sakinah mendekap kepala Arhen. Mengecup pipinya. “Sini, putra-putra Mom, peluk sama Mom.” Arhen dan Arsen memeluk Sakinah di samping kiri dan kanan sedangkan Ardhen memilih tidur diatas tubuh Sakinah dengan kepala yang di belai lembut.


“Ada apa?” tanya Andrean ketus.


Mereka semua menelan salivanya, tidak menyangka jika Sakinah menikah dengan pemilik perusahaan, apalagi setelah mendengar penjelasan Pak RT kemarin, jika Sakinah saat itu hamil tanpa sengaja diperkosa oleh pemilik perusahaan yang sedang mabuk.


“Begini Pak Andrean. Bisakah permasalahan yang kemarin kita bicarakan dengan sedikit kelonggaran. Masalah kemarin adalah masalah anak-anak. Biasanya anak-anak bertengkar hari ini, esok sudah baikan lagi.” Pak Agus memulai ucapannya.


“Iya, Pak Andrean. Maafkan kelancangan istri saya, ke depannya kami pastikan tidak akan pernah seperti itu lagi. Kami akan mendidik anak dan istri kami menjadi lebih baik lagi.” lanjut Buyung Galeme.


“Tolong maafkan kami Pak, tolong cabut lagi perkataan Anda, tolong terima kami dan jangan pecat kami.” pinta mereka memohon.


“Kinah, kemarilah!” Andrean memanggil Sakinah dengan suara setengah berteriak.


“Eh, Papa manggil tuh, sebentar ya, Sayang.” Sakinah melepaskan pelukannya dari anak-anak. “Ya, tunggu sebentar.” Ia menyahuti teriakan Andrean.


Sakinah duduk di samping Andrean. “Iya ada apa?” tanyanya menatap Andrean.


“Sayang, apa kamu mengenal mereka?” tanya Andrean. Sakinah mengangguk mengiyakan.


“Lalu, wanita ini ... Dia menjewer Arsen di depanku. Apakah kau mau memaafkannya? Kalau aku tidak mau. Mereka tidak pantas.” ujar Andrean dengan mengetuk-ngetuk jemarinya di tangan sofa.


Sakinah terdiam, beberapa ingatan terbang melayang mengingat masa lalu. Hanum, Tek Sariman, Bu Linda, Jeng Sarina, Tek Ema, dan lainnya. Mereka sering menghina, mengejek dan memfitnah.


“Aku maafkan mereka.” jawab Sakinah. Andrean terperangah.


“Sayang, kau terlalu baik!” protes Andrean.


“Makasih Sakinah.” ucap Pak Agus dan Tek Sariman, serta Buyung Galeme tapi tidak dengan Hanum, dia diam saja. Ia masih benci dengan Sakinah sekeluarga. Ia hanya terpaksa kemari atas keinginan suaminya.


“Aku memaafkan, aku tidak mendendam, tetapi bukan berarti aku lupa, aku masih ingat. Setiap ibu tidak akan pernah rela anak nya dipukul dan dihardik siapapun. Apalagi di salahkan secara sepihak tanpa mendengarkan penjelasan kedua belah pihak.” jelas Sakinah.


“Apa kau menginginkan keadilan, Sayang.” tanya Andrean.


“Ya, tentu saja.” jawab Sakinah.


Mendengar itu, Andrean tersenyum senang, senyuman devilnya tercetak sempurna. “Anak-anak, Papa tahu kalian belum tidur, kemarilah!” teriak Andrean memanggil sikembar yang tiduran di ruang televisi.

__ADS_1


Sikembar berjalan ke ruang tamu, Arhen dan Ardhen memilih duduk di samping Sakinah, sedangkan Arsen duduk di samping Kakeknya.


“Kalian menginginkan maafku 'kan?” tanya Andrean.


“Iya, Pak.” Jawab Pak Agus dan Buyung Galeme.


“Putraku,” Andrean menoleh pada Arsen. Anak laki-laki itu juga menatap ayahnya.


“Mom menginginkan keadilan. Bisakah kamu menjelaskan kronologi permasalah kemarin?” tanya Andrean dengan sunggingan senyum misterius.


“Tentu, Pa.” jawab Arsen.


“Hari itu kami memancing dan mendapatkan ikan, sehingga kami berjanji kembali bertemu esok subuh. Selesai sholat subuh, kami berencana memancing kembali, tetapi Bang Hasan memanggilku, ia ingin berbincang berdua. Aku meninggalkan Arhen dan Ardhen bersama Agung dan Sudin di halaman Mushola. Setelahnya aku tidak tahu kemana mereka pergi.” Arsen memulai ceritanya.


“Aku di bawa Bang Hasan ke lapangan, kami duduk di sana dan membahas game Arbluefire. Ia sangat senang karena sudah menjadi admin Arkiller Rows for Indonesian Palace.” jelas Arsen, Andrean mengangguk, kagum dalam hatinya.


“Tiba-tiba saja Erik dan Edi datang langsung memaki-maki. Awalnya, pertama kali aku dan adik-adikku ke sungai hari pertama kita sampai di desa, kami bertemu dengan Erik. Ia melarang kami bermain di sungai, karena sungai itu milik ayahnya. Lalu, Kak Hasan marah, karena itulah Erik mengadu dan mengatakan Bang Hasan menantangnya.”


“Kami tidak ingin berdebat, lalu memutuskan pergi. Aku memakan permen kesukaanku yang harganya 25 juta. Tetapi ia mengejekku sehingga aku melemparnya dengan permen.” jawab Arsen.


“Maaf, Nak Arsen. Jika dilempar dengan permen, kenapa mengeluarkan asap tebal dan membuat putra kami pingsan?” tanya Pak Agus.


“Oh, itu karena permen kesukaanku mahal. Paling murah harganya 25 juta, jika dilempar bisa mengeluarkan asap dan membuat orang pingsan.” Arsen berdiri. “Kemarilah Paman Agus, ikuti aku!” pinta Arsen.


Bukan hanya Agus, tetapi semuanya, selain Sakinah dan ayahnya mengikuti Arsen. Anak laki-laki itu berdiri di halaman, dengan wajah jumawa berkata. “Ini permenku yang paling murah, harganya 25 juta.” Ia membuka permen itu, lalu mengemutnya sebentar agar basah karena air ludahnya, bergegas ia lempar ke halaman yang kosong.


Duar! Keluarlah gumpalan asap beraroma permen karet, membuat mereka yang di sana terbatuk-batuk.


“Tutup hidungnya, ayo pergi dari sini!” ajak Arsen.


Mereka kembali duduk di sofa. Dengan raut wajah yang masih tercengang. “Permen kesukaanku itu tidak banyak, itu hanya aku gunakan untuk menjaga diri saja dari para penculik. Adikku juga memar-memar karena dipukul. Aku merasa banyak rugi. Uang jajanku jadi terbuang cuma-cuma.”


“Papa, menurutmu, apa yang harus aku lakukan? Seharusnya aku mendapatkan ganti rugi 'kan?” Arsen menatap Andrean, pria itu mengangguk, mengiyakan ucapan putranya.


“Bagaimana kalau Tante Hanum menyerahkan surat rumah lama Momku kembali dan Tante Sariman, tolong buatkan kembali gerobak lontong Bibi Rukhsa yang dulu kamu hancurkan sebagai ganti dari permenku yang terbuang percuma.” Arsen menatap dua wanita itu tersenyum cerah tanpa dosa.


Senyuman itu tentu saja terlihat ngeri oleh mereka.

__ADS_1


__ADS_2