Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Rapat


__ADS_3

Shalsabilla datang ke rumah dengan seorang wanita. Sakinah menjabat tangan wanita itu.


“Perkenalkan, saya Jenny.” ucapnya, mengulurkan tangan pada Sakinah.


“Ini guru yang kucarikan untuk Sikembar.” jelas Shalsabilla.


“Sakinah, Ibunya anak-anak.” Sakinah menyambut tangan wanita itu.


“Salam sama Bu Guru.” pinta Sakinah.


Arhen, Ardhen dan Arsen menyalami wanita itu dengan mencium punggung tangannya. “Ini Arsen, ini Arhen dan ini Ardhen.” Sakinah memperkenalkan mereka satu-persatu.


“Mari, Bu.” Sakinah mengajak guru itu masuk ke ruang belajar anak-anak, di antara ruang nonton dan dapur.


“Nah, kalian belajar yang rajin dan benar. Mom akan membuat cemilan dulu.” ucap Sakinah pada mereka.


“Aku serahkan anak-anak pada Ibu. Aku permisi dulu.” pamitnya.


Beberapa hari yang lalu, Shalsabilla telah menceritakan pada Sakinah jika Arsen meminta guru privat bahasa Belanda, ia menyetujuinya karena setelah kontrak kerja habis, Andrean akan menjemput mereka, begitulah perjanjian yang telah ia sepakati dengan pria itu.


Sakinah keluar dan menuju dapur yang juga diikuti Shalsabilla.


“Kinah, aku pasti akan merindukan anak-anak jika kalian pergi ke Belanda.”


“Oh, cuma merindukan anak-anak? Tak merindukan aku?” cebiknya.


“Kau sama anak-anak 'kan sepaket. Ah, aku jadi pengen tinggal di Belanda juga.” Ia menghela nafasnya.


“Bukankah ada Arsen yang bersamamu, kita bagi-bagi anak tuh,” jawab Sakinah tersenyum kecil.

__ADS_1


“Arsen pasti ada maunya, anak itu ketus, dingin, cuek, otakku gak nyampe dalam pikirannya. Aku lebih suka My Handsome.” Ia memberungut.


“Kau ini, jika Arsen dan Arhen mendengar, mereka akan ribut kembali. Mereka sama-sama anakku. Lagian, mereka sangat menyayangimu, jangan dibandingkan begitu.”


Pletak! Shalsabilla menggentik kepala Kinah.


“Bukan membandingkan yang seperti itu aku maksud, tetapi aku lebih nyaman dan merasa Arhen lebih anak-anak, sedangkan Arsen sikapnya waspada dan dewasa, tak imut, tak sesuai dengan umurnya.”


“Sudahlah, aku malas berdebat denganmu, mending kamu duduk di sana, aku akan membuat bakwan. Kamu mau?”


“Mau, mau.” Shalsabilla langsung mengangguk dengan semangat.


“Hooo, kalau makanan saja, kamu semangat!” kelakar Sakinah.


_______________


Dedrick sedang duduk di kursi kebesarannya, Andrean duduk disebelahnya, Irfan dan beberapa orang lainnya duduk saling bersebelahan dimeja besar di ruang rapat.


Toktoktok! Ketukan pintu dari karyawan pengantar cemilan dan minuman. Alex melirik dan memberi anggukan, kemudian karyawan itu maju dan meletakkan cemilan serta minuman di hadapan semua orang yang sedang rapat itu.


Selang kurang lebih 2 jam melakukan rapat, keputusan pun diputuskan oleh Dedrick setelah berbisik pada Andrean yang menyetujuinya juga.


“De vergadering is voorbij. Zullen we het eens hebben over het videoprobleem dat destijds verschrikkelijk was?” Tiba-tiba Irfan berbicara seperti itu saat semua orang sudah mulai berkemas hendak menutup rapat hari ini. (Rapat sudah selesai. Haruskah kita membicarakan video yang menghebohkan saat itu?)


Semua orang jadi saling menatap.


“Ja, we moeten het bespreken, het rechtzetten en een uitweg uit dat probleem vinden.” sahut seseorang diantara mereka. Kemudian yang lain juga mengangguk. (Ya, kita perlu membahasnya, meluruskan dan mencari jalan keluar dari masalah itu.)


Dedrick dan Andrean sudah curiga Irfan akan membahas itu.

__ADS_1


“Maak je geen zorgen. Wat vermoed je? heb ik een slechte prestatie geleverd? Als ik het slecht doe, denk ik er natuurlijk over om het te repareren. Nu zie je, ik zie er ontspannen uit.” ucap Dedrick dengan tatapan tajam menghunus. (Jangan khawatir. Apa yang kalian curigai? Apakah aku berkinerja buruk? Jika aku melakukannya dengan buruk, tentu saja aku akan berpikir untuk memperbaikinya. Sekarang lihat, aku terlihat santai.)


“Nee, we hebben bewijs nodig. Dat kind lijkt erg op jou, je nakomelingen hebben invloed op de volgende opvolger. Natuurlijk begrijp je dat?” balasnya. (Bukan begitu, kami butuh bukti. Anak itu sangat mirip dengan Anda, keturunan Anda mempengaruhi penerus berikutnya. Tentu Anda mengerti?)


Perkataan itu malah membuat Irfan semakin marah, semua orang hanya seolah mementingkan keturunan Wizza. Kenapa harus anak Dedrick? Ia juga memiliki seorang putra, kelulusan Universitas Harvard, anak dari seorang konglomerat yang terpandang dan ternama, bukan seperti Sekar seorang wanita yang baru dikenal setelah menikah dengan Wizza. Hanya memiliki usaha jewerly.


Ya, sebenarnya antara anak Dedrick dan Andrean, posisi mereka akan sama bagi mereka, namun kepercayaan sepenuhnya mereka tumpukan pada Dedrick, Andrean yang tak serius bekerja, suka bergonta-ganti wanita, siapa yang tidak tahu kebiasaan buruk itu?


Wizza adalah anak kandung satu-satunya keturunan Van Hallen dengan Nyonya Asabel Nicolas sang keturunan kerajaan Inggris. Sedangkan Irfan anak hasil selingkuhan Van Hallen bersama dengan seorang pelayan.


Saat Van Hallen tutup usia, perusaahan sepenuhnya diberikan pada anak kandungnya Wizza, sedangkan Irfan hanya mendapatkan 20% dari semua harta warisan. Itu semua membuat Irfan cemburu dan iri.


Sifat dan karakternya menyalin semua sikap Ibunya yang pelakor. Ibunya seseorang yang dibantu oleh Nyonya Asabel, kehidupannya yang memprihatinkan membuat Nyonya Asabel kasihan, Beliau memberikannya pekerjaan menjadi pelayan dengan gaji yang besar. Ibu Irfan yang rakus bukan hanya menjadi pelayan biasa, ia terus-menerus menggoda Tuan Van Hallen, hingga mereka melakukan sesuatu. Pelayan yang juga melayani urusan ranjang.


Suatu hari kelakuan busuk itu terkuak, Nyonya Asabel pun jatuh sakit dan meninggal. Van Hallen menikahi Ibu Irfan setelah itu, membuat hubungan Wizza dan Irfan selalu dalam mode perang perasaan setiap saat. Wizza tidak menyukai adiknya yang terlahir dari Ibu tiri.


Wizza sangat membenci ayahnya dan keluarga barunya, Ibu tiri dan adik tiri. Ia selalu bekerja keras, menjauh dari ayah dan Ibu tirinya, ia sangat jijik.


“Oom, je vertrouwt me toch? Ik zal zeker niets slechts doen.” Dedrick berkata sembari membuat senyum tanpa dosa, Andrean juga tersenyum dengan tatapan tajam. (Paman, kamu percaya padaku, bukan? Aku pasti tidak akan melakukan hal buruk.)


“Natuurlijk doe je altijd je best. Oké, ik denk dat het allemaal voorbij is, laten we deze vergadering beëindigen.” jawab Irfan memaksakan senyum. (Tentu saja Anda selalu melakukan yang terbaik. Oke, saya pikir semuanya sudah berakhir, mari kita akhiri pertemuan ini.)


‘Sialaaaaaan! Aku akan menemukan bukti, kalian lihat saja nanti, tersenyumlah sekarang, akan aku pastikan kalian berdua terjatuh dan menderita.’ Irfan bergumam dalam hati dengan dongkol.


“Goed, vergadering voorbij.” ucap Dedrick menutup pembicaraan. (Baiklah, rapat selesai.)


Semua saling berjabat tangan dan keluar dari ruangan dengan teratur.


“Kak, kau lihat wajah Paman? Dia sepertinya sangat kesal.” Andrean menyunggingkan senyuman mengejeknya. Dedrick pun juga membalas dengan tersenyum.

__ADS_1


“Waspadalah setelah ini, anak-anak dan istrimu akan datang kemari, jaga mereka dengan baik!” Dedrick menepuk pundak Andrean, lalu berjalan pergi yang juga di susul oleh Andrean serta asisten mereka masing-masing yang berjalan dibelakang mereka juga.


...***...


__ADS_2