Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Salah Paham


__ADS_3

“Mendekatlah! Bagaimana aku bisa menciummu dengan posisi yang jauh begitu.”


Puk! Puk! Andrean menepuk-nepuk kasur.


“Duduklah disini, di sampingku!” perintah Andrean.


Dengan patuh Sakinah duduk di samping suaminya.


‘Sialaaan! Kenapa aku yang jadi berdebar begini!’ Andrean bermonolog dengan hatinya.


Baru kali ini dia memiliki perasaan grogi terhadap wanita.


Mata Sakinah yang sedikit sipit itu beberapa kali berkedip. “Aku tidak jago, maaf jika aku tidak bisa memuaskanmu. Aku akan belajar.” jawab Sakinah.


Ah? Perkataan yang terdengar aneh ditelinga Andrean, terdengar seperti aku siap melayanimu. Sakinah benar-benar membuat orang yang mendengarkan akan salah paham.


Andrean merapikan duduknya, pikirannya mulai berkelana. “Ekheem! Aku sudah mengatakan tak menyentuhmu di dalam kontrak, aku tak meminta dilayani diranjang, hanya ingin menciummu.”


Sakinah menatap Andrean dengan wajah polos. “Iya, aku juga memikirkan ciuman, bukan itu.” Sakinah menundukkan kepalanya saat mengatakan, bukan itu. Wajahnya benar-benar panas, ia malu sekali.


Ditambah dengan pernyataan konyol Billa yang tiba-tiba bermunculan.


‘Kinah, punya orang luar Big loh! Kamu bisa menangis, encokan. Hahahaha.’ selorohnya terkekeh-kekeh.


Wajah Kinah semakin memerah, membuat Andrean semakin salah paham. Ia menjadi gemes dan semakin ingin mencium istrinya itu.


“Oh, baiklah. Aku tak sungkan lagi.” Andrean mengangkat dagu Sakinah ke atas, membuat wajahnya mendongak menatap Andrean.


Pria itu semakin membuat wajah mereka berdekatan, tangan Kinah menggenggam erat bajunya, gugup, ia tutup matanya. Andrean berhenti sesaat, tersenyum melihat tingkah Kinah, ia menjadi semakin mengerjainya.


Deru nafas mereka saling terasa menyapu wajah masing-masing saking dekatnya, mata Andrean tak terlepas melihat bibir Kinah yang sedikit menggigit bibir bawahnya karena gugup.


‘Sial, sepertinya aku yang kena!’ Andrean pun kalah, ia yang berniat mengerjai malah tak tahan melihat bibir itu, lalu menciumnya. Cup!


Manis, mendebarkan, polos, kaku, perasaan yang sangat berbeda rasanya dengan ciuman para wanita yang ia cium selama ini.


“Kau belum pernah berciuman?” tanya Andrean saat melepaskan pagutan bibir mereka.


“Pernah, aku sudah menikah sebelumnya.” jawab Sakinah.


“Kenapa lidahmu kaku sekali?” protesnya.


Tentu saja Sakinah kaku, ia masih teringat dengan Andrean yang memperkosanya. Walaupun ia memiliki iman dan ketegaran hati, serta sudah memantapkan hati untuk memilih Andrean menjadi suaminya, trauma tidak akan langsung sirna seketika.


Bayang-bayang Andrean memaksanya masih jelas. Namun, ia hanya bersikap menghormati suami. Bukankah redha Tuhan terletak pada suami? Itulah yang sedang ia tanamkan pada dirinya. Ia hanya sedang mengabdi.


“Hm, yang seperti itu, aku belum pernah melakukannya.” jawabnya asal.


‘Apa? Dia belum pernah melakukan yang seperti itu? Memangnya suaminya mencium seperti apa sih dulu?’

__ADS_1


Lagi, Andrean mencium bibir Sakinah lebih rakus. Ia peluk tubuh sakinah lembut, sentuhan demi sentuhan membuat Sakinah yang tadi kaku menjadi sedikit relaxs, lebih tepatnya ia kegelian dan terbawa suasana.


Itu semua membuat Andrean semakin salah paham. Ia menjadi yakin, kalau Sakinah pertamakali melakukan itu dengannya. Menurut pengalamannya, wanita yang belum pernah melakukan itu akan kaku, lalu perlahan akan santai dan sangat menyukai. Ya, begitulah menurutnya!


Entah berapa kali Andrean melepas dan mencium kembali bibir Sakinah, hingga ia benar-benar melepaskannya karena sesuatu sudah memberontak di bawah sana. Ya, burung elang dalam celananya!


“Bibir yang manis.” ucapnya. Ia berdiri membuka laci nakas, menandatangani sebuah cek.


“Ini untukmu, tulislah berapapun yang kamu mau.” Ia berikan cek pada Sakinah.


Ia pakai baju kaos, lalu mengambil rokok dan korek, memilih duduk di balkon.


Sakinah hanya menatap kertas kecil yang disebut cek untuk mengambil uang itu. Ia simpan di dalam dompetnya, kemudian memilih tidur duluan.


Ya, begitulah kebiasaan Andrean, setelah menyentuh seorang wanita, ia akan memberikan uang padanya. Kini, ia juga melakukan itu karena telah mencium bibir Sakinah.


‘Gila, bibirnya nikmat sekali!’ Andrean bergumam-gumam.


Setelah menghabiskan beberapa batang rokok, ia masuk kembali ke dalam kamar, mendapati Sakinah yang sudah tertidur.


‘Dia cantik sekali, bagaimana bisa aku menahan saat ada seorang wanita tidur disampingku. Sepertinya aku harus segera menjauh!’


Ia baringkan tubuhnya menjauh dengan jarak bantal guling.


______________


Pagi datang menyapa,


Bergegas ia melepaskan pelukan karna si kecil dibawah sana juga terbangun dan membesar, sungguh pria normal.


Ia bergegas bangun dan ke kamar mandi.


‘Aku bisa gila kalau seperti ini, aku harus kembali ke apartemenku!’


Ya, Dedrick dan Andrean memiliki apartemen sendiri. Namun, sang Mama melarang mereka tinggal berpisah. Jadi, mau tak mau tinggal bersama, hanya sekali-sekali mereka mengunjungi apartemen.


“Beberapa waktu ke depan aku akan tinggal di apartemen, Ma. Ada urusan.” ucap Andrean di saat sarapan pagi bersama.


“Urusan apa?” tanya Sekar, tatapannya penuh selidik. Apalagi yang akan dilakukan putranya yang satu ini.


“Bagaimana dengan istri dan anak-anakmu, apa mereka mau kau bawa?” tanya Sekar.


Kini semua mata kecuali Wizza terbelalak sempurna.


“Tidak, Ma.” jawabnya. Membuat semua orang kembali lega.


“Kenapa? Apa kau....”


“Tidak, Ma.” jawab Andrean lagi.

__ADS_1


“Ya sudah, terserah kau. Apa Sakinah setuju?”


“Dia setuju Ma.” sahut Andrean lagi.


“Aku tak bertanya padamu, benarkah kau sudah mengizinkannya, Kinah?” tanya Sekar menatap Sakinah lembut.


“I-iya, Ma.” bohongnya, padahal ia baru tahu detik ini.


_____________


Arhen meminta diantarkan ke apartemen Andrean malam ini. Ia beralasan ingin bertemu ayahnya itu karena rindu. Sungguh? Tidak! Dia hanya sedang berakting, hanya ingin melihat apa yang dilakukan Andrean.


Saat mereka tiba di sana, Keadaan Andrean sangat buruk. Ia berdiri di daun pintu yang terbuka, bibirnya berdarah. Lalu, seorang wanita setengah bertelanjang keluar dari dalam apartemen itu.


“Jadi Papa meminta pindah ke apartemen ingin selingkuh dari Mom? Jika Papa tidak menyukai Mom, berpisah saja dengannya. Aku sungguh benci kamu, Pa!” Arhen menangis.


“Papa kedua, ayo kita kembali aku tak ingin di sini.”


Dedrick menatap tajam Andrean sembari menggendong Arhen yang memeluknya dan membenamkan wajahnya di badan tegap Dedrick.


“Sudah jangan menangis lagi, mau Papa belikan sesuatu?” bujuknya mengelus punggung Arhen.


Andrean menghela nafasnya, ia bergegas mengunci apartemennya, mengganti kata sandi baru.


Sedangkan ditempat lain, tepatnya diatas pesawat. Arsen sedang tertidur, Billa mengelus wajah anak itu berdua dengan Jimi.


“Aku tak sabar ingin berjumpa mereka dan melihat Negara Kincir Angin ini.” ucap Billa pelan agar tak membangunkan Arsen.


“Sabar Honey, sebentar lagi kita akan sampai.”


Tak terasa mereka pun sudah sampai. Seorang pria kenalan Jimi datang menyambutnya. Memeluk Jimi dan bersalaman dengan Billa.


“Dia anakmu?” tanyanya pada Jimi.


“Iya.” jawab Jimi.


“Bukankah kalian baru menikah? Anak kalian sudah besar saja? Anak adopsi?” tanyanya lagi.


“Kau ini masih saja cerewet! Sampai kapan kita akan berjemur dibawah terik matahari ini? Mengobrol berdiri tanpa air minum?!” sindir Jimi.


“Ahahaha, kau ini masih saja berbicara tajam. Ayo, aku akan mengantarmu ke tempat yang ingin kau kunjungi itu.”


Mereka pun telah sampai. Apartemen yang dibeli Arsen telah menyambutnya.


“Selamat datang, ini tempat yang kalian minta itu.” ucap Pria itu pada Jimi.


“Makasih, ya.” Jimi menepuk pundak pria itu.


“Ayo, masuk! Lihat, apakah ada yang kalian inginkan lagi, mumpung aku lagi santai, aku akan membantu dan mengajak kalian mengenal Negara tercinta ku ini.” ucapnya dengan menepuk dada, bangga.

__ADS_1


Mereka pun masuk bersama ke dalam Apartemen itu.


...***...


__ADS_2