Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Bahaya


__ADS_3

Sebelumnya, Arhen saling bertukar kabar dengan Arhen dan Ardhen. Dua adiknya itu kini semakin jauh dan sibuk. Ardhen yang jauh lebih fokus pada perusahaan makanan dan minumannya di Vend Beutique. Arhen juga sibuk menyelesaikan semua agenda terakhirnya menjadi selebriti. Yang membuatnya lebih sibuk lagi, rupanya wanita yang dia nikahi tanpa sengaja itu adalah gadis kecil yang sangat dia sukai. Hingga dia bersenang-senang.


Arsen senang mendengarnya, dia juga tak sabar ingin bertemu dengan Arhen dan adik iparnya itu di kampung ibunya nanti, jadwal kepulangan mereka sebentar lagi, karena Jay dan Jamila akan segera naik kelas. Akan tetapi, perusahaan malah jadi tak terkendali.


“Ros, aku ingin kau baik-baik saja....” lirih Arsen sambil mengotak-atik laptopnya. Akhirnya, dia menemukan koordinat Roselia.


Dia segera menghubungi Xander Pim dan pengawal lainnya, tak banyak, karena Vindo juga membawa beberapa orang untuk membantu Berend Elmo.


“Aku akan pergi bertemu klien, Hans juga sedang bertemu klien di luar!” ucap Arsen pada Sekretaris yang berada di samping ruangannya.


“Baik, Pak!” jawab Sekretaris itu. Arsen pun berjalan dengan Xander Pim sampai parkir. Di luar, beberapa pengawal sudah bersiap dan mengikuti Arsen.


Saat hampir sampai di titik koordinat, Arsen curiga, tempat begitu hening dan sunyi, lalu dia berpikir, bukankah penyerang pasti pintar, pasti dia akan menutup jejak koordinat Roselia, sedangkan sekarang seolah dia dituntun. Bukankah yang selama ini menyerang perusahaannya orang-orang pintar, dua pengawal rahasia yang dia pekerjaan untuk mengawasi Roselia juga bukan sembarangan orang.


Arsen memencet pin di krah bajunya “Putar balik, ini jebakan!” Baru saja Arsen berkata seperti itu. Doar! Satu mobil yang berisi 5 pengawal meledak. Sedangkan yang lainnya sudah berhenti dan putar balik. Saat mereka berputar, mereka sudah disambut beberapa pria berbadan kekar, bertato, dan tampilan slengekan layaknya preman dengan senjata.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor!


“Sial! Paman, aktivkan ring!” Mobil Arsen yang satu ini memang bukan main canggihnya, sejak dulu, dia sudah memodifikasi mobilnya, bukan hanya sekedar laju yang cepat, tapi ketahan dan keamanan.


“Paman, aktivkan protection turbo!” seru Arhen, dia segera menarik laci di bawah bangkunya, memakai jacket anti peluru, lalu memberikan satu jacket lagi pada Xander Pim.


Jas yang dia pakai sehari-hari memang bisa anti peluru, tapi hanya dengan jenis senjata ringan, tidak dengan senjata memusnahkan seperti senjata para preman yang ada di hadapannya sekarang. Jacket anti peluru yang dia pasang sekarang lebih berat dan tebal, harganya bukan main. Arsen memang suka mengoleksi barang mahal yang kegunaannya juga geleng-geleng kepala.


Arsen mangambil kotak kecil yang terletak di saku kursi depan. “Masukkan ini di ring protection!” pinta Arsen pada Xander. Dia juga melakukan hal yang sama, sebuah benda kecil yang mirip vitamin rambut, satu biji harganya 20 juta rupiah. Setelah benda kecil itu dimasukkan. “Go!” perintah Arsen.


Arsen memfasilitasi mobil para pengawalnya untuk bisa melihat dan melewati kabut buatannya, sehingga para pengawal bisa mengikuti gerak dan menyelamatkan diri. Beberapa mereka tertembak, dua orang menghembuskan nafas terakhir mereka karena kaca mobil mereka pecah, mobil mereka berada di urutan paling depan untuk ditembaki, sehingga penumpang yang dibelakang memilih mengambil kemudi dan mengikuti Arsen.


Setelah pengawal mengikuti, Arsen mengintruksikan agar mereka segera menjauh ke tempat aman, sedangkan Xander Pim memperlambat laju mobil, sehingga keberadaan mobil mereka berada paling belakang sekarang. Beberapa orang mengikuti mereka dan menembak.


“Protection kill!” seru Arsen yang masih mengintai dengan teropong ajaib yang di sebut dengan ring.

__ADS_1


Xander Pim menekan tombol merah bertanda tengkorak. Setelah menekan itu, Xander Pim langsung menginjak pandel gas, melajukan mobil dengan kecepatan penuh.


Doar! Senjata seperti roket yang terbang itu mendarat tepat di tengah mereka yang sedang mengejar Arsen. Benda itu meledak, memusnahkan lebih dari setengah kelompok mereka.


“Sial! Paman, segera bawa aku ke apartemen!”


Arsen membuka laptop ajaibnya, masih berpikir. “Apakah ini hanya tipuan untuk memancingku, uh!”


Tiba-tiba hp nya berdering. “Son, save ur self!” Sebuah pesan dari Andrean, menandakan bahaya.


“Paman, putar arah, kita ke mansion!” seru Arsen. Dia melihat cincin safire yang ada ditangannya, satu bertanda merah, satu berkedip.


“Paman! Cepat!” teriak Arsen tak sabaran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2