Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Karakter Baru


__ADS_3

Adegan kibas-kibasan tangan pun terjadi.


“Sudah, kalian kenapa sih seperti Tom and Jerry! Selalu saja seperti ini. Lihat dong contoh film lain, antara Papa dan anak itu akur dan kompak!”


“Ya, bagaimana lagi, anakku yang genius itu suka menonton film Tom and Jerry sama Spiderman, jadi ia selalu saja mencari pertengkaran denganku.”


“Dari pada Papa, suka menonton film Frozen! Sedikit-sedikit dingin, sedikit-sedikit minta dihangatin!” jawab Arsen.


‘Eh?’ Sakinah dan Andrean terkesiap.


Ucapan dingin minta dihangatkan sering diucapkan Andrean saat menggoda Sakinah, itupun ia lontarkan saat di dalam kamar berdua dengan Sakinah.


Ia mengusap wajahnya, malu.


‘Lain kali! Aku harus mengingatnya! Meletakkan dan membuka cincin Sakinah juga saat berada di dalam kamar!’ gumam Andrean.


Ya, beginilah nasib memiliki anak yang genius di bidang IT. Hal privasi antara suami istri bisa diketahui jika tak berandai-pandai!


“Moooom!” Ardhen berjalan cepat sembari membawa hidangannya. Bergegas meletakkan dimeja, memeluk Sakinah posesif.


“Dasar anak kecil!” dengus Arsen melihat Ardhen. Padahal dia juga anak kecil!


“Abang curang, bermanja-manja sendirian bersama Mom, Adik juga mau!”


Sakinah membelai dan memeluk Ardhen juga.


“Sini, sama Papa satu! Mom keberatan tuh!” Andrean langsung meraih tubuh Arsen.


Arsen mendengus dan meronta, namun Andrean menepuk pantatnya.


“Papa!” Arsen menatap tajam.


“Sssst! Ayo, kita cicipi makanan Adik, Papa dan Mom sudah sangat lapar sejak tadi!” ucap Andrean sembari mengelus rambut tebal nan hitam milik Arsen.


“Oh, iya! Miss dan Daddy mana?” tanya Ardhen mengedarkan pandangannya.


“Eh, iya, ya!”

__ADS_1


“Mereka tadi pergi bersama Hans. Cuma kita, Xander dan para maid di apartemen ini. Mereka di sana!” tunjuk Andrean ke arah para pelayan berkumpul dengan pandangan matanya.


“Ini cukup?” tanya Arsen menatap dua piring penuh spaghetti buatan Ardhen.


“Dasar Ayam Gendut, belum juga dicicipi, sudah takut kehabisan duluan.” ucap Andrean sembari menyuapi spaghetti ke mulut Arsen.


Arsen membuka mulutnya, mengunyah sambil menggerutu!


Akhir-akhir ini, Andrean semakin dekat dengan ketiga putranya, Arsen pun sudah mulai sedikit terbuka padanya, tidak terlalu dingin.


“Pa, Adik juga mau disuapi!” rengek Ardhen.


Sakinah dan Andrean pun saling menyuapi Arsen dan Ardhen.


~


Perut sudah kenyang, makanan sudah tandas. Kini, Arsen dan Andrean sama-sama bermain laptop, entah apa yang mereka berdua otak atik di sana. Sedangkan Ardhen dan Sakinah kembali sibuk membuat cemilan, tentu saja dibantu beberapa pelayan!


Pasalnya, Sakinah tak boleh luka dan lelah atas perintah semua keluarga Van Hallen, mulai dari kedua mertuanya, suaminya dan tiga putranya, Tuan Muda kembar Van Hallen!


“Mom, duduk saja, lihat Adik! Nanti Mom capek dan berdarah lagi perutnya!” ujar Ardhen.


Pada akhirnya, ia hanya sakit perut menstruasi, Andrean padahal paham, tetapi ia membiarkan tiga anaknya menelfon Dokter dan membuat seisi mansion ribut! Memalukan bukan?


“Sayang, itu beda lagi! Itu Mom sakit perut karena masa pertumbuhan! Waktu itu dokter menjelaskannya bukan? Kalau Mom berdarah demi pertumbuhan. Jika wanita dewasa yang sehat selalu sakit perut dan berdarah setiap bulan. Itu tandanya sehat dan bertumbuh menjadi wanita kuat!” jelas Sakinah.


“Ehm ... tetapi Mom tetap tidak boleh bekerja. Kami akan bekerja keras, mengumpulkan banyak uang, jadi Mom tidak perlu melakukan apapun lagi. Selama ini, Mom selalu bekerja keras untuk kami! Jadi, sekarang biarkan kami yang bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan Mom. Papa juga pasti setuju!” ucap Ardhen penuh keyakinan.


“Heeeem... ok, Mom duduk saja deh!” Sakinah akhirnya mengalah, ia sungguh menjadi burung di dalam sangkar emas sekarang! Bukan hanya dilarang oleh mertua dan Andrean, tetapi tiga putranya! Tidak boleh kemanapun, melakukan apapun. Menjadi Nyonya muda keluarga kaya raya itu tak seindah praduga!


Kini, ia hanya menjadi penonton betapa lihainya tangan mungil Ardhen membuat macam-macam kue, mulai dari kue-kue kering hingga brownies!


Akhir-akhir ini, Ardhen membuat kue beberapa kali, mencoba dengan beberapa resep baru ciptaannya!


“Apa benar Papa memberikan SweetTown padamu? Lalu ... Vend Beutique usaha baru Abang?” tanya Sakinah disela-sela kegiatan Arhen. Masih kurang percaya akan informasi baru yang ia dengar. Anak-anak berusia 7 tahun sudah lihai berbisnis?


“Iya, Mom! Abang membeli tempat itu, Paman Berend dan Hans yang mengurusnya, temanku Abraham Holt bekerja di sana, koki tetapnya Tuan Samber yang pernah bekerja diresort Paman Alex dulu!” jelas Ardhen.

__ADS_1


“Kalau masalah SweetTown, baru beberapa hari ini Papa memberikannya padaku, sekarang Abang sedang membantu merenovasinya. Semoga nanti ramai seperti toko Vend Buetique milik Abang!” lanjut Ardhen lagi.


“Aamiin. Semangat Dik. Anak Mom pasti bisa, biasanya kue buatan Adik selalu laku setiap Mom jual.”


“Itu 'kan di Batam Mom! Di Belanda aku kurang percaya diri. Apakah akan sama lidah Indonesia dengan lidah Belanda. Sedangkan Vend Buetique, kokinya memiliki lidah cita rasa Belanda.”


“Kalian juga asli orang Belanda! Tetapi juga Indonesia! Bukankah bagus, perbedaan rasa itu yang diburu pembeli, kalau rasa umum lidah Belanda, kuenya tidak akan menarik! Bukankah sesuatu yang berbeda lebih menarik perhatian?” Sakinah mencoba menyemangati putra bungsunya.


Sakinah masih sibuk mengobrol dengan Ardhen di dapur, begitupula dengan Arsen dan Andrean.


Maklum para pria, mengobrolnya pendek-pendek, namun tangannya asyik dan kompak.


“Kenapa tak menambakan ikon jual beli senjata baru dan coletion diamond serta clotingnya?” tanya Andrean saat bermain Arbluefire bersama Arsen, game ciptaan Arsen.


“Cukup sulit, banyak pengguna tak bisa memainkannya nanti, jika membutuhkan ram besar! Kalau aplikasi gamenya di-update lagi dan ditambahkan beberapa icon baru, ukurannya juga akan semakin besar, Pa!” jawab Arsen.


Andrean menatap Arsen sembari berpikir.


“Itu karena game ini masih baru Pa, masih dalam mode perkenalan! Jika penggemarnya sesuai targetku dalam tahun ini, aku akan menambahkan tiga karakter lagi untuk akun, lalu pembuatan aura. Tentu saja, jika banyak penggemar dan mereka candu, itu akan memungkinkan mereka mendukung update terbaru!” jelas Arsen.


Andrean mengangguk-anggukan kepalanya. “Aura? Aura kasih, artis yang ditonton Mommu itu?” tanya Andrean kemudian dengan tergelak.


“Aku bukan membahas orang!” sahut Arsen dingin.


“Ekhem, oh. Jadi, aura seperti apa yang ingin kamu buat? Jika Papa bisa membantu, papa akan membantu.” ucap Andrean serius. Ia dengan cepat merubah mimiknya saat melihat tatapan Arsen yang benar-benar serius.


“Aku pernah bermain game buatan Rusia. Cukup menarik, jadi aku mendapatkan inspirasi dari sana.” Arsen menatap Andrean.


Tangan Arsen lincah menggoyang kursor. “Seperti ini, Pa!” tunjuk Arsen menyodorkan gambar di file laptopnya.


Aura seperti kobaran api dibelakang Avatar di akun game! Aura itu berbeda-beda, ada yang membentuk bintang, ular naga, kupu-kupu, bunga dan lainnya. Itupun juga berbeda warna sesuai dengan level tertentu.


“Bagus.” puji Andrean. “lalu, karakternya seperti apa?”


Arsen menunjukkan kembali gambarnya. Ada karakter terbaru, wanita sexsy dan wanita bercadar, kemudian pria bertatto, persis seperti wajah Berend.


“Kenapa dia?!” tanya Andrean protes.

__ADS_1


“Yang jelas, tidak mungkin aku buat wajah kita sekeluarga, Pa! Walaupun karakter ini bercadar. Wajahnya tak akan seperti Mom! Wajah yang ku pakai wajah temanku di Indonesia. Namanya Roselia!” jelas Arsen.


Ya, Roselia, adik Asisten pribadinya Hans! Gadis gemuk yang memberikannya flashdisk saat itu!


__ADS_2