
Eric telah kembali ke hotel. Ia bertanya pada manager hotel.
“Maaf Tuan. Informasi tentang pelayan dan tamu kami itu rahasia, kami tidak bisa membantu!”
“Gadis itu temanku, tolong mengertilah!” Eric memohon.
“Maaf, saya harap Anda juga harus mengerti peraturan kami Tuan. Jika Anda benar temannya, seharusnya Anda memiliki nomornya, hubungi dia, jika dia tidak merespon, berarti Anda bukan temannya. Maaf saya ada keperluan lain!” Manager itu pun pergi berlalu meninggalkan Eric yang gusar.
Manager sudah mengetahui info tentang Aini, dia bahkan mengetahui jika Aini tidur di kamar artis terkenal itu siang dan malam. Dia tidak tahu hubungan mereka berdua seperti apa. tetapi pemilik hotel sudah memperingati dirinya untuk melindungi Arhen dan Aini.
Sejak tadi, hp Aini terus berbunyi, hingga ia sangat gelisah dan berkeringat. “Arhen, a-apa aku boleh keluar menemui temanku?” Aini merasa gugup.
“Laki-laki atau perempuan?”
“Perempuan,” jawab Aini. Alis Arhen berkerut, dia merasa curiga. Namun, dia menormalkan wajahnya kembali menjadi datar.
“Baiklah!” jawabnya.
Aini segera keluar dari kamar, berjalan di lobi menuju aula hotel yang kini sedang sepi, Arhen mengikutinya diam-diam.
Hp Aini terus berdering, tampak Aini mengangkat telepon itu dan berjalan semakin cepat. Saat dipersimpangan lobi ke arah Aula dengan arah jalan keluar, Arhen terdiam sesaat, dia melihat Eric berjalan dan berlari mengejar Aini.
‘Jadi, ini perempuan yang dia katakan?’ Arhen mengepal tangannya kesal.
Aini berjalan semakin cepat dan langsung berpelukan dengan seorang wanita, dia adalah Mutiara. “Nur! Apa benar itu kamu?” Mutiara langsung bertanya, melepaskan pelukannya dan menatap wajah Aini lekat.
“Aini!” teriak Eric yang berhasil mengejar Aini yang sedang berpelukan dengan Mutiara. Menghentikan pembicaraan kedua perempuan itu.
“Eric?”
__ADS_1
“Aini, akhirnya aku bisa bertemu denganmu, syukurlah!” Eric tersenyum.
Arhen tak bisa mendengar apapun yang mereka bertiga bicarakan, dari kejauhan Arhen hanya melihat Eric bersalaman dengan Mutiara, kemudian mereka mengobrol. Dada Arhen bergemuruh hebat, kala tangan Eric merangkul bahu Aini dan wanita itu hanya diam saja.
Perasaan Arhen berkecamuk, ia tidak bisa menerima istrinya disentuh pria lain, dia langsung pergi ke arah mereka bertiga dan langsung meremas tangan Eric yang berada di bahu Aini, kemudian melayangkan tinju pada wajah Eric, tepat mengenai hidung mancung pria manis berbadan kekar itu.
Aini dan Mutiara terkejut.
“Kau!” Eric menatap tajam Arhen dan membalas pukulan itu.
Bugh!
“Hentikan! Jangan membuat keributan di sini!” teriak Aini.
Eric sangat membenci artis yang satu ini, artis yang bernama Arhen! Pemuda yang mencuri semua perhatian orang di desanya, pemuda yang diagung-agungkan dan di banggakan. Putra kedua pemilik perusahaan sawit di desa, kaya raya, terkenal, dan tampan.
Dia sering mengikuti Arhen dan Aini diam-diam, kala bertemu di pematangan sawah. Dia cemburu dan sakit hati, sudah lama dia menyukai Aini, kenapa Aini malah menyukai Arhen? Apa karena dia memiliki segalanya? Rasa benci pun semakin besar di kala Aini menangis saat itu.
Ditambah Kakak laki-lakinya, Arsen, pemuda berwajah dingin itu tampak sangat sombong dan angkuh, dia semena-mena menyuruh dan memanfaatkan abangnya, Edi. Membuat Edi sibuk dengan game dan hp saja, jarang bermain bersama dengannya lagi.
Hanya satu orang yang bisa ia terima, pemuda yang memberikan dia jelly kala itu, jelly yang ia tolak dengan menepis tangan Ardhen kuat, namun akhirnya dia memungut jelly itu diam-diam, membersihkan dan memakannya, walaupun jelly itu sudah terpijak dan rusak.
Dia bahkan memfollow akun sosialnya. Pemuda berwajah teduh dengan sifat lemah lembut, Ardhen Ryker Van Hallen.
Dua pemuda itu saling menghujam tatapan tajam dalam keheningan di aula hotel. Setelahnya, Arhen menoleh pada Aini. “Apa ini yang kau sebut bertemu dengan perempuan?” tanyanya dengan tatapan tajam, lalu berlalu pergi dari sana membawa kemarahan yang memuncak.
Mutiara diam dengan kaku, apa yang dia lihat barusan? Idolanya sangat marah, hubungan apa ini? Apa cinta segitiga, apakah pria manis berbadan kekar ini juga artis? Nur sangat beruntung, begitulah pikirnya.
“Ric, pergilah dari sini, aku ingin bicara berdua dengan temanku dulu!”
__ADS_1
“Baiklah, tolong temui atau hubungi aku setelah ini, Aini.” Eric pun berlalu dari sana.
Di perjalanan, rupanya Arhen menunggu dirinya di lobi. “Aku ingin bicara dengan kau, berdua!” ketus Arhen mengajak Eric.
Mereka berdua akhirnya duduk di room private hotel dengan wajah suram, mini bar dengan kamar khusus. Pelayan menghidangkan minuman soda botol serta es batu di dalam gelas.
“Kau mulai detik ini jauhi Aini!” ucap Arhen tegas memulai pembicaraan pertama tanpa basa-basi. Dia mengelus bibirnya yang sedikit lebam karena balasan pukulan dari Eric tadi.
“Cih, kau pikir kau siapa? Jangan kira karena kau terkenal dan kaya bisa memiliki semuanya!” Eric menatap tajam Arhen, ia mengabaikan hidungnya yang terasa berdenyut nyeri akibat pukulan Arhen.
“Dia milikku, aku suaminya!”
Eric tertawa, dia tak percaya, dengan senyuman yang tersungging dia berkata. “Kau pikir aku bodoh dan anak kecil yang mudah digertak. Jika kau menikah, tentu saja media akan ribut memberitakannya, lalu kurasa, keluargamu pasti akan memberikan jodoh yang sesuai denganmu 'kan!”
“Jadi dimatamu, keluargaku sangat buruk ya, sehingga membedakan manusia?” Arhen kemudian tersenyum. “Ada banyak hal yang tidak kau ketahui!”
“Kau jangan mempermainkan perasaan Aini Baji*ingan! Aku tidak peduli dengan keluargamu, yang aku pedulikan Aini.”
“Oh, rupanya kau masih mencintai istriku hingga detik ini ya, masih tak sadar diri, sudah jelas sejak kecil Aini memilihku, kau masih saja mengejarnya! Ck!” Arhen tersenyum mengejek.
Eric memegang kerah baju kemeja Arhen yang berwana cream, dia berkata dengan sorot mata yang penuh kemarahan. “Apa kau menipunya kembali dengan menjanjikan menikahinya, Baji*ngan? Kau manusia paling terburuk yang pernah kulihat! Sejak kecil kau menjanjikan sesuatu yang menjijikan padanya!”
“Hohohoho! Kau rupanya bukan hanya penguntit, tetapi juga penguping ya, kau diam-diam menguping pembicaraanku dengan Aini di Mushola.” Arhen tersenyum dengan wajah ceria. Dia begitu santai menghadapi Eric.
Inilah Arhen, manusia dengan sejuta pesona yang dicinta jutaan umat manusia, sikap, cara bicaranya, bisa berubah kapanpun, benar-benar artis papan atas yang jago menyembunyikan perasaan.
Eric sangat kesal, dia melepaskan kerah baju Arhen dengan kasar.
Arhen masih dengan tersenyum berkata. “Kali ini aku sudah dewasa dan mampu membeli berlian yang aku janjikan, aku sudah menikahi dirinya, kau sungguh terlambat Sobat! Berlapang dada dan ikhlaskan dia, karena dia jelas-jelas mencintai diriku.” Arhen berdiri dan menepuk pundak Eric, satu tangannya meraih air soda yang berada di atas meja, lalu berlalu pergi dari sana dan tersenyum.
__ADS_1
“Arhen! Kau memang bajingan yang tak akan pernah kumaafkan! Kau bajingan licik! Aku membencimu hingga ke tulang-tulangku! teriak Erick
Teriakan Eric semakin melemah, dia tertunduk lesu. “Aku benci kau, Arhen....”