Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kamu Gak Capek Lari-lari dari Pikiranku?


__ADS_3

Entah berapa lama Roselia tertidur di bahu Arsen, karena ia begadang semalaman sampai subuh, bahkan ia belum tidur sejak semalam. Perlahan matanya terbuka sedikit demi sedikit.


“Hum, kenapa bantalnya gak empuk, ya?” pikir Roselia yang masih setengah sadar, tangannya tergerak ingin merapikan bantal, namun kenyataannya ia tengah tidur dalam keadaan duduk, terasa hembusan nafas teratur menyapu tangannya yang bergerak ke atas, matanya langsung terbuka sempurna.


“A-apa ini?” Roselia sangat terkejut. Ia langsung terduduk tegak. “Jadi, aku sejak tadi ... tidur di bahu Tuan Muda? Matilah aku!!!” Roselia jadi cemas.


Dia tatap Arsen sedang tertidur dengan wajah menghadap padanya. Lalu, menoleh ke sekeliling. “Ya ampun, ini 'kan di parkiran apartemen!” Roselia berkata dalam hati.


Ia merapikan rambutnya, mencari kacamatanya. “Dimana kacamataku, ya? Tadi aku sebelum tidur memakai kacamata atau kulepas, hm?” Dia berpikir.


Arsen menggeliat, sehingga kacamata Roselia terlepas dari genggamannya, tangan itu sebelumnya ia sedekapkan di dadanya sebelah, sedangkan sebelah lagi menopang tubuh Roselia yang tidur di bahunya.


Roselia memungut kacamata itu, lalu memakainya. Setelah memastikan ia sudah rapi, ia membangunkan Arsen.


“Tuan Muda!”


“Tuan Muda!” Sekali lagi dia membangunkan.


“Tuan Muda!” Roselia sedikit menggoyangkan lengan Arsen, sehingga matanya perlahan terbuka.


“Hm!” Terdengar dia bergumam, kemudian mengusap wajahnya dan merapikan duduknya.


“Maaf, tadi aku tertidur. Kita sudah sampai di apartemen, apakah...”


“Ya, mari kita segera turun!” sahut Arsen cepat, tangannya melihat jam tangan yang melingkar ditangannya. “Aku sudah cukup tidurnya kok, kita sudah berada di dalam mobil kurang lebih 3 jam sejak tadi.” lanjut Arsen, lalu memilih turun.


“Apa? 3 jam? Aduh, mati aku! Pasti Kakak akan marah padaku karena mengganggu waktu Tuan Muda selama 3 jam karena aku tidur di bahunya!” Roselia merutuki kecerobohannya. “Seharusnya, tadi aku menolak saja, agar tak merepotkan Tuan Muda!”


“Ayo, kenapa kau diam saja! Sepertinya Kak Hans belum pulang, aku tak ada kunci apartemen lagi!”

__ADS_1


“Aaa, i-iya Tuan Muda!” Roselia pun bergegas.


Mereka berdua menaiki lift, di dalam lift mereka hanya diam membisu, bahkan sampai pintu apartemen terbuka.


Tak lama, Xander Pim juga muncul bersama dua orang pria yang selalu menjaga pintu masuk apartemen itu. Dua pria itu sebenarnya adalah pengawal yang diletakkan Arsen untuk menjaga Roselia diam-diam, sebenarnya semalam mereka juga memperhatikan dari jauh, tetapi tadi pagi saat Roselia masuk ke dalam mobil Arsen, mereka pun melaju lebih cepat ke apartemen.


“Siang Nona,” sapa Xander pada Ros.


“Siang Paman. Wah, Paman cepat sekali berbaurnya, sudah dapat teman baru saja!” sahut Roselia tersenyum pada Xander.


“Iya Nona, tadi menunggu Anda tertidur, saya jalan-jalan, jadi dapat kenalan baru.”


Dua pemuda itu juga ikut tersenyum pada Roselia dan Arsen.


Dua pemuda itu baru saja tinggal di sebelah apartemen selama satu bulan ini, Ros dan Hans sudah berkenalan dengan mereka.


“Saya di sini saja bersama mereka, nanti saya akan masuk Nona!” jawab Xander menunjuk dua pemuda itu.


Arsen dan Roselia terlihat canggung, Arsen melirik Roselia sekilas, lalu langsung masuk ke dalam.


“Aku masuk duluan Paman, Kakak!” pamit Ros mengikuti langkah Arsen di belakang.


“Ok!”


Arsen telah duduk di sofa, Roselia bergegas masuk buru-buru ke kamar kakaknya, mengambil dua laptop, lalu meletakkan di atas meja dihadapan Arsen.


“Aku buatkan minuman dulu, Tuan Muda!”


“Hm!” sahut Arsen.

__ADS_1


Roselia membuatkan minuman dan menyiapkan cemilan, sedangkan Arsen mulai membrowsing dan menghafal kembali bacaan yang dibacanya sejak Roselia tertidur tadi. Selang beberapa waktu, Roselia pun membawa minuman dan cemilan di atas nampan.


“Silahkan Tuan Muda!” Dia mempersilahkan, setelah menghidangkan.


“Hm!” Arsen mengangguk.


Roselia berdiri canggung. “Apakah ada yang Tuan Muda butuhkan lagi?” tanyanya kemudian.


“Tak ada!”


“Kalau begitu, aku mau bersih-bersih dulu.” Roselia berniat hendak pergi dari sana.


“Hm, kau tau apa perbedaannya kamu dengan cookies ini?” Arsen bertanya, sedikit melirik ke arah cokies yang dihidangkan Roselia dengan minumannya barusan.


Roselia mengerutkan keningnya. “Karena cookiesnya bisa dimakan dan bisa mengenyangkan, kalau kamu enggak, gak bisa bikin kenyang.” ucap Arsen. “aduh, aku ngomong apa? bukan itu maksudnya!” Arsen merutuki mulutnya dalam hati.


“Hm, itu maksudnya, aku tuh heran, kamu tuh gak capek lari-lari dari pikiranku!” sambung Arsen membacakan kalimat yang ia dapat dari membrowsing hpnya.


Roselia semakin mengerutkan keningnya, matanya sampai berkedip beberapakali.


“Pergilah, bukannya kau mau bersih-bersih, aku mau melakukan pekerjaanku!” usir Arsen dingin.


“Iya!” Roselia pun berlalu pergi, sepanjang jalan menuju kamarnya, dia terus berpikir. “Apa aku mengatakan sesuatu yang aneh saat tidur tadi? Sampai-sampai, Tuan Muda jadi bicara aneh!” gumamnya bergidik ngeri.


“Sial! Aku tadi ngomong apa? Awal, aku salah sebut, yang kedua, saat aku ucapkan gombalan itu, wajah Roselia malah terlihat aneh, jangankan dia riang dan tertawa seperti pada Rayyan, jangan-jangan ... dia berpikiran buruk tentangku!” gerutu Arsen.


“Kenapa sih, si Rayyan ngomong garing seperti itu dia tertawa, kenapa saat aku ngomong gitu, wajahnya aneh? Kenapa! Ah, sial!” Arsen malu bercampur kesal.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2