
Tinggallah laptop menyala yang sedang loding di kamar hotel di Inggris, sedangkan Andrean dan Arsen telah berada di atas jet pribadi mereka.
Dua ayah beranak itu sama-sama duduk bersilang kaki, Andrean sedang menyeruput minumannya sambil melihat gulungan awan dari jendela jet, sedangkan Arsen mengemut permen tangkai sambil mengisi TTS.
“Paman Alex bisa bekerja dengan bagus 'kan?” tanya Arsen tanpa menatap Andrean. Ia masih fokus pada TTS-nya.
“Tentu saja, Papa sudah lama mengenalnya.” jawab Andrean dengan tatapan yang juga masih menatap awan.
“Hm, baguslah!”
Alex di Amerika sibuk dengan tugasnya, ia memakai kacamata anti radiasi, tangannya sibuk mengotak-atik laptop. Sesekali ia sesap champagne yang berada di dalam gelas disamping laptopnya.
Terukir senyuman puas di bibirnya. “Selesai!” gumamnya. Ia gerakkan badannya, memutar pinggangnya ke kiri dan kanan untuk melakukan peregangan, tubuhnya terasa pegal karena sudah duduk di depan laptop beberapa jam.
Ia periksa hpnya. Ia mendesah. Semenjak atasannya itu memiliki pacar, pria itu menjadi aneh, ia bukan lagi Dedrick si pria yang isi kepalanya kerja, kerja, kerja dan uang. Sekarang, pria itu berubah menjadi pria ingin dimanja, diperhatikan, dipedulikan, membuat Alex bergidik ngeri.
“Untung saja Calista tidak menyukaiku dulu, kalau tidak, aku bisa jadi bucin akut seperti itu, ck!” Ia meremang sendiri membayangkan.
Masih hangat diingatannya, Calista mengejar-ngejar cinta dan haus perhatian dari Dedrick, membawakan makanan, menyiapkan apapun, memberikan perhatian penuh, mengajak jalan, tetapi selalu ditolak, bahkan ditipu. Ia pernah menunggu Dedrick berjam-jam di kafe karena Dedrick mengangguk saat ia mengajak makan siang, rupanya Dedrick hanya mengangguk karena merasa malas meladeninya agar dia segera pergi dari hadapannya.
Alex juga sangat mengenal sosok Calista, ia pemberani, gesit dan sangat nyaman berteman dengannya. Namun, jika membayangkan ia mengejar Dedrick, Alex akan menggeleng!
“Tapi ... kalau dipikir-pikir, bagus juga. Tuan Muda adalah sosok pria yang tak bisa berdekatan dengan wanita, tak bisa nyaman dengan wanita, bagaimana bisa ia akan berkencan dengan wanita. Sedangkan Calista, ia sangat kebal atas penolakan dan ia sangat memahaminya.” pikir Alex.
“Hm, tapi, tetap saja ini menggelikan! Apakah jika pria memiliki pacar akan sangat aneh dan menggelikan seperti itu?”
Alex memikirkan Andrean, tidak sama sekali! Pria itu sangat santai, bertukar wanita setiap saat, bersenang-senang. “Apakah karena Tuan Muda Dedrick tidak pernah pacaran sebelumnya, ya?” gumam Alex.
Alex belum tahu saja, seberapa bucinnya Andrean sekarang pada satu wanita. Mungkin dua adik kakak itu terlihat menggelikan dimatanya. Andrean penjahat wanita itu sudah taubat!
~~
Arsen dan Andrean telah mendarat, dua pria tampan beda generasi itu berjalan dengan gagahnya menggunakan kacamata hitam dengan setelan jas. Sungguh keren!
Dua pengawal pribadi mengiringi mereka disisi kiri dan kanan, lalu satunya lagi di belakang.
“Ap-” Andrean hendak bertanya, namun langsung dipotong oleh Arsen.
__ADS_1
“Aku akan langsung pulang ke mansion!” jawab Arsen.
“Sepertinya kita benar-benar satu hati!” Andrean langsung meraih tubuh Arsen dan menggendongnya.
“Pa! Apa yang kau lakukan?! Turunkan aku!” teriak Arsen. Andrean tak peduli. Anak itu terus-menerus meronta, tetapi Arsen menepuk pantatnya.
“Pa!” Muka Arsen memerah.
“Apa?” tanya Andrean dengan wajah pura-pura polos yang tak mengerti apa-apa!
Arsen menatapnya tajam. Kemudian senyuman tersungging di wajahnya. Ia tak lagi meronta malah menerima gendongan Andrean dengan nyaman.
‘Kau lihat saja Pa! Aku akan membalasnya!’
Tentu saja senyuman itu sangat jelas bagi Andrean, senyuman yang berniat buruk, Andrean menguatkan tangan dan langkah kakinya, takut jika anak itu menyandung atau menggelitiknya. Tetapi tak terjadi apa-apa, bahkan sampai mereka di mansion.
Beberapa hadiah yang mereka belikan langsung dibagi kepada anak-anak, maid dan pelayan lainnya.
“Alhamdulillah, kalian selamat.” Sakinah memeluk dan mencium pipi Arsen, kemudian mencium punggung tangan Andrean.
“Waaah! Hadiah-hadiahnya keren sekali!” puji Arhen dan Ardhen saat mendapati hadiah khusus untuk mereka.
“Baik, tunggu sebentar Tuan Muda!” Salah seorang maid bergegas mengambil minuman untuk Arsen.
Tak lama minuman datang, Arsen dengan santai meminum minuman itu sampai tandas.
“Mom!” panggil Arsen.
“Iya, Sayang.” jawab Sakinah tersenyum.
“Di Inggris sangat ramai, banyak wanita-wanita yang kulihat di sana, tapi tak ada yang secantik Mom. Aku heran, kenapa Papa bisa tergoda pada wanita-wanita di sana, lalu merayunya.” ucap Arsen dengan berwajah polos bak anak-anak imut.
Andrean terkesiap, matanya melotot.
‘Jadi, ini pembalasan putraku ini?’
Arhen dan Ardhen menatap Arsen, mereka melihat di bibir Abangnya sekilas terukir senyum, mereka pun menambah-nambahkan bumbu.
__ADS_1
“Papa! Apa kau masih menjadi playboy cap katak?” Arhen berkacak pinggang.
“Kalau Papa masih merayu wanita-wanita, lebih baik kita kembali ke Indonesia saja Mom, biarlah Papa di sini bersama wanita-wanita itu.” sambung Ardhen.
“Hm, betul!” Arsen sependapat dan membenarkan ucapan kedua adiknya.
“Oh, jadi sengaja pergi jauh untuk merayu wanita?” ucap Sakinah menyedekapkan tangan di dada. Ia tahu, jika Arsen sengaja mengadu padanya.
Ia juga yakin, Andrean tidak berniat menggoda yang sesungguhnya, jika benar pasti Arsen sudah turun tangan, lebih tepatnya ia percaya Andrean benar-benar mencintainya dan hanya memikirkannya seorang.
“Tidak, bukan begitu!” Andrean mulai panik.
“Kalau begitu, malam ini tidur di luar!” Sakinah berucap tegas.
“Ayo, Nak. Kita memasak saja!” ajaknya pada Ardhen. Lalu, mereka berjalan ke dapur.
“Sayang! Sayang, tunggu! Biar aku jelaskan!” Andrean mengejar Sakinah, ia genggam tangan wanita itu dengan cemas, ia takut istri tercintanya akan marah besar padanya.
“Sayang, biar aku jelaskan, begini, aku tidak ada perasaan apapun, aku hanya mencintaimu, aku tak akan begitu lagi, bahkan aku tak akan mengobrol dengan wanita manapun lagi. Aku hanya tak sengaja mengatakan wanita itu cantik, hanya sebatas sapaan, bukan sungguhan.”
“Sungguh, hanya kamu yang paling cantik bagiku. Sayang percayalah!” Mengemis, memegangi tangan Sakinah.
“Sayang!” Kini Andrean bersimpuh, berdiri dengan kedua lututnya, meletakkan kedua punggung tangan Sakinah di pipi, kening dan bibirnya, beberapakali ia kecup tangan itu.
“Sayang, tolong maafkan aku. Aku janji, tidak akan seperti itu lagi. Aku mohon, percayalah.” Lagi, Andrean memohon.
Sakinah hanya diam saja, ia malah senang dalam hati. Suaminya terlihat sangat lucu.
“Pfft!” Terdengar suara tawa Arhen dan Arsen. Andrean tak peduli jika kini ditertawakan sikembar. Ia hanya tak ingin kekasih hatinya marah.
Arhen berjalan mendekat dan menepuk bahu Ardhen.
“Dik, bukankah menurutmu, kalau orang salah itu dihukum?”
“Mom, benar kata Kakak. Orang salah harus dihukum, jadi Papa harus dihukum.” celetuk Ardhen.
“Baiklah, aku akan memafkanmu. Tetapi kamu harus memasak dulu untuk kami, harus enak. Menggantikan Ardhen, iya 'kan Nak?” Sakinah menatap Ardhen, putra bungsunya itu membalas dengan tersenyum sumringah.
__ADS_1
“Hm, baiklah.” jawab Andrean patuh.
Arsen tersenyum lebar melihat Papanya tak berdaya.