
Roque sampai di rumah sakit bersama keluarganya. Di depan kamar Andrean dan Arsen, ada 6 penjaga, di dalam kamar juga ada penjaga 4 orang, semua ruangan ada cctv yang tampak dan juga tersembunyi.
Dua laki-laki beda usia itu tampak memejamkan mata, ada dua yang tergantung ditiang, tabung cairan infus dan kantong darah, masuk ke tangan mereka berdua melalui selang, di samping mereka masing-masing ada layar yang menampilkan ritme jantung, tekanan darah mereka, dan lainnya.
Sebelum masuk, Roque sekeluarga pun tak luput dari pemeriksaan penjaga walaupun mengaku keluarga.
Roque memegang tangan Andrean. “Andrean, cepatlah sembuh dan sadar, anak-anakmu butuh dirimu. Ardhen sekarang ada di Amerika, Arsen sedang tidur di sampingmu, dan Arhen sepertinya masih sibuk menyelesaikan pekerjaan di dunia hiburan, hingga hari ini kami belum mengabari keadaanmu. Kau cepat sadar ya, agar putra-putramu tidak cemas.” Roque mengelus tangan Andrean yang dipegangnya itu.
Sedangkan istrinya dan Frans, hanya diam menatap keduanya.
Frans dari awal memang tak menyukai Arsen dan Arhen, tetapi tidak berarti dia membencinya. Dia hanya menyukai Ardhen sejak dulu. Anak itu berbicara lembut padanya, menawarkan makanan sebagai iming-iming untuk bukti pertemanan awal mereka. Hingga hari ini, Ardhen menjadi teman yang sering dia hubungi.
Dia senang saat Ardhen berkunjung ke Amerika setelah sekian lama. Sayangnya, kedatangan Ardhen kali ini membuat dia khawatir, ditambah Ardhen mengalami amnesia. Frans yang tadi diam dan menatap, berjalan ke arah Arsen, kemudian berbisik.
__ADS_1
“Arsen, bangunlah! Aku tahu kau itu memang kurang ajar, penuh ambisi dan kejam. Namun, apa kau mau kalah begitu saja? Ardhen sekarang bahkan melupakanmu loh, dia tinggal di Amerika bersamaku. Ya, aku Frans, saudaramu yang keren dan tampan.” Perkataan yang penuh provokasi.
“Kasihan sekali dirimu, adik-adikmu melupakanmu. Ah iya, tadi aku melihat proses penguburan Ibumu, apa kau tak ingin melepasnya dengan do'a, atau kau memang anak yang lemah, tidak berguna? Sehingga ibumu meninggal?”
Tit! Tit! Tiiit! Perkataan provokasi itu sukses membuat jantung Arsen berpacu, hingga mengedarkan darah pada otaknya.
“Oh, kau marah padaku? Ahahha, tapi kenyataan 'kan?”
Berbeda dengan Andrean, sepertinya... tubuhnya tak merespon apapun. Seolah dia telah mengalah akan kehidupan ini.
***
Beberapa waktu yang lalu.
__ADS_1
Eric bersama dengan Abdul Qodir atau lebih sering dipanggil Kadir, menyusul keberangkatan Aini dan Arhen. Waktu itu Eric mendatangi tempat tinggal Ramadhan, yang dia temukan hanya seorang pemuda, dia adalah teman Ramadhan.
Sedikit berbincang, dia mengetahui informasi, jika Ramadhan baru saja pergi bersama keluarga barunya. Kakak perempuan Ramadhan menikah dengan seorang pemuda keren. Eric masih tak percaya dengan apa yang didengarnya, sehingga dia memutuskan mengajak Ramadhan pergi bersamanya.
Mereka berdua mengejar kepergian Arhen dan Ardhen.
Selama perjalanan, Eric yang pernah ikut pelatihan tentara, merasakan ada keanehan, bukan hanya dirinya yang mengikuti Arhen tapi beberapa orang lainnya. Awalnya, Eric berpikir mungkin saja perjalanan Arhen bocor, sehingga para Fans mengetahui.
Eric mengikuti perjalanan pendek Arhen yang berkeliling ke beberapa daerah di Sumatra Barat. Hingga, di jalan sepi antara Pariaman dan Pauh. Beberapa mobil menyerempet dan memaksa mobil yang ditumpangi Arhen terpepet. Beberapa mobil yang tak sengaja lewat juga di tembaki oleh mereka.
Eric menjadi waspada, karena jarak mereka sebenarnya cukup jauh, tampak ada perlawanan dari dalam mobil Arhen, terdengar suara tembakan saling bersahutan di jalan sepi yang penuh dengan pohon-pohon hijau yang tinggi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1