Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Menjalankan Operasi


__ADS_3

Salwa dan Ruksa sampai menjatuhkan gelas dan piring yang mereka pegang di rumah masing-masing. Saat itu Rukhsa ingin minum, sedangkan Salwa sedang mencuci piring.


Berita tentang kecelakaan hebat superstar berdarah campuran Indonesia-Belanda. Salwa dan Rukhsa sama-sama menghubungi Sakinah. Lama tak dijawab, hingga suara seorang pria mengangkat. Pria itu mengaku bernama David, asisten pribadi Andrean yang lancar berbahasa Indonesia.


Kabar duka yang membuat dua beradik kakak itu merosot jatuh ke bawah. Kabar jika Sakinah sekeluarga mengalami musibah kebakaran. Sakinah meninggal dunia, anak-anaknya serta suaminya Andrean masih terbaring di rumah sakit. Sedangkan putra keduanya Arhen masih berada di Jakarta, mereka belum bisa menghubungi kebenaran berita tentang kecelakaan yang terjadi di Indonesia, jelas David pada mereka berdua di telepon masing-masing.


Salwa menangis sesenggukan, di masa dulu, dia sangat jahat pada kakaknya, dipenuhi rasa iri dan cemburu. Walaupun kini mereka sudah baikan dan dia sudah minta maaf, tetap saja hatinya sesak dan menyesal.


Usman, suaminya langsung memeluk dirinya. “Ba'a?” tanya Usman bertanya, kenapa dia.


Salwa menjelaskan dengan terisak pada Usman. Tampak kedua wajah mereka sama-sama bersedih. Padahal sebelumnya, mereka semua sudah berencana banyak, akan pergi ke sana kemari, menghabiskan waktu yang panjang lebih lama. Nyatanya, semua telah berakhir.


Beberapa hari setelah kabar duka itu datang, Tek Sariman dan Pak Agus mendatangi kediaman Rukhsa. Karena rumah Rukhsa tak jauh dari Salwa, dia juga meminta Salwa datang.


“Begini, ini semua adalah rahasia. Arhen selamat, namun dalam keadaan luka berat, dia kini akan menjalani operasi di rumah sakit Yash.”

__ADS_1


Mata Rukhsa dan Salwa terbelalak.


“Eric menyaksikan mereka di serang dan ditembak. Kalian semua 'kan tahu jika putra kedua kami itu pernah pelatihan tentara, jadi dia sangat kuat dan ahli memegang senjata. Jadi, dia ikut membantu dan menolongnya,” jelas Tek Sariman dengan bumbu-bumbu membanggakan anaknya.


“Iya, kami tahu, Tek.” jawab Salwa dan Rukhsa.


“Hm, tadi pagi, Shalsabilla dan Jimi menantu Pak RT telah sampai di Belanda. Tentang berita kebakaran itu--- sepertinya mereka dibunuh pesaing bisnis dan ada yang dendam.”


“Astagfirullahal'azim!” Rukhsa dan Salwa mengurut dada mereka berdua. Karena dendam dan harta dunia, orang bisa membunuh dengan kejam.


“Iya, Tek. Makasih, kami akan siap-siap besok.”


***


Tek Sariman, Pak Agus, Edi, Rukhsa, Salwa dan anaknya yang paling kecil datang menjenguk Arhen.

__ADS_1


Eric mencium punggung tangan orang-orang dewasa itu sebagai penghormatan. Begitu juga Aini.


“Eh, kamu Aini 'kan?” tanya Rukhsa. Dia ingat semua wajah murid mengajinya.


“Iya, Ustadzah,” jawab Aini.


“Dia istri Arhen Ustadzah,” sahut Eric menjelaskan tanpa diminta. Mata semua orang terbelalak. Salwa dan Ruksa memang tahu perihal menikahnya Arhen secara diam-diam, tapi dia tidak menyangka jika perempuan itu adalah Aini.


Rukhsa mengelus kepala Aini. “Jodoh tidak akan kemana-mana, bahkan jika pergi ke ujung dunia sekalipun akan tetap bersatu!” tuturnya. Dia tahu, dulu waktu mengajar, dia sering melihat Arhen dan Aini bermain bersama.


Aini hanya tersenyum mendengar itu.


Mereka semua masih duduk di kursi tunggu karena saat ini Arhen sedang menjalani operasi di bagian wajahnya. Luka bakar yang harus dilakukan, hanya saja, sekarang akan dilakukan sedikit perubahan di wajahnya karena keadaan hidung dan tulang rahangnya sedikit cacat.


“Semoga operasinya berjalan lancar!” gumam Salwa. Yang lain mengaminkan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2