Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kesepakatan!


__ADS_3

Setelah melakukan rapat bersama dan telah menyepakati keputusan. Billa dan Jimi tidur di kamar tamu, sedangkan Hans telah tertidur diruang kerja dengan posisi duduk, kepala tertopang di meja. Arsen tak membangunkannya, ia menyelimuti pemuda itu dengan selimut dan memberikan bantal mini sebagai penopang pipi Hans yang menempel di atas meja.


Kemudian Arsen menulis disebuah kertas.


‘Jika Kakak terbangun, tidurlah dikamar tamu nomor 2! Ini kunci kamar itu, Maid sudah membereskannya untuk Kakak!’ Begitulah isi tulisan itu, kemudian ia keluar dengan menutup pintu pelan.


Tadinya, hanya tinggal ia dan Hans saja yang ada di dalam ruangan, Arhen sudah menguap-nguap sejak tadi karena ngantuk. Yang paling terakhir beranjak adalah Andrean tadi.


Keputusan yang diambil, Arsen akan menjadi model artis cilik untuk perusahaan Ar3s sebagai Arsen Elmo, putra Berend Elmo. Arhen menjadi model artis cilik untuk perusahaan Antaman Wizgold. Jimi dan Andrean akan duduk di kursi peserta sebagai penonton. Sedangkan Hans dan David akan berdiri disamping mereka berdua sebagai asisten pribadi.


Untuk sementara, pengumpulan bukti kejahatan Puloh telah di dapat. Jadi, mereka hanya fokus pada even jewerly. Setelah even itu selesai, Puloh akan mereka berikan hukuman. Begitulah hasil rapat mereka tadi.


~~


Andrean masuk ke dalam kamar, lalu membersihkan diri. Ia mendekat dan mengecup pipi Sakinah yang telah tertidur lelap.


Sakinah menggeliat dan terbangun saat merasai bibir suaminya mencium pipinya.


“Sudah selesai rapatnya?” tanyanya dengan suara serak.


“Iya.” Andrean memeluk Sakinah yang telah tidur menyamping menghadapnya.


“Apa keputusannya ... Arhen dan Ardhen akan ikut sebagai model cilik juga?” tanya Sakinah menatap Andrean.


“Iya.”


“Oh.”


Sakinah menyentuh dada Andrean, mengelus dan memainkan bekas luka di dadanya. Andrean langsung menangkap tangan istrinya itu, lalu berkata!


“Sayang, apa aku harus operasi plastik?”


“Hah? Untuk apa? Kamu sudah sangat tampan!” ucap Sakinah, membuat senyuman melengkung dibibir Andrean.


“Operasi itu merubah ciptaan Allah. Itu namanya tidak bersyukur, berdosa tahu! Kecuali operasi karena sesuatu yang buruk atau sesuatu yang bahaya. Kamu 'kan baik-baik saja!” lanjut Sakinah lagi.


“Ya ... karena kamu selalu menyentuh bekas luka itu. Maaf, maafkan aku, Sayang. Jika waktu bisa berputar, aku tak akan melakukan perbuatan buruk itu. Aku akan bersujud dan melamarmu secara baik, aku akan melakukannya dengan lembut, penuh kasih sayang.” Andrean memegang jemari tangan Sakinah, mengecup jari jemari itu berkali-kali.


Sakinah tergelak kecil!


“Jika waktu berputar, mungkin kita tak akan bertemu, lalu Sikembar tidak akan ada.”


“Sayang, jangan katakan seperti itu. Apa kamu tak berniat bertemu denganku? Apa kamu terpaksa menikah denganku?”

__ADS_1


Sakinah mencubit pipi Andrean. “Hei, kamu lupa, ya? Saat itu kamu memaksaku, memintaku menandatangani surat kontrak.” ucap Sakinah tergelak.


“Sayang, jangan ingat lagi kejadian memalukan itu.” Andrean memeluk erat Sakinah, menciumi pucuk kepala Istrinya.


“Sayang, aku sangat mencintaimu. Jadi, lupakan kejadian masa lalu yang memalukan itu.”


Sakinah masih saja terkekeh. “Iya, iya.”


“Kalau begitu, kamu jangan berniat operasi lagi ya!” Sakinah melepaskan pelukan Andrean. Kemudian kembali meraba bekas luka itu.


“Aku tidak takut ataupun trauma padamu dengan melihat lukamu, aku memegangnya karena hanya ingin memegangnya saja, ingin meraba dan mengelusnya saja, tak ada pikiran lain. Apa kau tahu? Aku awalnya memang sangat takut, merasa terpukul saat kau memperkosaku saat itu.”


“Tetapi setelah aku mengetahui aku hamil, aku merasa lega, senang dan bangga! Aku telah menunggu bisa hamil selama 10 tahun sebelumnya bersama mantan suamiku, tetapi aku tak kunjung hamil. Aku tak mengapa saat orang menghinaku, aku sudah sering mendengarnya, aku diusir dari kampung juga tak mengapa, karena ada sahabatku Billa yang selalu ada.”


“Lalu, aku dianugerahi tiga bayi laki-laki, semenjak mereka bayi hingga mereka bisa berjalan, mereka tidak pernah rewel, mereka sangat sadar diri.” Sakinah tersenyum saat mengingat kejadian itu.


“Saat aku bekerja, mereka tak menyusahkan pengasuh yang hanya bisa aku sewa jasanya satu orang. Mereka sangat anteng. Hingga mereka batita dan menjadi anak laki-laki yang pintar, menggemaskan, sering membantuku.”


“Mereka sangat perhatian, pengertian. Itu adalah hadiah. Jadi, kamu jangan merasa terbebani lagi. Aku telah memaafkan semuanya, dan kini kau telah menjadi suamiku.” Sakinah menatap Andrean dengan tersenyum.


Andrean menelusupkan kepalanya diceruk leher Sakinah.


“Sayang, maaf ya, aku tidak menemanimu saat mereka kecil. Aku berjanji akan membayarnya seumur hidupku. Kelak, jika kita diberikan tambahan anak lagi, aku akan melakukan yang terbaik. Aku janji. Cup!” Ia mengecup leher Sakinah.


Andrean langsung mendongakkan kepalanya ke atas. “Sayang, hatimu benar-benar lembut seperti pipimu, kata-kata mu benar-benar membuatku merasa nyaman dan candu sama seperti bibirmu saatku kecup. Muah!” Andrean langsung mengecup bibir Sakinah sekilas.


“Apa hubungannya?!” Sakinah terkekeh.


“Ada Sayang, hubungannya setiap aku melihatmu bicara, aku ingin memakan bibirmu.” Tangan Andrean meraba bibir Sakinah.


“Itu karena kamu mesum, Sayang.”


“Apa?! Coba sekali lagi ulangi!” pinta Andrean.


Sakinah malah tersenyum saja, membiarkan Andrean merengek-rengek manja padanya, sama seperti Ardhen dan Arhen merengek-rengek meminta sesuatu.


“Sayang, ayo, panggil aku dengan sebutan sayang lagi.” Merengek, menggesekkan hidung mancungnya dipipi Sakinah.


“Ayo, katakan lagi, kalau tidak aku akan memakan bibirmu!”


“Makan saja!” jawab Sakinah mencibir.


“Sayang, kau menggodaku?!” Andrean mengelus pipi Sakinah, mulai menciumi setiap sisi wajah istrinya.

__ADS_1


Ya, tentu saja bisa ditebak! Andrean menciumi setiap inci tubuh istrinya dan tentu saja berakhir dipenyatuan surga dunia ciptaannya!


**


Pagi telah datang menyambut setiap orang, orang-orang mulai sibuk dengan kesehariannya masing-masing.


Sekar, Sikembar, Sakinah, Andrean dan Para Tamu telah sarapan di ruang makan.


“Nanti sore Misel dan Misella akan datang ke Mansion. Pakaian sudah Papa siapkan untuk kalian dan Mom.” ucap Andrean.


“Untuk kalian juga sudah ada, aku telah meminta orang mengirimnya ke apartemen Arsen.” jelas Andrean pada para tamunya.


“Lalu, Grandma?” tanya Ardhen.


“Grandma dan Grandpa sudah memiliki baju couple. Jangan khawatir!” jawab Sekar.


“Oh, kalau begitu Adik jadi tenang berangkat ke sekolah hari ini.” jawab Ardhen.


Sikembar telah berangkat ke sekolah diantarkan oleh sopir, Billa dan Jimi juga telah kembali ke apartemen. Hans dan Andrean juga langsung berangkat ke kantor.


Kini, tinggallah Sekar dan Sakinah di Mansion.


“Kemarilah Kinah, Mama akan menunjukkan sesuatu padamu!”


Sekar menunjukkan beberapa cairan di botol-botol berukuran kecil. “Coba kau hirup aromanya!” perintah Sekar.


Sakinah melakukannya. “Apakah ini farfum, Ma?” tanya Sakinah.


“Bukan! Ini adalah obat! Lihatlah cara kerja ini. Ingat!” Sekar menuangkan setetes demi setetes cairan dibotol-botol kecil itu permasing-masing. Lalu, menjelaskannya.


“Inilah obat-obat perangsang, bius, dan pelupa ingatan. Yang dua ini model baru. Jadi, di acara besar even Jewerly, kau harus waspada. Jangan lengah. Mama dan Papa akan selalu berada di sampingmu, karena ini untuk pertamanya kamu tampil di depan publik dengan acara umum bukan acara privasi kita. Walaupun begitu, kau harus belajar!” jelas Sekar.


“Iya, Ma.” jawab Sakinah.


Sekar terus menjelaskan satu persatu, dampak dan efeknya. Hingga Sakinah harus meminum air es karena mencium beberapa aroma. Air itu telah disiapkan sebelumnya oleh Clara sebagai Maid pribadinya.


“Ya, kehidupan menjadi bangsawan kaya raya, terpandang, bermartabat, akan selalu ada cobaan. Setiap orang akan menuju jalan kesuksesan dengan jalan yang berbeda-beda, ada yang mulus, berkerikil, berbatu dan berbelok, tujuannya sama, tetap menuju kesuksesan.”


“Apakah mereka akan menggunakan cara jalan baik atau buruk. Jika lemah, kamu ditindas, jika kamu bodoh, kamu akan ditipu. Maka jadilah kuat dan pintar, agar kamu tak terkalahkan.”


“Terimakasih, Ma atas nasehat dan ilmunya.”


“Iya, Anakku.” Sekar merangkul dan memeluk Sakinah.

__ADS_1


“Terimakasih juga karena telah bersedia menjadi menantuku, menjadi istri Andrean dan memberikan kami tiga cucu yang sangat berharga.”


__ADS_2