Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Kepercayaan!


__ADS_3

Arsen duduk di sofa dengan kaki menyilang, mengetuk-ngetuk tangan sofa dengan jarinya, menatap lurus Berend yang duduk bersimpuh dihadapannya.


“Kemana saja kau selama 4 hari ini, Paman? Apa kau tahu, besok adalah hari even jewerly?”


“Maaf, Tuan Muda. Saya ada sesuatu yang harus diurus.” jawab Berend. Kemudian ia menoleh pada bawahannya.


Bawahannya itu mendekat. Membuka tas besar berwarna hitam dan mengeluarkan beberapa berkas.


“Tuan Muda, ini berkas penting yang telah saya persiapkan selama 4 hari ini, di sini ada beberapa bukti tentang Puloh. Dan ... saya telah menganti target dengan sekretaris barunya.” jelas Berend.


“Kenapa? Jesylin itu sangat disayangi oleh Puloh, dia begitu baik padanya. Apa karena Paman menyukainya, kemudian ingin merebutnya?”


“Bukan Tuan Muda, Puloh tak sebaik itu pada Jesylin, dia hanya dimanfaatkan. Sekretaris baru ini yang lebih pantas menjadi targetnya. Ia telah banyak menjebak orang, bukan hanya itu, ia juga salah satu pengedar narkooba.” terang Berend.


“Narkooba?” Arsen bergumam.


“Ya, Tuan Muda. Obat terlarang yang tidak boleh dikonsumsi karena membuat orang berhalusinasi tinggi dan kecanduan. Silahkan Tuan Muda lihat dulu berkasnya.”


Mimik wajah Arsen terlihat sedikit melunak, ia mengambil berkas dan menyelidik semua isinya. Beberapa foto, bukti transaksi serta sebuah flashdisk. Ia genggam flashdisk itu.


“Di sini beberapa video perbuatan buruknya dengan beberapa wanita dan video bukti penyogokan kebeberapa orang.” jelas Berend tanpa diminta.


Arsen mengangguk.


Berend selama 4 hari ini berada di pulau terpencil, dimana ada Jesylin itu juga. Ia menerima semua berkas ini dari bawahannya, juga sebagian ia dapatkan dari Andrean dan Hans karena sebelumnya ia sudah meminta tolong pada kedua pria itu.


“Tuan Muda,”


“Hm.”

__ADS_1


“Bisakah Jesylin dan keluarganya dibebaskan?” tanya Berend pelan dan hati-hati.


“Kenapa? Aku butuh alasan yang kuat untuk membebaskan seseorang yang telah menyakiti Momku!” kata Arsen tegas.


“Aku kasihan padanya, nenek dan adiknya tidak punya apa-apa. Aku sudah membawa mereka bertiga jauh dari kota ini. Dia pasti tidak akan melakukan apapun yang bersinggungan dengan Tuan Muda lagi, saya berjanji!”


Arsen menghela nafas!


“Paman meminta izinku setelah melakukan semuanya, bahkan 4 hari yang lalu, setelah kau mendapatkan cambukan, kau juga tak menjelaskan apapun padaku! Padahal saat itu aku menantikan kau menjelaskannya. Paman, aku telah menganggap mu keluargaku! Sebagaimana kau menganggap Dad Jimi saudaramu.”


“Saat Dad menyerahkan kepercayaan padamu, saat itu aku juga meletakkan kepercayaanku padamu, walaupun belum sepenuhnya. Aku berharap, Paman bisa mempertahankan kepercayaanku itu.”


Berend langsung bersimpuh di kaki anak kecil yang penuh ambisi itu, “Tuan Muda, terimakasih karena telah menganggap aku keluargamu. Aku berjanji, aku tidak akan pernah mengkhianatimu, akan melakukan yang terbaik untukmu, tolong percaya padaku.” Ia letakkan kedua tangannya di lutut Arsen yang tengah duduk di sofa.


Arsen langsung memeluk tubuh Berend.


**


Di sebuah ruangan khusus CEO perusahaan Ar3s. Ada sebuah ruangan kecil yang dipasang dengan alat pengaman dan dijaga beberapa satpam di luarnya.


Di dalam sana, ada beberapa perhiasan yang harganya sangat fantastis! Kalung, gelang, cincin, anting dan jam tangan mewah yang dilapisi emas dan berlian.


Hans dan Jimi sedang berbincang diruangan itu, menatap perhiasan yang menyilaukan mata dari luar kaca.


“Ini semua sudah siap? Lalu, modelnya sudah dipastikan 'kan?” Jimi bertanya.


“Ya, semuanya sudah selesai Tuan Jimi. Kami sudah melakukan kontrak bersama para model dan telah saling menandatangani surat perjanjian itu.” jelas Hans.


“Bagus. Kau benar-benar pemuda pintar yang sangat bisa diandalkan Hans. Pekerjaanmu baru saja beberapa bulan, sudah berkembang seperti ini. Mata jeli Arsen sungguh bisa melihat orang-orang yang berpotensi!” ucap Jimi tersenyum sembari menepuk-nepuk pundak Hans.

__ADS_1


“Saya tidak akan bisa melakukan pekerjaan ini dengan baik, jika bukan karena bantuan Tuan, Tuan Berend dan Tuan Muda. Tentu saja juga beberapa bawahan kepercayaan.” jawab Hans.


Jimi tersenyum. “Kau memang pantas berada disamping Arsen.”


“Oh iya, Tuan! Saya telah menyerahkan beberapa berkas ke tangan bawahan Tuan Berend tentang Puloh, juga rekaman suara saat kita melakukan negosiasi kemarin.” lanjut Hans.


Jimi menganggukkan kepalanya beberapakali.


“Sebenarnya dan sejujurnya, semua ini bukanlah bidangku. Aku hanya seorang fotografer, pecinta alam. Biasanya, aku selalu bersama Arhen, menemaninya berfoto dibeberapa tempat, menemaninya ke lokasi syuting. Kini, aku malah bersama Arsen. Tak pernah sebelumnya aku berpikir seperti ini.”


“Usaha bukanlah duniaku, aku tak suka berbisnis, namun karena aku mencintai ketiga putra kecil itu, aku belajar dan berusaha menjadi yang terbaik untuk mereka. Mengumpulkan uang jerih payah mereka untuk membeli hal-hal penting yang mereka inginkan, membantu mereka melakukan apapun, mendukung kemampuan mereka semampuku. Entah karena aku melihat mereka semenjak bayi, atau karena mereka juga memperlakukan aku dan Billa begitu spesial.” Jimi bergumam, Hans hanya menjadi pendengar yang baik.


“Aku memang mencintai komputer dan kamera. Itupun karena aku mencintai alam, aku suka memoto dan mengedit foto. Aku mengajarkan mereka sebatasnya, tanpaku sangka Arsen sangat mencintai dunia itu. Aku memanjakannya, setiap ada rezki, setiap aku pulang ke Tiongkok, aku akan membelikan hp dan laptop. Terkadang aku jalan-jalan ke Singapore membelikan hp dan laptop seken, bahkan ada juga yang baru, agar dia senang.” Jimi terus saja bercerita.


“Hingga suatu hari, aku mendengar Sakinah mengamuk. Untuk pertama kalinya aku melihat wanita lembut itu menjadi kasar, menyimpan dan bahkan sebagian ia banting laptop dan hp itu. Bisa dibilang, laptop, hp, komputer sudah menjadi sebuah mainan seperti mobil-mobil di dalam kamar Arsen karena ia sangat menyukainya.”


“Saat itu aku merasa tersinggung, mungkin Sakinah juga dalam keadaan emosi. Ia seolah menuduh aku dan Billa terlalu memanjakan anak-anak, selalu memberikan barang-barang mahal. Bahkan barang yang belum pantas anak kecil memegangnya. Aku lihat Arsen, dia anak dingin yang terlihat sangat sombong itu bersimpuh memohon pada Sakinah. Dia berjanji tidak akan melakukannya lagi.”


“Di sanalah aku baru menyadari, Arsen mempunyai kemampuan luar biasa melebihi batasan orang biasa lainnya. Dia meretas sebuah perusahaan di Batam, untungnya semuanya cepat dihentikan Sakinah. Dengan kegeniusan dan semua memadai, seperti hp, laptop, komputer, hingga paket data ada. Anak laki-laki kecil itu bisa melakukan sesuatu.”


“Sesuatu yang bisa sangat berbahaya jika tidak dikhawal dan dinasehati sejak dini. Keahliannya harus diarahkan, dididik dan dikontrol. Disitulah kesalahanku, aku terlalu memanjakannya tanpa batas ******.” Jimi menghela nafas berat.


“Sakinah benar-benar wanita kuat dan pintar dalam mendidik anak. Anak seperti Arsen pantas lahir dari rahimnya.” Jimi tersenyum.


Ya, masih dia ingat. Walaupun Sakinah bukanlah wanita pintar dalam pelajaran, lemah dalam bertindak karena dia wanita lemah lembut aslinya. Namun dalam mendidik anak, dia sangat tegas dan pintar.


“Benar, Tuan Jimi. Allah sudah menetapkan mana yang paling terbaik untuk umatnya. Kita bisa melihat kesekitar sebagai panutan dan contoh. Nyonya Sakinah, memang wanita baik berbudi luhur.“ sahut Hans.


Kini, mereka berdua sama-sama terdiam menatap perhiasan di dalam kaca.

__ADS_1


__ADS_2