
“Ah, kenalkan, ini putri saya, namanya Eline Fay, ia sedang menjalankan study semester pertamanya, jurusan seni kreatif dan desain!” sambung pria itu lagi dengan tersenyum ramah.
Eline mengulurkan tangannya ke depan, Arsen hanya menatap tangan itu, lalu berkata, “Arsen!”
Tentu saja sikap Arsen membuat pria paruh baya itu tersinggung. Hans langsung angkat bicara, “Maaf, Tuan Muda Arsen tidak berkenalan dengan seorang wanita secara bersalaman, ia hanya bisa bersalaman dengan sesama pria.”
“Maaf, bagaimana kalau kita minum bersama dulu,” ajak Andrean juga untuk memenangkan pria paruh baya itu.
Andrean, Arsen dan Hans, pria paruh baya itu bersama dengan istri dan anaknya telah duduk dimeja perjamuan. Beberapa minuman telah dihidangkan, ada anggur, minuman beralkohol lainnya serta air soda.
Andrean menuangkan minuman ke pria paruh baya itu, lalu menuang air soda ke gelasnya. Hans juga melakukan yang sama, menuang air soda untuk Arsen dan dirinya. Pria paruh baya itu menatap gelas tiga pria dihadapannya yang berwarna berbeda dengannya.
“Kenapa minuman kita berbeda?” tanyanya.
“Kami tidak bisa meminum alkohol,” jawab Andrean. Pria paruh baya itu memicingkan matanya, lalu tersenyum kesal.
“Ck, kalian mau menghinaku? Tadi tak menghargai putriku, sekarang mengajak minum, tetapi banyak alasan!” Wajahnya memerah karena menahan kesal.
Arsen menatap pria itu sekilas, lalu meneguk air sodanya beberapa tegukan. Eline memegang lengan ayahnya.
“Ayah, tidak apa-apa, tenanglah. Tuan Muda Arsen memang tidak meminum alkohol. Mereka Muslim, Ayah. Mereka dilarang meminum alkohol, kita tidak bisa menganggap perbuatan ini tidak menghormati kita, karena dengan duduk bersama sekarang, itu sudah menghormati kita!” tutur Eline setengah berbisik.
“Maaf Tuan, Ayah saya salah paham, tolong maafkan sikapnya tadi,” pinta Eline, ia menatap Arsen agak lama.
Arsen tampak tak peduli dengan ini semua.
“Oh, maafkan saya, Mr. Andrean, Nak Hans dan Nak Arsen, sungguh saya telah salah paham,” tuturnya.
“Iya, tidak apa-apa, mari kita minum!” Andrean mengangkat gelas sodanya, Hans, Arsen, juga mengangkat dan mengadukan gelas itu sampai berbunyi, Teng!
__ADS_1
Baru saja meneguk air soda, sudah datang lagi beberapa orang ke meja mereka, orang-orang itu bersalaman dan berkenalan dengan Andrean, Arsen dan Hans.
Hans bisa menangkap jelas dari kerutan alis Arsen, pemuda ini sudah sangat-sangat bosan dengan perkenalan itu, ia melirik ke kiri dan ke kanan, tak ada alasan untuk menghindar, karena Dedrick pun juga tak kalah sibuk bersama Ibu Abraham diserbu orang-orang yang mencari muka.
Sekarang ada tiga orang anak gadis tambahan yang diperkenalkan pada Arsen, mata mereka tak berkedip melihatnya, membuat Arsen sangat-sangat risih.
“Tuan Muda, Anda menyukai tea, ya? Sepertinya aroma farfum Anda mint tea, aku punya beberapa aroma tea, tea lavender, mountain tea dan oranye tea, jika Anda suka, saya bisa memberikannya,” Salah satu gadis itu mencoba mencairkan suasana.
“Tidak!” jawab Arsen berwajah dingin.
“Apakah Anda sudah punya kekasih? Sepertinya sejak tadi Anda terlalu menjaga sikap,”
“Kita tidak sedekat itu untuk pertanyaan pribadi!” balas Arsen ketus.
Para gadis itu merasa kesal diabaikan oleh Arsen. Eline sudah paham akan sikap Arsen, ia memang baru kali ini melihat wajah tampan pemuda yang ia idolakan itu, namun ia sangat menyukai pribadi Arsen.
Hari di mana pengumuman kemenangan even jewerly, kalung embun pagi milik Arsen yang ia persembahkan untuk Sakinah, membuat Eline tersentuh, ia merasa sosok Arsen adalah pria baik yang mengagumkan, pria hangat pada keluarga.
“Biar saya tuangkan minuman Anda, Tuan Muda,” tawar Eline saat melihat minuman Arsen yang sudah habis.
Arsen tak menjawab, namun matanya melirik Hans. “Terimakasih atas kebaikan Nona, tidak perlu, biar saya saja,” ujar Hans, kemudian menuangkan air soda ke dalam gelas Arsen.
Eline hanya bisa melemparkan senyuman kecil pada Hans. Arsen mengetuk-ngetuk jari telunjuknya di meja, menandakan ia sangat bosan. Hans pun mengirimkan pesan pada Xander.
Arsen mengusap wajahnya dan mendesah, Andrean mengulum senyum saat melihat ekspresi putra sulungnya itu.
Tak lama Xander datang bersama Arhen. Ia adalah salah satu selebriti yang ada dalam undangan, namun entah kemana sejak tadi pemuda tampan ini, tetapi akhirnya Arsen bisa bernafas lega setelah melihat adik kembarnya itu datang.
“Papa!” Arhen mengecup pipi Andrean yang sedang berbincang dengan tamu, lalu mengecup pipi Arsen, membuat pemuda itu mendecih sebal, dan menghapus pipinya.
__ADS_1
“Hai Ladies!” sapa Arhen, pemuda tampan sejuta umat itu menebarkan senyuman menggodanya, ia langsung duduk di samping Arsen.
“Hai,” jawab para gadis-gadis itu dengan mata berbinar.
“Aku Arhen Ryker Van Hallen, apa kalian ada yang mengenalku?” tanyanya dengan mengedipkan mata.
“Aaah, tentu saja, kau 'kan pemain drama air mata naga hijau! Ah, bukan kau pameran utama bunga kerajaan, kau adalah aktor papan atas, siapa yang tidak akan kenal!”
“Iya, kau 'kan memenangkan beberapa kali award, belum lagi beberapa iklan produk-produk yang terpasang di setiap papan reklame di sekitar jalan-jalan, supermarket, mall dan lainnya.
“Hanya orang bodoh dan buta yang tidak bisa mengenal pangeran superstar seperti dirimu!”
Tiga wanita itu memuji Arhen dengan antusias, berbeda dengan Eline, ia hanya tersenyum kecil memandangi Arhen.
“Menurut para ladies, siapa yang lebih tampan antara aku dengan kakak laki-lakiku?” tanya Arhen, membuat tiga gadis didepannya menegang seketika mendengar pertanyaannya itu. Terlihat mereka meneguk salivanya.
“Jangan takut, jawab saja ladies, hehehe!” Arhen terkekeh. Tetap saja pertanyaan itu membuat para gadis takut menjawab, apalagi disuguhi didepan mereka dengan wajah dingin Arsen.
“Memang dia paling tampan di rumah, karena itu dia jadi artis,” sahut Arsen saat mendapati para gadis itu melirik ke arahnya.
“Hahaha, kau memang Abangku paling keren, selalu menjadi orang pertama yang memuji ketampananku, kalau begitu, mari kita pergi dari sini Bang, mencari orang yang melihat ketampananku!" Arhen dengan santainya menarik tangan Arsen.
“Papa, aku bawa Abang, semuanya kuserahkan Pada Kak Hans dan Papa, ya! Jangan ganggu kami, bye!” Arhen langsung beranjak pergi dari sana bersama Arsen, membuat para gadis-gadis tadi terdiam.
“Ah, seharusnya tadi kita menjawab langsung saja!” sesal mereka.
Arhen telah menyelamatkan Arsen dari pertemuan yang membosankan itu, kini ia telah duduk di dalam mobil Arhen.
“Haaaaah!” Untung kau datang, jika tidak, mungkin aku akan membalikkan meja atau meledakkan ruang pertemuan itu!” Arsen mendesah.
__ADS_1
“Hahahahaha, baiklah, karena aku telah menyelamatkan Abang, tentu saja ada imbalannya dong!” Arhen mengedipkan matanya.
...----------------...