Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Maaf....


__ADS_3

★★★Adegan Romantis🌻Harap membaca setelah puasa aja deh, takut baper🐎🐎★★★


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Arhen bersandar di dinding lobi hotel, dia meminum air soda dengan tatapan kosong. “Maaf Eric, tetapi aku juga mencintai dia. Dia bahkan berkata serakah ingin memiliki diriku dan mencintaiku juga!” gumam Arhen sendirian. Setelah menghabiskan minuman sodanya, ia membuang kaleng kosong itu ke dalam tong sampah dan kembali lagi ke dalam kamar.


Di dalam kamar, dia mengambil sesuatu yang tersimpan di dalam tas kerjanya, sebuah kotak kecil, dia tersenyum mengelus kotak itu dan menyimpannya di saku celana.


***


“Aku teman Arhen sajak kecil Mutia, maaf jika aku tak menceritakannya padamu, kala itu aku tak yakin dia masih mengingatku, hingga dia datang mencariku ke kontrakan dan melamarku, kami menikah diam-diam agar awak media tak membahasnya, jadi-- kamu mau 'kan merahasiakan dan memaafkanmu,” terang Aini pada Mutiara sedikit berbohong tentang pertemuannya dengan Arhen, namun dia memang berkata jujur tentang Arhen teman masa kecilnya.


Mutiara kembali memeluk Aini. “Syukurlah kalau begitu, aku iri dan cemburu tetapi juga senang. Semoga pernikahan kalian langgeng ya, Sohibku. Em, sekarang, cepat susul idolaku! Bujuk dia, kurasa dia tadi salah paham dan sangat cemburu!” Mutiara mendorong tubuh Aini pergi.


Aini berjalan menuju kamar dengan perasaan cemas. “Apakah benar itu adalah perasaan cemburu? Apa dia juga mencintai ku?” tanya Aini dalam pikirannya.


Aini membuka pintu kamar pelan. Tampak Arhen berdiri memunggungi dirinya. Aini menjadi cemas.


“Kau sudah selesai bicara dengan teman perempuan mu?” Arhen memutar tubuhnya.


“Maaf, ini semua tidak seperti yang kau pikirkan. Aku tadi- itu, aku tidak bertemu diam-diam dengan pria, aku memang ingin bertemu dengan teman perempuan ku, tetapi tadi tak sengaja juga bertemu teman lamaku,” jelas Aini gugup.


“Oh, teman lama dari mana?”


Aini lama diam, menatap Arhen. ‘Jadi, dia tidak mengenal Eric?’ batin Aini. “Dia temanku dari kampung dulu,” jawab Aini kemudian.


“Dimana kampungmu?” Arhen bertanya sambil melangkah mendekat ke arah Aini.


“Di---” Aini menjadi gugup sekali, dia khawatir, bagaimana reaksi Arhen jika tahu mereka sekampung. Dia merasa Arhen tak akan mengingatnya, sama seperti Arhen tidak mengingat Eric.


“Dimana, hm?” Arhen sudah memeluk Aini dari belakang, mengecup leher wanita itu penuh kasih, sambil tangannya merogoh kantong celana dan mengeluarkan kotak di dalamnya.

__ADS_1


Arhen melepas pelukan dan tangannya memutar tubuh Aini hingga mereka saling berhadapan. Arhen membuka kotak cincin itu, mengeluarkan cincinnya, lalu menyorongkan ke tangan Aini. Di jari manis sebelah kanan, karena jari manis sebelah kirinya ada cincin pernikahan mereka.


Arhen tersenyum, kedua jari manis Aini terpasang cincin pemberiannya. “Sayang, maaf ya, aku terlambat mengenalmu, cincin ini sudah lama aku minta buatkan pada Abang, seperti janjiku padamu saat itu, aku memang berniat menemuimu dan ingin melamarmu di kampung kita, setelah aku besar dan memiliki uang untuk membeli cincin permata. Oleh karena itu, aku sangat galau, saat melakukan pelecehan pada gadis lain. Disisi lain, aku ingin menikah denganmu, tetapi aku harus bertanggungjawab atas perbuatan ku. Maaf!” Arhen mengecup punggung tangan Aini.


Aini langsung memeluk Arhen, menangis sesungukan.


Arhen membelai punggung nya lembut, sambil membisikkan kata-kata manis. “Aini, sedari dulu hingga detik ini, hatiku hanya ada dirimu seorang. Aku sangat senang setelah mengetahui wanita yang kunikahi adalah dirimu, maaf aku tidak mengenalmu saat pertama kali bertemu,”


Aini tak menjawabnya, ia hanya menangis dalam pelukan Arhen.


“Sayang,” Arhen melepaskan pelukannya. “Kamu mau maafin aku 'kan?” Menatap Aini lembut, wanita itu masih saja tak menjawab. dia masih menangis.


“Maaf ya, waktu itu kau pasti sedih, saat aku pulang kampung dengan terburu-buru. Hari pemakaman kakekku, aku tidak bisa bertemu denganmu karena harus segera balik secepatnya, kami harus mengikuti ujian kenaikan kelas, perusahaan papaku yang di Belanda juga mengalami masalah saat itu.”


“Akan tetapi, aku pulang kampung diam-diam bersama asisten papaku dua bulan kemudian, saat itu ayahmu meninggal dunia, kau sangat bersedih, aku tak enak hati menemuimu untuk melepaskan rasa rinduku, hingga aku urungkan niat untuk bertemu denganmu kemudian hari, aku hanya melihat kamu di pemakaman ayahmu bersama adikmu yang saat itu masih sangat kecil dari kejauhan,” jelas Arhen.


“Hingga aku kembali ke desa beberapa tahun kemudian bersama Abangku, aku tidak menemukanmu, karena kau dibawa oleh Pamanmu. Jadi, aku berpikir untuk kembali saat ini ke desa, saat kau sudah tamat sekolah menengah atas, kau pasti akan kembali ke desa berkunjung saat musim liburan begini.”


“Ap-apa kau ju-juga men-mencintaiku hi-hingga de-detik ini? Se-selalu memikirakanku?” Aini bertanya dengan suara terputus-putus karena menangis sejak tadi.


“Nuraini Putri, aku mencintaimu sejak dulu hingga detik ini!” Arhen langsung mencium bibir Aini mesra setelah berkata seperti itu dan mereka pun larut dalam ciuman.


Setelah berciuman, Arhen menghapus bekas air mata Aini dengan tersenyum ceria.


“Kalau kau mencintaiku kenapa kau membuang gelang pemberianku?” Aini teringat pada malam itu, Arhen membuang gelang rajutan pemberiannya.


Arhen terkekeh kecil. Dia hanya mengusap tengkuknya, saat itu dia berniat melupakan Aini karena terlanjur menikah dengan istrinya, tidak mungkin dia menjawab seperti itu 'kan? Nanti Aini bisa berpikir kalau dia tidak mencintainya lagi.


“Ya, karena-- gelangnya jelek, aku mau hadiah yang baru seperti yang kau janji 'kan.”


“Hm, aku-- belum menyiapkannya, tetapi aku akan menyiapkannya nanti.”

__ADS_1


“Tidak, aku ingin hadiahnya sekarang!” Langsung menggendong Aini ke atas ranjang.


“Sayang, sekarang kau harus jujur padaku, malam itu, malam pertama kita 'kan? Apa kau suka dan senang?” tanya Arhen mulai mencumbui Aini dengan tangan nakal berkeliaran di tubuh istrinya.


“Jangan menanyakan hal yang membuatku malu.”


“Hihihihi!” Arhen terkekeh kecil. “Apa kau tidak ingin bertanya padaku, sejak kapan aku tahu kalau kau adalah Aini?” Bertanya di sela-sela mencium Aini.


“Saat tadi 'kan? Saat bertemu Eric. Huh, katanya kau akan selalu mengingat diriku, akan selalu mengenal diriku, walau hanya bertemu bayangan atau hantuku, dasar artis tukang gombal!”


“Hehehehe, kau masih mengingatnya ya, Sayang!” Arhen tersenyum dan melu*mat dada Aini.


“Aku mengingatmu sebelum kau bertemu Eric,” ucap Arhen, mencubit dan memelintir dada Aini lembut. “Saat malam pertama kita, aku melihat tanda di dadamu, caramu bicara, dan kebiasaanmu yang selalu berkata ingin memukul kepalaku jika aku tertawa menggodamu.”


“Tanda di dadamu sudah terpatri di otakku saat kau menolongku di sungai, tahu!”


Aini menatap Arhen, Arhen pun juga menatapnya dengan intens, kemudian memberikan ciuman bibir sekilas. “Saat mengambilkan aku baju pagi harinya, aku memanggil namamu Aini loh, tapi kau tidak sadar, dan kau menjawabnya, apalagi saat melihat reaksiku setelah aku membuang gelang itu, kau terus terusan bertanya tentang gelang dan kehidupan masa kecilku.”


“Awalnya memang sih, saat aku membuang gelang itu aku belum terlalu yakin, aku berniat serius dengan pernikahan kita, em--”


“Dan kau berniat melupakan ku?” Aini langsung mendorong tubuh Arhen dan duduk menjauh dari Arhen.


“Sayang,” panggil Arhen. Sesuatu di sana sudah bangkit, tapi dia harus membujuk Aini yang telah bangun dari ranjang dengan wajah cemberut.


‘Oh, ini yang disebut dengan penyiksaan!’


...----------------...


🐎🐎🐎 Makasih Arlove, udah nebak alur dan mengikuti cerita ini terus.... semoga terhibur dan suka, ya😘😘😘


...🐎🐎🐎😎🐎🐎🐎...

__ADS_1


__ADS_2