
“Apa boleh?” bisik Andrean manja ditelinga Sakinah, pria itu benar-benar menggoda Sakinah, ia bahkan menggigit kecil daun telinga istrinya.
“Apa?” tanya Sakinah, ia menutupi daun telinganya karena geli.
Sakinah yang tak terlalu bermain panas dengan mantan suaminya, tentu saja sedikit bingung dengan istilah-istilah Andrean. Apalagi ia dulu lama tak disentuh siapapun, sibuk dengan sikembar. Sekarang, ia malah dihadapkan dengan pria mahir seperti Andrean.
“Jika diam berarti jawabannya iya!” tanya Andrean sembari menciumi wajah Sakinah, lalu turun ke leher. Buulu tangan Sakinah langsung berdiri karena geli.
“Kau selalu saja terlihat sangat cantik dan menggoda, membuatku selalu tertarik.” Andrean terus melanjutkan reaksinya.
Ya, akhirnya Andrean menggagahi istrinya. Ia memperlakukannya dengan sangat lembut, memberikan banyak ciuman disetiap jengkal tubuh Sakinah. Perlakuan dan cara mainnya sangat berbeda, saat ia bersama wanita-wanitanya. Ia sangat hati-hati, ia hanya ingin menyenangkan hati istrinya, tidak bermain egois seperti biasanya.
**
Pagi hari, Sakinah telah bangun. “Sayang, bangunlah! Apa kamu mau mandi untuk sholat subuh?” bisik Sakinah lembut, kemudian mengecup pipi Andrean.
‘Sayang?’ Sejak kapan istrinya itu memanggilnya dengan kata sayang?
‘Apa dia juga telah jatuh cinta padaku?’ pikir Andrean, perlahan ia membuka matanya.
“Kamu sudah bangun? Apa kamu mau sholat bersama?” ajak Sakinah tersenyum.
Andrean merengkuh ceruk leher Sakinah, mencium bibirnya sekilas karena Sakinah mendorongnya.
“Jangan, nanti kamu menjadi mau, bagaimana kalau kita sholat dulu, ya.”
“Kalau selesai sholat, boleh main lagi?” tanyanya dengan senyum menggoda.
“Boleh, sebelum dan sesudah waktunya sholat!” jawab Sakinah, ia mencoba duduk memberi jarak antara dirinya dan tubuh polos Andrean.
“Kalau begitu, ayo mandi dan sholat!” Andrean tersenyum, menggerak-gerakkan tubuhnya, lalu duduk dari tidurnya.
Setelah mandi, Sakinah dan Andrean sholat bersama. Ini adalah shalat berjamaah pertama mereka!
“Ayo, jadi Imamku!”
“Hm, itu...” Andrean menggaruk kepalanya, tersenyum kikuk.
“Ayo, kamu adalah suamiku, ayah anak-anak. Kamu pemimpin, maka pimpinlah kami. Aku percaya padamu.”
Andrean berdiri di sajadahnya. Entah kenapa ada rasa aneh di dalam hatinya, ia memang sudah hafal bacaan sholat, Sakinah bahkan sering menguji bacaannya dan mengaji bersama, namun untuk menjadi Imam, ia belum percaya diri.
“Percaya dirilah, Sayang. Aku percaya kamu bisa menjadi Imam kami.” ucap Sakinah menyemangati. Ya, Andrean itu harus dibujuk, sedikit seperti Arsen, anak dingin itu bisa hangat dan meleleh jika dipuji Ibunya. Begitu pula Andrean!
Dipanggil Sayang, rasa percaya dirinya langsung tumbuh.
Ia berdiri tegak, membaca niat, lalu melafazkan kalimat, ‘Allahuakbar!’
Sakinah mengikutinya sampai salam.
“Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu!” Andrean membaca salam.
__ADS_1
‘Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatu!’ Sakinah juga membacanya.
“Mari kita baca tasbih, 33 kali. Ikuti ya, Subhanallah, Subhanallah, Subhanallah!”
“Lalu tahmid, Alhamdulillah, Alhamdulillah, Alhamdulillah 33 kali!”
“Kemudian takbir, Allahuakbar, Allahuakbar, Allahuakbar 33 kali!”
“Lalu berdo'a!” Sakinah mengangkat tangannya.
Andrean berdo'a kemudian dipenutupnya, ia membaca do'a yang diajarkan Sakinah. “Rabbanaa aatinaa fiddunya hasanah, wa fil aakhiraati khasanah, wa qinaa adzaabannaar.” (Ya Tuhan kami, berila kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab neraka)
“Aamiin!” ucap mereka berdua.
Sakinah langsung menyalami tangan Andrean dan mencium punggung tangannya.
Setelah sholat, Sakinah melipat mukena dan sarung Andrean. Hatinya merasa tenang dan damai, pagi ini terasa sangat menyenangkan!
Toktoktok! Pintu kamar diketuk.
“Mom!” Terdengar suara Arhen dari luar.
“Kenapa pintunya dikunci?” tanya Arhen saat pintu kamar dibuka Sakinah.
“Karena banyak barang-barang berharga dikamar ini!” sahut Andrean.
“Mom, ajari kami mengaji! Kami sudah lama tidak mengaji bersama Mom! Akhir-akhir ini Mom selalu saja mengaji bersama Papa!” Arhen mengabaikan ucapan Andrean yang menggodanya.
“Dia istriku, tentu saja harus mengaji bersamaku, barusan kami sholat bersama!” Memanasi Arhen.
Arhen menatap tajam Andrean, kesal, pasti! Ya, Andrean berhasil menjahilinya dipagi buta ini.
“Besok kita akan solat bersama juga ya! Nah, sekarang ayo mengaji bersama Mom!” bujuk Sakinah, lalu pergi bersama Arhen.
Pfft! Andean terkekeh! Ia juga mengambil sarungnya yang sudah dilipat Sakinah tadi. Masuk ke dalam kamar anak-anak.
Tiga anak laki-laki itu menatapnya tajam, terlihat sekali betapa kesalnya mereka saat diganggu. Mereka tak ingin berbagi perhatian lagi!
“Papa ikut, ya!” Memasang sarung, duduk diantara anak-anak. mengabaikan tatapan tidak suka mereka.
Anak-anak mulai mengaji, Andrean hanya diam melihat Alqur'an, ia belum belajar membaca tulisan yang keriting itu. Iya masih belajar Iqra'!
Sakinah menyimak dan memberitahu bacaan mana yang salah, hingga ketiga anaknya selesai mengaji.
“Kalian sangat pintar!” puji Andrean tulus saat mereka menyalami tangannya.
“Karena kami anak Mom dan Papa!” Untuk pertama kalinya, putra sulungnya yang bernama Arsen itu berkata baik dan tidak pedas.
“Papa 'kan juga pintar!” tambah Ardhen memuji.
“Tetapi tetap jahat!” sambung Arhen cemberut.
__ADS_1
Andrean langsung menggendong Arhen. “Tetapi Papa sangat mencintai kalian bertiga. Cup!” Ia mencium pipi Arhen.
“Jangan menggodaku! Aku tidak mudah untuk dirayu!” ucapnya, namun pipinya memerah.
“Adik juga mau digendong, Pa!” Ardhen mengulurkan kedua tangannya.
“Dasar anak-anak!” Seperti biasa, Arsen selalu begitu. Ia melipat sarungnya dan menyimpan Al-qur'an.
**
Pagi ini, Andrean lebih cepat datang ke kantor. Ia tidak jadi melakukan kegiatan menyenangkannya kembali bersama Sakinah setelah sholat karena mengaji bersama anak-anak.
Wajahnya dipenuhi dengan senyuman.
“Selamat pagi, Pak!” sapa beberapa para karyawan yang ia lewati.
“Pagi, Pak!” sapa Sekretarisnya, ia berdiri saat Andrean melewati ruangannya.
“Milley, saat David datang, segera suruh dia masuk keruanganku!” ucap Andrean, lalu masuk keruanganya.
Tak lama, David pun datang dengan membawa beberapa berkas dengan tumpukan tinggi.
“Selamat pagi, Tuan Muda.”
“Pagi! Bagaimana? Kamu sudah menyelidiki wanita itu?”
“Sudah Tuan Muda, tetapi...”
“Tapi kenapa?”
“Sepertinya Tuan Muda Arsen sudah bertindak duluan, Saya melihat Barend telah melakukan sesuatu.”
“Tadi malam?” tanya Andrean. Ya, dia melihat dengan jelas saat Barend sengaja melakukan itu sehingga dua wanita itu basah.
“Bukan, Tuan Muda! Tetapi pagi ini!” jawab David.
“Anak itu bukan main!” Andrean tersenyum kecil. Bagaimana tidak, ia salah satu orang yang pernah dipermainkan anak kecil itu. Hacker yang waktu itu bermain dengannya, meminta sebuah ginjal padanya, darah dagingnya sendiri.
“Bawakan laptop itu padaku!” perintah Andrean pada David.
Andrean mengotak atik laptopnya, memeriksa profil Arsen. Ya, ingin menyelidiki apa saja yang dilakukan putranya. Anak yang sangat berbakat, menciptakan sebuah aplikasi game terpopuler, mendirikan sebuah perusahaan!
Tak lama, belum juga ia usai melihat. ‘Ting! Warning! 1 2 3! Error!’ Layar laptop Andrean menggelap.
“Hahahahaha! Dasar anak kecil, dia peka sekali!” Andrean tergelak.
Drrt! Drrt! Hp Andrean bergetar, ada sebuah pesan.
‘Pengintip sama dengan pencuri!’ Arsen mengirim sebuah pesan. Andrean terkekeh saat membaca pesan itu.
...----------------...
__ADS_1