Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Selebriti


__ADS_3

Berita tentang Jimi menjadi berpincangan hangat di telivisi. Wali perusahaan Ar3s Jiming Ho Chen.


“Ah, coba lihat Honey! Kau menjadi selebriti dadakan!”


“Kamu mengejekku Honey?” Jimi meraih pinggang Billa.


“Tentu saja tidak! Aku mengatakan yang sebenarnya, isi sosial mediaku tentang perusaahan Ar3s saja sejak tadi!”


“Tapi itu tidak terlihat seperti suamimu 'kan? Itu terlihat seperti kakek-kakek berumur 55 tahun!” ucap Jimi.


“Namun masih terlihat aura ketampanannya tuh!”


“Apa kau sedang menggodaku?” Jimi langsung mendekatkan wajahnya dan mencium pipi istrinya lembut. Billa pun membalasnya dengan ciuman hangat.


“Honey, aku penasaran, kenapa Berend Elmo bisa sangat dekat denganmu, hingga ia mau menjaga dan bekerja dengan anak kita yang dingin itu!”


“Hm... dulu...” Jimi menghela nafas, kemudian menatap Billa. Takut jika wanita itu tiba-tiba kesal.


“Dulu aku sering bolos saat kuliah! Aku menghabiskan uang untuk bermain dan berkeliling dunia tanpa sepengetahuan orangtuaku. Saat uangku habis, aku akan berkata pada mereka, aku memiliki banyak tugas kuliah...” Jimi menghentikan kembali ucapannya, ia tatap wajah Billa sedikit berubah.


“Lanjutkan!” perintah Billa.


“Honey, jangan marah,” rengek Jimi bermanja ke dalam pangkuan Billa.


“Sebenarnya aku sangat kesal, tapi itu sudah masa lalu, semoga anak-anak kita yang genius itu dan anak kandung kita nanti tidak bolos saat sekolah!” ucap Billa dengan hembusan nafas panjang.


“Iya, maafkan aku Honey.”


“Ya, cepat lanjutkan!”


“Aku bermain ke beberapa negara dengan teman-temanku, kami menguasai beberapa bahasa, jadi merasa sangat percaya diri. Sebelum berkunjung ke negara lain, kami juga membaca tentang culture negara itu dulu. Terakhir sampailah kami di Belanda, dimana negara itu pernah menjajah negara kita dulu, Indonesia.”


“Kami penasaran, kenapa bisa di jajah? Saat kami mengunjunginya, kami terpukau, negara indah dan bersih. Negara dengan sebutan kincir angin itu benar-benar negara yang indah menurutku. Aku sampai lupa karena asik mengambil foto sana sini. Bunga-bunga ditepi jalan saja sudah begitu menghipnotisku.”


“Hari sudah mulai gelap, aku baru sadar jika aku telah berpisah dengan teman-teman. Aku tersesat, aku terdiam di sebuah gang sempit yang buntu. Perlahan aku lihat ada seorang yang terlihat memegang perutnya. Aku mendekat dan melihat dia terluka.”


“Aku menggendongnya di punggungku, berteriak minta tolong. Namun ia segera menutup mulutku dengan keadaannya yang sudah sangat lemah itu. Suaranya kurang jelas dalam bahasa Belanda. Namun bisa kupahami dia tak ingin diketahui siapapun, artinya ada orang yang sengaja melukainya.”


“Aku menggendongnya naik taksi, aku lakukan pengobatan pertama saat didalam mobil, untuk menghentikan pendarahannya. Sopir taksi pun juga khawatir, ia pun melajukan mobil dengan kencang ke rumah sakit.”

__ADS_1


“Saat ia sadar, aku berbincang dengannya, ia memperkenalkan namanya, ia awalnya seorang pengamen jalanan, kemudian karena kesulitan ia pun mulai mencuri, bergabung dengan para preman. Tetapi suatu hari ia dijebak temannya, hingga ia disiksa, tak ada yang berani menolongnya. Mungkin Tuhan memberi ia umur panjang, sehingga ia tetap bertahan dan saat aku menolongnya tak ada siapapun yang mencegatku.”


“Aku membelikan ia biola baru sederhana, menyewa tempat tinggal untuknya beberapa bulan dan meninggalkan tabungan untuknya. Berharap kehidupannya lebih baik.” Tatapan mata Jimi menerawang, mengumpulkan semua memori masa lalu.


Billa memeluk Jimi haru.


“Aku berjanji akan kembali lagi ke Belanda menemuinya, tetapi aku tak pernah datang. Ia selalu memintaku datang, hingga kita bertemu saat itu.”


“Honey, kau memang belahan jiwaku, pangeranku yang baik hati. Muah, muah, muah!” Billa mencium wajah Jimi bertubi-tubi.


“Apa kau tidak kembali lagi karena menghabiskan semua tabunganmu untuk Berend?” tanya Billa.


“Iya. Dia pasti membutuhkannya. Lihat, dia menjadi sukses 'kan sekarang?”


**


Arsen sibuk memakan kuaci, menonton beberapa tayangan. Arhen dan Ardhen juga menonton di sampingnya.


“Woaaa! Ngantuk!” ucap Ardhen menguap.


“Iya, bosen, tuker yang lain deh Bang!” rengek Arhen.


“Tidur! Buka laptopnya sendiri!” jawab Arsen dingin.


Arsen diam, tak peduli dengan ceracauan Arhen. Berkali-kali ia tonton tayangan Jimy tampil. Tak lama ia menyunggingkan senyuman devilnya.


“Lihat, apa kau mengenal lambang dibaju wartawan ini Arhen?” tanya Arsen.


Arhen menatapnya, bahkan Ardhen juga ikutan.


“Ini?” Arhen menatap Arsen.


“Ya, ada yang berniat buruk!”


“Oh ya, kau jadi menjadi model kalung artis cilik pria untuk jewerly papa?” tanya Arsen.


“Jadi.”


“Bersiap-siaplah bersaing denganku!” Arsen mematikan dan menutup laptopnya, mengemas sampah kuacinya.

__ADS_1


“Ya, aku tau, kalau Ar3s juga ikut even jewerly itu. Bukan hanya itu, masih ada 8 perusahaan besar lagi Bang, salah satunya perusahaan Kakek Irfan!” ucap Arhen menjelaskan.


“Aku ikut!” ucap Arsen pendek, membuat kedua adik laki-lakinya reflek memandang wajahnya.


“Hahahaha, apa? Abang ikut? Kau percaya Dik?” tanya Arhen pada Ardhen.


“Aku kurang yakin Kak.” jawab Ardhen.


Arsen tak peduli jika kedua adiknya tak percaya, ia menyimpan semua barang-barangnya, lalu beranjak pergi sambil berkata.


“Aku mau tidur, kalian sholat witir tidak?”


**


Di dalam kamar.


Andrean tengah memperhatikan Sakinah yang menyisir rambutnya sembari melihat ponsel.


Andrean mendekat, tak tahan lagi, langsung mengecup leher istrinya lembut penuh kasih sayang.


“Sejak tadi, kau melihat ponselmu, apa ada sesuatu yang penting di sana?” tanya Andrean cemburu pada ponsel Sakinah. Ya, sejak tadi ia berharap istrinya itu menoleh padanya, tetapi Sakinah sibuk menyisir rambut dan menatap hpnya.


“Jennifer Lawrence cantik ya, rambutnya bagus.” puji Sakinah menyodorkan hpnya, di sana ada foto artis Hollywood yang cantik.



“Biasa saja, jauh lebih cantik kamu.” Hanya melihat sekilas, lalu sibuk menciumi ceruk leher Sakinah.


“Geli!” Sakinah mengedikkan bahunya. “Kamu lucu, jelas-jelas cantikan dia.” protes Sakinah.


“Aku tak kenal!” jawab Andrean santai, kemudian merapikan rambut Sakinah.


“Itu loh, masa kamu gak tahu?! Artis Hollywood yang cantik dan terkenal itu!”


Andrean tak peduli dengan penjelasan Sakinah, ia hanya sibuk memainkan rambut Sakinah lalu bertanya, “Apa kamu suka dengan model rambut seperti dalam foto itu? Aku akan menemanimu ke salon besok, atau mau aku panggilkan tata rias rambut khusus perempuan ke mansion?”


“Apa cocok kalau rambutku seperti ini? Jennifer 'kan punya wajah cantik.” Sakinah menatap foto Jennifer.


Andrean menarik hp Sakinah.

__ADS_1


“Aku tak peduli wanita itu, mau dia paling cantik di dunia ini, dia paling seksi, dia terkenal atau apalah! Bagiku, kau paling cantik di duniaku, dalam hidupku, bagaimanapun rambut yang kau mau, aku suka, asalkan itu kamu. Bahkan jejak kakimu lebih cantik dari wajah Jennifer itu!”


Sakinah tersenyum kecil, pipinya bersemu merah.


__ADS_2