
“Loh? Kenapa balik Bang? Baru juga setengah jalan! Kita belum melihat hamparan gurun ilalang yang dikatakan Vindo, katanya di sana banyak ditanam bunga kaktus! Aku penasaran dan ingin mencoba memakan buah kaktus!” ujar Arhen.
“Banyak kerjaan!”
“Kerjaan mulu, waktu kecil inilah kita menikmati waktu bermain sepuasnya, jangan cepat-cepat ingin menjadi tua.” kelakar Arhen.
“Garing!” ucap Arsen sinis. Arhen malah terkekeh mendengarnya.
“Bujuklah, Abang ngambek tuh! Emangnya kalian ada masalah apa sih?!” bisik Arhen.
“Gak ada kok. Aku gak ngapa-ngapain.” jawab Ardhen.
“Abang cemburu tuh! Kau sejak tadi merangkul tangan Vindo, jangan mengabaikan Abang karena kehadiran orang lain!” bisik Arhen lagi.
“Ya.” jawab Ardhen mengangguk.
Arsen sudah mulai berjalan beberapa langkah untuk kembali. Ardhen mengejar dan memeluknya. “Abang, maafin adik ya, udah gak sopan dan mengabaikan Abang sejak tadi. Abang mau gak, maafin Adik?!”
Arsen hanya diam saja. “Kalau Abang mau maafin Adik, ayo kita pergi ke gurun ilalang itu, kita harus mengabadikannya, bukankah kita ingin bersenang-senang ke sini. Kalau kita gak mengunjunginya, bukankah perjalanan kita terasa kurang lengkap.” Ardhen mengulurkan tangannya.
“Hm, baiklah, ini karena kamu yang minta jadi aku terpaksa pergi!” jawabnya dingin menerima uluran tangan Ardhen, namun senyuman kecil tersungging di bibirnya kemudian.
Ardhen tersenyum lebar, ia tahu arti jawaban Arsen. ‘Kenapa tidak sejak tadi menggenggam tanganku seperti ini, aku tidak akan marah.’
Arsen dan Ardhen jalan bergandengan tangan, Arhen juga menggenggam tangan Ardhen lalu tangan Vindo disebelahnya. Memang biasanya jika mereka berjalan, posisi Ardhen selalu ditengah, digenggam oleh Arhen dan Arsen. Ya, seperti biasa, Arsen akan terlihat jual mahal saat digandeng, dipeluk, atau dicium adik-adiknya. Sebenarnya, ia suka, ia tipe anak laki-laki dingin yang tidak pandai mengekpresikan perasaan.
Berbeda dengan Arhen yang pandai mengekpresikan dirinya dengan riang, begitu pula juga Ardhen bisa dengan sifatnya yang lembut. Itulah kelebihan dan kekurangan, Arsen sijenius yang tak jenius dalam mengekspresikan perasaan.
Tak lama mereka pun telah melihat padang ilalang itu.
“Ini aman?” tanya Arhen khawatir, mereka harus meniti batuan karang untuk menuju padang ilalang itu.
“Aman, Tuan Muda.” jawab Vindo.
“Biar saya terlebih dahulu mencobanya Tuan Muda? Atau saya gendong dulu satu persatu?” Xander Pim mengusulkan diri.
__ADS_1
“Ah, jangan, tidak usah Paman. Kami adalah anak laki-laki. Laki-laki adalah pelindung dikemudian hari, jadi harus kuat.” sahut Arsen.
Mereka semua berjalan di batu karang itu perlahan dan hati-hati.
Padang ilalang itu membentuk pulau kecil yang bersatu dengan karang secara alami, jadi bisa terhubung dengan pulau besar yang dihuni masyarakat.
Tanahnya keras berwarna merah, bagian tepinya yang basah karena air laut, terlihat sedikit kehitaman, lebih tepatnya itu tak terlihat seperti tanah, karena sangat keras seperti batu. Mereka terus mengikuti Vindo yang memimpin jalan, sedikit menaiki tanah merah yang keras itu.
Akhirnya, mereka sampailah di atas dataran, di sana mereka sudah di sambut beberapa orang yang tengah berkebun Poppy Arizona, tumbuhan xerofit dan kaktus.
“Wah, cantik!” Ardhen dan Arhen langsung berseru dengan mata berbinar.
“Ayo, foto-foto!”
Mereka mengambil beberapa gambar sendiri dan bersama yang di foto kan oleh Xander Pim dan warga setempat yang berkebun, kemudian warga juga menawarkan untuk mencicipi buah kaktus yang berwarna merah berair itu.
“Manis-manis masam, hambar.” gumam Arsen tak tau rasa.
Ardhen terkikik saat mendengar jawaban Abangnya.
Tak terasa panas terik semakin menusuk kulit. Mereka segera kembali untuk berteduh karena tempat ini gersang dari tempat yang lain.
Setelah beristirahat, Vindo mengajak mereka semua berhenti disebuah rumah pondok yang terbuat dari kayu. Mereka dihidangkan makanan laut beraneka ragam.
“Uwaaaa!” Arhen terpekik saat melihat gurita menggeliat yang di sajikan oleh orang itu.
“Maaf, para Tuan Muda tidak suka makanan mentah. Mohon Bibi memasaknya dan jangan memberikan alkohol di dalamnya ya.” jelas Vindo.
Bibi mengangguk. Alkohol yang dimaksud oleh Vindo bukan seperti Vodka, namun alkohol yang digunakan untuk memasak daging-dagingan, makanan laut dan lautnya, apalagi makanan mentah seperti gurita hidup, biasanya akan disiram dengan alkohol, cuka, garam dan kecap.
“Tak perlu repot-repot, biar aku saja yang memasaknya.” ujar Ardhen langsung berdiri.
Ia langsung memasak banyak makanan dengan lincah.
Setelah semuanya terhidang, Arhen dan Arsen hanya mengambil makanan yang dihidangkan oleh Ardhen, khawatir jika makanan yang dimasak sang Bibi yang pertamakali dihidangkan tadi tidak halal, sehingga yang memakannya hanya Vindo dan Xander Pim.
__ADS_1
Setelah makan kenyang, mereka kembali berkeliling dan bersenang-senang hingga malam pun muncul.
~~
Tak terasa, waktu sudah mereka habiskan 5 hari di sana bukan hanya 3 hari seperti yang diperkirakan. Hari ini, sikembar akan kembali ke mansion, karena besok adalah hari Senin, mereka harus kembali lagi ke sekolah.
Hari ini, mereka tak kembali dengan menggunakan bot atau kapal kecil, tetapi dengan helikopter milik papa mereka, Andrean.
Tau kenapa alasannya? Kerena putra sulungnya Arsen mabuk laut, saat naik bot kemarin anak laki-laki itu muntah-muntah.
Helikopter mendarat sempurna di sebuah lapangan khusus milik Van Hallen. Sebuah mobil keren telah berdiri menanti sejak tadi, menunggu sikembar.
Sopir mobil itu membukakan pintu, lalu sikembar naik, sedangkan Xander Pim duduk di depan bersama sang sopir.
Tak lama mobil telah memasuki gerbang mansion, Kepala Pelayan dan maid lagi nanya telah menyambut majikan kecil mereka.
“Mom, i miss you!” Arhen dan Ardhen langsung berlari memeluk Sakinah. Kemudian di susul oleh Sakinah yang merentangkan tangannya saat Arsen mendekat.
Mereka saling peluk kemudian mencium tangan Sakinah.
“Kami punya oleh-oleh buat Mom!” Arhen memberikan bunga Poppy Arizona pada Sakinah. Dan buah ini, buah kaktus. Mom belum pernah mencicipinya 'kan?”
“Makasih.” ucap Sakinah, kemudian mencium pipi putranya masing-masing secara bergantian.
“Mom, lihat deh, ini foto kami, tempatnya bagus!” puji Ardhen memamerkan gambar-gambar di hpnya pada Sakinah.
“Wah, iya, bagus!”
Sikembar bercerita dengan antusias tentang pulau itu pada Sakinah, tentang berapa puasnya Ardhen memasak makanan laut segar dan enak di sana, Arhen menceritakan view untuk berfoto sangat bagus, lalu Arsen? Anak laki-laki itu hanya mengangguk dan menyetujui apa yang diceritakan oleh kedua adiknya.
Cukup lama mereka berbincang, hingga sang adik berkata.
“Ah, adik jadi gak sabar menunggu liburan panjang akhir sekolah! Kita bisa pulkam ke Indonesia!”
“Iya! Kita harus menyelesaikan ujian akhir sekolah dan mendapatkan nilai yang bagus, kalo begitu, ayo kita kerjakan latihan! Let's go to bathroom!” seru Arhen.
__ADS_1
“Go!” Ardhen dan Arhen berlari ke kamar, sambil berteriak. “Mom, kita belajar dulu ya!”