Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Membuat Keripik


__ADS_3

Benar saja, gadis itu telah memposting fotonya bersama Arhen di Vend Boutique, ia meng-tag akun sosmed Arhen dengan tulisan, ‘Aku sungguh bahagia sekali, aku gadis yang sangat beruntung, terimakasih suami haluku💓’ Tulisan itu di akhiri dengan emo love dan kata ‘Aku mencintaimu!’


Postingan itu telah dibagikan berkali-kali, bahkan Vend Boutique menjadi populer gara-gara itu, semua orang yang mengidolakan Arhen, berlomba-lomba ingin makan di sana.


Arhen duduk bersandar di sofa empuk di dalam ruangan direktur utama perusahaan Ar3s. Ia menatap jamnya beberapa kali dipergelangan tangannya. Minuman dan cemilan yang telah dihidangkan oleh sekretaris Arsen telah tandas.


“Ah, Abang lama sekali sih rapatnya!” Arhen mulai bosan menunggu. Ia berdiri dan berjalan menatap ke bawah dari dinding kaca.


Setelah cukup puas memandangi pemandangan, ia masih saja bosan, akhirnya ia memilih membuka jacket hoodie nya, lalu memilih berbaring di sofa empuk itu.


••


Tak! Tak! Terdengar suara sepatu heels mengetuk lantai, itu adalah suara langkah kaki sekretaris Arsen yang berjalan mengiringinya bersama Hans. Langkah kaki Sekretaris itu tak mengusik Arhen yang telah tertidur nyenyak.


“Pergilah!” perintah Arsen mengibaskan tangan. Hans dan Sekretaris itu pun memilih pergi dari ruangan yang baru saja mereka masuki.


“Tunggu! Bawa file yang tadi, kerjakan sekalian!” sambung Arsen lagi.


“Baik, Pak!” jawab Sekretaris itu, kemudian mengambil file yang mereka rapatkan tadi, lalu beranjak pergi ke luar ruangan bersama asisten pribadi Arsen, Hans.


Entah berapa lama Arhen tertidur, tetapi Arsen tak berniat membangunkannya sedikitpun, pemuda tampan bermata sipit itu malah sibuk melihat kurva sahamnya, lalu perkembangan game Arbluefire dan memantau beberapa hal, pastinya pergerakan Rayyan tak akan ketinggalan ia pantau bersama sang bidadari hatinya, Roselia.


Arhen terbangun sendiri, ia mengucek matanya, melihat jam di pergelangan tangan, kemudian cemberut, menatap Arsen tajam karena kesal.


“Kenapa rapatnya lama sekali? Abang juga tidak membangunkan aku!” seru Arhen kesal dengan suara seraknya.


“Namanya juga rapat, banyak hal yang akan didiskusikan dan disepakati, kecuali kentut, baru sebentar, tinggal ngeluarin aja!” jawab Arsen masih menatap hpnya.


“Gak lucu tau!” ketus Arhen.


“Yang ngelucu siapa? Aku gak bekerja jadi pelawak! Tapi pengusaha tampan yang kaya raya!” sahut Arsen tak kalah narsis.


Cih! Arhen berdecih, ia berdiri dan meminum air mineral yang terletak di meja kerja Arsen sampai habis.


“Bantu aku! Wanita itu seperti lintah, menghisap dan selalu menempeliku! Gila, kemarin dia mengatakan cinta padaku!” adu Arhen.


“Wanita yang mana?” tanya Arsen, masih saja menatap layar hp nya.

__ADS_1


“Siapa lagi, wanita yang Abang suruh aku dekati itu, si Fey!” jawab Arhen.


“Ohh.”


“Cuma oh? Abang gak asik banget sih! Bantuin, aku pusing ngadepin dia yang pedenya selangit! Dia mengira aku benar-benar pacarnya!”


“Makanya, mulut itu dijaga!” Arsen meletakkan hpnya di atas meja, kemudian meraih laptopnya, menghidupkan alat elektronik itu.


“Mul-” ucapan Arhen terhenti dipotong oleh Arsen.


“Kau mau apa? Bantu seperti apa?” tanya Arsen melirik Arhen sedikit, sambil menunggu laptopnya louding.


“Abang buat gosip, atau pakai akun bodong, menjelaskan hubungan kami sudah berakhir dan agar wanita itu tidak menggangguku lagi. Dia seperti bunglon saja, waktu itu suka Abang, masa sekarang dengan mudahnya dia suka aku! Berubah-ubah! Jadi wanita gak berpendirian banget sih!”


Arsen hanya mendengar Arhen menggumam, lalu perlahan matanya mulai menelisik beberapa Vidio dan foto, kemudian berpikir.


“Satu-satunya cara agar lepas darinya, kau berpacaran kembali dengan wanita yang lebih darinya!” Arsen mengusulkan ide tiba-tiba.


“Kalau itu, namanya aku lompat dari mulut Induk buaya masuk ke kolam buaya betina, sama aja!” cerocos Arhen menolak ide Arsen.


Arsen tersenyum simpul, masalah cinta dan pacaran, kegeniusan nya kurang berfungsi. Bukankah masalah seperti ini biasa Arhen jagonya, berakting mengambil hati orang. Dia? Dari dulu mana bisa!


“Ok!”


••


Abraham tampak masih cemas, ia terus berpikir dan menggigit pulpen.


“Astaga, Bocah ini!” seru Cleo, “apa kau baru saja ditolak cinta oleh Rufia, apa salah pena ini? kau hampir memakannya setengah!” Cleo berkata dengan gerakan kepala dan tangan menunjuk pena.


Abraham meletakkan pena yang ia gigit itu, bahkan tutup pena sudah penyot ia kunyah.


“Apa--” Abraham menghentikan ucapannya, kemudian malah menghela nafas panjang.


“Hei, kau kenapa? Apa benar kau ditolak cinta oleh Rufia?” tanya Cleo mulai khawatir.


“Tidak! Aku bahkan belum mengutarakan perasaanku padanya!”

__ADS_1


“Lalu, kau kenapa?” Cleo menepuk pundak Abraham.


“Kemarin....” Abraham memulai ceritanya.


Kemarin, Arhen berjalan ke meja resepsionis, mengajak Rufia mengobrol dan tentu saja menggodanya. Mata Arhen tak lepas memandangi sosok Rufia berambut coklat panjang bergelombang.


“Kak!” Abraham menyapa Arhen yang sejak tadi memandangi wanita incarannya.


Abraham dan Ardhen juga baru datang ke Vend Boutique selepas mereka dari kantor, tetapi Ardhen langsung ke dapur memeriksa karyawannya dan koki, yang terutama berbincang dengan Chef utama Tuan Samber.


“Hm, kau baru datang ya, Ham!” balas Arhen sekenanya, lalu melanjutkan menggoda Rufia.


Rufia masih saja cuek dan sibuk dengan pekerjaannya. Hingga akhirnya Ardhen datang.


“Kakak datang sejak tadi?”


“Hm, lumayanlah!”


“Kalau begitu, ayo, kita ke rumah belakang!” ajak Ardhen pada Arhen dan Abraham.


Mereka bertiga tiba di kitchen bar mini di rumah belakang. “Aku dan Abraham akan membuat kripik ubi jalar, Kakak bagian yang mencicipi, ya!”


“Ok!” Arhen memberikan jempol tanda setuju.


Tangan lihai Ardhen dan Abraham sangatlah lincah memotong ubi jalar dengan alat potong, mereka mencucinya, ada yang melumurinya dengan garam dan penyedap rasa, ada yang direndam dan ada yang direbus.


Sebagian potongan ubi itu dibaluri kerupuk, lalu digoreng, ada yang digoreng polos, ada yang setelah di goreng, digoreng kembali dengan gula merah, ada yang ditaburi beberapa penyedap rasa seperti rasa kari, barbeque, balado, dan lainnya.


Tangan mereka berdua sangat lincah, rebusan ubi jalar yang sudah matang, mereka beri sedikit tepung jagung, memberikan ebi (udang yang sangat kecil) lalu membentuk dan mengukusnya. Setelah masak, mereka berdua memotongnya tipis.


Abraham duduk di samping Arhen yang menikmati kerupuk buatan Ardhen dan Abraham saat Ardhen pergi menjemur kerupuk ke lantai atas.


“Kak, apa ... kau menyukai Rufia?” tanya Abraham hati-hati.


Arhen meliriknya sekilas, lalu mengambil keripik ubi goreng yang tadi dibaluri tepung, ia menggigit nya. Tak! Terdengar nyaring dan crispy saat Arhen menggigit kripik itu.


“Iya, aku menyukainya!” jawab Arhen santai sibuk mengunyah kripiknya.

__ADS_1


Abraham terdiam lama, ia menjadi lesu dan tak bersemangat lagi, bahkan sampai Ardhen turun dan mengajaknya bicara, ia masih saja diam.


__ADS_2