Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Gegabah


__ADS_3

Andrean, Dedrick bersama Asisten pribadi dan rombongan pengawal telah sampai di sebuah tanah kosong, beberapa bangunan yang terbengkalai, bangunan rusak yang dulunya tempat pengolahan minuman.


Ada beberapa drum yang terbuat dari kayu sudah lapuk tersusun, beberapa ekor tikus dan kecoak berlari karena kedatangan manusia yang mengendap-endap di sana.


Sebuah tabung raksasa yang berukuran diameter 20 meter, sepertinya itu tempat inti sari anggur yang sudah berfermentasi dulunya. Atau tempat menyuling sari buah. Entahlah, Andrean dan Dedrick hanya diam-diam menelusuri dan melihat sekeliling.


Beberapa gerakan kecil yang dimengerti oleh mereka. Dua pemimpin pengawal yang bertugas memimpin dan melindungi dua pengusaha kaya raya itu. Sebenarnya, mereka melarang Andrean dan Dedrick untuk ikut, suatu bahaya seperti ini tidak sepantasnya orang kaya seperti mereka datang, cukup mengarahkan bawahan saja.


Sayangnya, dua beradik kakak itu tidak mengindahkan, bagi mereka keselamatan Sakinah dan anak-anak adalah hal yang paling utama dari nyawa mereka sendiri.


Deg! Deg!


Pandangan mata Andrean tertuju pada tiga anak yang diikat ditengah-tengah tanah kosong yang berdebu. Di tiang pondasi pile. Matanya terus menerawang, tak menemukan Sakinah, namun petunjuk dari koordinasi yang di berikan Arsen dan Alex, jelas berada di sekitar sini.


Hingga, kode tangan dari Dedrick membuat wajah Andrean seketika murka dan dia menjadi tidak terkendali. Istri yang sangat dia cintai tergantung di atas dengan ketinggian.


“Andrean!” Dedrick melarang Andrean agar jangan gegabah, tetapi Andrean telah lepas kendali melihat anak-anak dan istrinya dalam keadaan berbahaya.


Dia dengan sembrono menembak beberapa orang yang berjaga di sana.


Dor! Dor! Dor!


Tembakan yang membuat Dedrick dan lainnya menghela nafas. Mereka masih bersembunyi sambil memperhatikan kenekatan Andrean. Melindungi pria dewasa itu dari belakang.

__ADS_1


Dor! Dor! Dor! Karena tembakan Andrean, membuat beberapa pengawal di sana, melakukan perlawanan dengan menembak Andrean, yang lainnya juga membantu Andrean dari belakang sekitar 5 orang, sedangkan Dedrick dan lainnya masih bersembunyi di sebalik tumpukan drum kayu-kayu itu.


“Ahahhha! Rupanya kau datang lebih cepat ya? Apa kau ingin melihat dia mati? Atau mereka bertiga? Coba saja kau menembak kembali!” Andrean mendengar ultimatum dari toa padanya.


Lalu, tiang besi yang mengikat tubuh Sakinah di atas, bergoyang, dan menghentak turun sedikit. Tampak kaki Sakinah dan tubuhnya sedikit tergoyang walaupun tubuh itu diikat erat. Andrean yakin, Sakinah pasti takut dan cemas.


Andrean membuat tubuhnya dengan posisi kuda-kuda, dengan menyiagakan dua pistol yang dia pegang, menatap tajam ke semua arah, begitupun dengan kelima pengawal di sampingnya, mereka saling melindungi membentuk lingkaran kelompok, saling memunggungi sama lain.


“Hahhaha! Bagaimana? Kau suka? Atau mau yang ini?” Terdengar kembali suara itu dari toa, entah dimana di letakkan toa atau speakernya, Andrean berkeliling menatap dimana asal suara, dia ingin menembak mati orang tersebut.


“Aaaaa!” Terdengar suara tiga anak kecil yang terikat di tiang pondasi pile itu serempak. Mereka bertiga diberikan kejutan listrik ringan melalui kabel yang di pegang oleh seseorang.


Andrean berniat menembak pria berjas yang memegang kabel listrik itu, tetapi sebuah suara toa kembali terdengar.


“Bajingan! Kau yang harus keluar, Pengecut!” teriak Andrean. “Keluarkah Manusia Sampah! Mari kita selesaikan masalah ini, jangan menyakiti istri dan anak-anak yang tidak tahu apa-apa. Apa masalahmu denganku!”


Hening. Tak ada sahutan. Andrean berniat mendekat pada tiga anak yang terikat itu, tetapi terbentang beberapa garis, garis dari cahaya infrared yang baru saja muncul.


“Jika kau salah langkah, kau dan bawahanmu mati, jika kau tidak segera menolong mereka, mereka bisa mati!” Suara dari toa kembali terdengar. Sebuah mesin giling bergerak perlahan tanpa sopir kemudi, mesin penggiling yang dihidupkan secara otomatis.


“Manusia terkutuk, Pengecut!” umpat Dedrick. Dia pun segera keluar bersama bawahannya


“Ahahahha, selamat bersenang-senang lah kalian!”

__ADS_1


Andrean dan Dedrick berdebar-debar. Ini bukan debaran cinta, tapi debaran ketakutan dan khawatir yang luar biasa. Ada mesin penggiling yang berjalan otomatis, jika mereka tidak bergerak cepat, ketiga anak kecil itu akan di lindas, sedangkan pergerakan mereka di batasi dengan garis-garis melintang, vertikal, horizontal dari cahaya infrared.


Yang lebih mencemaskan lagi, Rantai besar yang mengikat tiang Sakinah, dilepaskan, tiang itu perlahan bergerak lepas, jika tiang itu terus bergerak, ada dua bahaya, Sakinah berakhir di pembakaran limbah, atau jatuh dari tempat tinggi karena tali penyangga yang berkarat itu tampak genting.


“Andrean! Aku akan menyelamatkan anak-anak, kau selamatkan Sakinah!” teriak Dedrick.


“Baik.”


“Hati-hati dengan langkahmu!”


“Kakak juga!”


Bayangkan, mereka tak bisa bergerak bebas membantu karena ada cahaya infrared, tetapi dengan kejamnya, bawahan Johan juga menembaki mereka. Membuat mereka semua terdesak, ada yang jatuh dan langsung hangus terbakar dibagian yang menyentuh dan terkena infrared.


“Aaaah!” Beberapa orang terdengar meringis kesakitan, karena menghindari peluru, tetapi malah terkena cahaya itu.


Benar-benar kejam!


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Heheh, bab kejamnya tinggal beberapa lagi kok, hingga kita sampai di ending cerita🕊️🌋


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2