Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Melamar Jesylin


__ADS_3

“Temukan segera!” perintah Jonathan setelah ia berada di dalam kamar.


“Hei, laptop yang ditemukan di kamar kemarin, semuanya laptop bagus dan mahal, kenapa mereka bisa seceroboh itu, ya? Apa mereka akan datang kembali menjemputnya?”


“Ah, saya rasa tidak, mereka tentu saja orang kaya raya, lihat penampilan mereka dan setiap minta tolong hal kecil pun mereka akan memberikan tips besar.”


Terdengar obrolan dua pelayan yang sedang berbincang sambil mendorong keranjang tempat pakaian kotor di lorong kamar itu.


“Hei!” sapa salah satu pengawal Jonathan menyapa mereka.


Dua pelayan itu menoleh, mengangguk, memberikan penghormatan ramah.


“Apa kalian pelayan dari kamar 13?”


“Iya, Tuan.” jawab mereka.


“Kalian menemukan laptop tertinggal di sana? Maksudnya orang yang memiliki laptop itu telah pergi dan dihuni oleh penghuni baru?” tanyanya.


“Iya, Tuan.”


“Oh, kalau begitu, terimakasih.”


~~


“Tuan, kami sudah melakukan yang terbaik, CCTV telah dirusak oleh mereka terlebih dahulu, sistem juga. Bahkan situs dan pengiriman menjadi ganda. Video ini bukan hanya di Inggris, tapi Amerika, Belanda, Jerman dan juga di Rusia.”


“Siaal!” umpat Jonathan.


Yang membuat Jonathan kesal dan ingin menghapus video bukan karena video perselingkuhan Puloh dan istrinya, namun videonya yang melakukan transaksi buruk. Ia ingin menghapus bukti itu, namun tak bisa dihapus, karena pusat pengiriman tidak ditemukan. Awalnya pusatnya berada di Inggris, makanya ia datang kemari, tetapi... kemudian setelahnya menjadi ganda.


Ya, tentu saja itu pekerjaan Alex.


Jonathan benar-benar marah, jika orang itu ingin uang, kenapa tidak meminta saja padanya, kenapa harus mengirimkan di sosmed, membuat nama baiknya hancur. Memangnya apa untungnya bagi orang itu menghancurkan hidupnya?


Jonathan sangat percaya diri, walaupun video itu ada, dia pasti akan segera keluar dari penjara jika ada yang melapor, bahkan di penjara dia akan diperlakukan dengan sangat baik, begitulah pikirnya.


***


Arsen dan Andrean duduk menatap laptop sambil memakan es krim banana buatan Ardhen, mereka sama-sama tersenyum devil setelah melihat kurva jual beli pasar.


“Mari kita bersuit, siapa yang kalah tidak boleh membeli saham perusahaan Puloh!” ajak Andrean.


“Baiklah!” Arsen menyendok es krim ke dalam mulutnya dengan sangat besar, kemudian terdiam lama sambil menahan tangannya, menebak jari mana yang akan dikeluarkan Papanya saat suit.


“Yo! Sama!” Mereka sama-sama mengeluarkan jempol.


“Lagi?!” Mereka sama-sama mengeluarkan kelingking.


Lama mereka terdiam sambil menggantung tangan, perlahan arah mata Arsen mulai liar, ia melihat Arhen memberikan kode.


“Ahahahha! Aku menang!” ucap Arsen. Ia mengeluarkan kelingking, sedangkan Andrean mengeluarkan jempol.


Tadinya Andrean mengira Arsen pasti akan mengeluarkan jari telunjuk, sama sepertinya, makanya dia mengganti dengan jempol. Ya, itu memang benar, Arsen sempat berpikir menggunakan telunjuk, tetapi dia sama-sama berubah pikiran hendak menggunakan jempol tadinya.


Kemudian ia melihat kode dari Arhen, barulah ia mengeluarkan jari kelingking, lalu anak kecil itu menang.

__ADS_1


“Hm, baiklah, Papa kalah. Papa akan mendukung dan menekan Puloh, agar perusahaan kecil itu jatuh ke tangan putra papa.” ucap Andrean.


“Bagus!” Arsen kemudian berdiri dan melakukan tos dengan Arhen. Andrean menangkap sekelebat benda di samping Arhen, sebuah cermin. Lalu ia terkekeh kecil, ia sekarang tersadar jika dia tak akan menang jika putra-putranya kompak menyerangnya.


“Pa, bulan depan kami liburan sekolah.” ucap Arhen. “kami dan Mom mau pulang ke Indonesia.” lanjut Arhen.


“Baiklah, Papa akan mengatakan pada David, agar mengatur perjalanan kalian.”


“Sssip!” Arhen menyodorkan jempolnya dengan kedipan mata.


“Lalu, bagaimana dengan Vindo itu?” tanya Arhen tiba-tiba.


“Dia bersama Paman Berend, di pulau lautan kebebasan.” jawab Arsen.


“Hah? Pulau apa itu? Aku baru denger.” jawab Arhen.


“Pulau pribadi miliknya.” sahut Arsen.


“Ooh, ya sudah, kalau begitu aku harus menemui Ardhen dulu ke dapur, apakah dia sudah menyelesaikan taebokki pesananku.”


“Taebokki? Apa itu?” tanya Andrean, namun tak ada sahutan karena Ardhen langsung berlari ke dapur.


“Hei, apa taebokki?” Andrean mencolek Arsen.


“Makanan.” jawab Arsen masih fokus menatap laptopnya.


“Makanan Indonesia?”


“Bukan!”


“Ooooh.”


~~


Berend tengah bersimpuh dan melamar Jesylin. Wanita itu menangis terharu dan memeluk Berend.


Berend telah mendapatkan informasi, siapa Jesylin sebenarnya, kemudian ia bertanya langsung pada Jesylin.


Beberapa waktu lalu,


“Jesy, bisakah aku bertanya hal pribadi?” Berend menatapnya dalam.


“Iya, boleh, tanyakan saja.”


Berend menyentuh perut Jesylin, memasukkan tangannya ke dalam, mulai menyingkap bajunya perlahan.


“Honey, apa yang kau lakukan? Apa kau menginginkannya? Kita jangan melakukan di sini, bagaimana nanti jika ada yang lain melihatnya.” ujar Jesylin.


Berend tersenyum, mencium pipinya lembut. Terus menyingkapkan baju itu, hingga menunjukan ada tanda hitam antara dada bawah dan perutnya.


“Apakah tanda ini kamu miliki sejak kecil?” tanyanya menyentuh tanda berwarna coklat muda itu, tidaklah besar, hanya sebesar biji kuaci.


“Iya,” jawab Jesylin dengan perasaan bercampur, ia sudah merasa geli saat tubuhnya diraba oleh Berend.


“Apakah dulu tanganmu penuh luka? Bagaimana lukanya bisa hilang?”

__ADS_1


Jesylin lama terdiam, lalu menjawab perlahan. “Waktu kecil memang banyak luka, namun setelah besar, bekasnya hilang sendiri.


Setelah mendengar penjelasan itu, Berend membuka bajunya, memperlihatkan luka dipunggungnnya.


“Apa kau ingat sesuatu saat melihat lukaku ini?”


Jesylin terdiam lama, ya dia ingat tentang seseorang jika mengenai lukai itu, namun ia enggan mengatakannya. Ia tak ingin nanti Berend salah sangka padanya.


“Dulu, aku sering mencuri, setiap aku mencuri ada gadis kecil yang hanya menatapku saja. Ia tak berteriak, membela ataupun takut. Ia gadis yang cukup berada. Suatu saat, hasil curianku, aku letakkan di tasnya, karena tak ingin ketahuan. Gadis kecil itu tau, dia hanya diam saja, bahkan saat ia dituduh mencuri, ia mendapatkan hukuman pukulan yang banyak ditangannya.”


“Karena merasa bersalah, aku meminta maaf dan membelikannya es krim. Dia tak menerimanya, katanya ia tak ingin memakan sesuatu yang dicuri. Ia hanya ingin makan dengan uang kerja yang baik.”


“Hm, walaupun begitu dia masih mau berbicara denganku. Suatu hari, saat itu hari hujan badai, ia tengah berjalan sendirian sambil menangis, aku tak tahu kenapa dia menangis, aku melemparnya dengan sampah, dia mengabaikanku, terus saja menangis. Aku ingin menghiburnya dan juga mengkhawatirkan dirinya yang berjalan seorang diri dengan basah kuyup begitu.”


“Akhirnya, aku mendekatinya, dia langsung memelukku, aku terkejut, dia kemudian mengatakan kalau kedua orangtuanya meninggal dunia, ia akan segera pergi bersama nenek dan adik angkatnya yang baru saja diangkat oleh kedua orangtuanya. Seorang batita. Aku berteduh di bawah atap rumah orang bersamanya, karena kami sama-sama kecil belum punya rasa malu, aku memeras air di pakaianku yang basah, dia pun juga melakukan hal yang sama, tanpa sengaja aku melihat ada tanda kecil di dadanya, mirip dengan tanda di dadamu ini.”


“Waktu ia hendak pergi, aku berjanji akan menemuinya, tetapi ditengah jalan, aku dicegat dan diancam kelompok preman, aku melawan karena aku ingin bertemu dengannya, mereka marah, lalu punggungku dipukul, aku babak belur hingga pingsan. Lalu, aku melihat sekilas gadis kecil itu mendatangiku. Dan saat aku terbangun, aku hanya mendapati sepucuk surat tergeletak di sampingku, tubuhku telah berada di ranjang rumah sakit.”


Jesylin menelan salivanya, ia merasa tercekat.


“Apakah kau tidak menyukai anak laki-laki itu lagi? Apakah kau tidak ingin hidup bersamanya, Liana?”


“Li... liana?” Bibir Jesylin bergetar. “Ap-apakah kamu Kakak pencuri itu?” Berend mengangguk.


“Kakak!” Jesylin langsung memeluk Berend. “Kau selalu menjadi pencuri, bahkan saat kita bertemu kembali, kau tetap saja pencuri, kau pencuri hatiku!” tangisnya.


“Kakak Pencuri, aku senang mengenalmu, kau memiliki senyuman yang sangat manis, membuatku senang dan juga tersenyum melihatmu. Kakak Pencuri, kau memang seorang pencuri, mencuri hati dan perhatianku hanya untukmu, namun kita harus berpisah.”


“Kakak pencuri, aku tak bisa menemani saat kau sakit seperti ini, jika nanti aku besar, aku akan hidup bersamamu, aku akan menemani dan merawatmu, aku suka denganmu, Liana.” Berend membaca isi surat itu yang telah hafal diluar kepalanya tanpa ia lihat surat itu.


“Kakak...” Jesylin semakin memeluk Berend erat.


“Maukah kau menikah denganku Liana gadis kecil kesayanganku?” Berend memasukkan tangannya ke dalam celananya, mengambil kotak cincin, lalu membukanya.


“Aku bukan pria romantis, aku hanya seorang pencuri hati, maukah kau menikah dengan pencuri ini?” Jesylin langsung mengangguk dan mengulurkan tangannya. Berend langsung memasangkan cincin di jari manis Jesylin.


“Ah, gak romantis sama sekali, Paman! Masa gak pakai baju begitu melamarnya? Tante juga bisa-bisanya mau!” ujar Vindo yang baru saja lewat membawa buah mangga.


Jesylin hanya tersenyum kecil, “Anak kecil itu mulutnya menyebalkan juga, kalau mau lewat kenapa harus kemari!” gerutu Berend kesal.


“Honey.”


Berend menoleh pada Jesylin. Cup! Jesylin langsung mencium bibirnya dan mereka pun berciuman mesra.


“Aku sangat bahagia...”


“Tidak Sayang, aku akan mengulang kembali lamarannya.” Berend langsung berlari entah kemana.


Hingga beberapa jam kemudian, disinilah mereka semua berkumpul. Di tepi pantai, rangkaian bunga dan hiasan lainnya telah dirias oleh beberapa orang. Jesylin berdiri bersama Berend ditengah lingkaran mawar yang membentuk love disaksikan banyak orang.


Berend bersimpuh, mengeluarkan cincin permata yang sangat indah.


“Liana, gadis kecil kesayanganku, cinta pertamaku, selama ini aku selalu mencintaimu, maukah engkau hidup bersamaku selamanya, bersediakah engkau menikah denganku?” ucap Berend.


“Aku sangat bersedia.” jawab Jesylin.

__ADS_1


Cincin permata indah itu langsung dilingkarkan dijari malangnya, sedangkan cincin dijari manisnya adalah cincin pertama yang masih ia pakai, cincin pemberian Berend melamar pertamakali tadi. Jesylin menangis haru, memeluk Berend, semua saksi bertepuk tangan.


“Nah, ini baru romantis, Paman!” ucap Vindo.


__ADS_2