
Setelah melayat dan menjenguk, Frans bersama ibunya kembali ke Amerika lagi, sedangkan Roqa harus membantu perusahaan keluarga Van Hallen karena Dedrick sudah tiada dan Andrean tengah terbaring di ranjang rumah sakit.
Kedatangan Frans dan ibunya di sambut senyum bahagia Ardhen. Pemuda tampan itu masih belum boleh terpapar matahari karena menjalani operasi ringan di bagian hidung dan dagu. Haizum tampak seperti seorang istri sungguhan yang merawat suami rewel dan manja.
“Sayang, saudara dan Tanteku sudah kembali dari Belanda!” teriak Ardhen, jelas-jelas Haizum hanya tiga langkah dari dia berada.
“Iya!” Haizum menyahut pasrah.
“Frans! Tante! Bagaimana perjalanan dan kunjungan kalian di Belanda? Apa keluarga jauh kalian baik-baik saja?” tanya Ardhen.
“Mari kita duduk dulu. Kau masih belum terlalu sehat. Nanti hidungmu bisa berdarah lagi!” tatap Frans.
“Iya, kamu bawel sekali sih!” Ardhen pun memilih duduk di sofa ruang tamu, duduk di antara Ibu Frans dan Haizum.
“Ibu saudaraku meninggal dunia, dia sedang terbaring di ranjang rumah sakit bersama Pamanku, sedangkan dua adik kembarnya juga tak terlalu baik kabarnya,” terang Frans, melirik reaksi Ardhen.
Wajah pemuda itu tampak serius mendengarkan, lalu bergumam. “Kasihan sekali ya, saudaramu itu.”
__ADS_1
“Iya, dia saudaramu juga,” balas Frans yang mendapatkan delikan tajam dari ibunya.
“Saudaraku juga? Mana yang lebih dekat hubungannya denganku atau denganmu?” tanya Ardhen.
“Sama dekatnya,” jawab Frans.
“Oh!” Respon Ardhen tampak biasa aja. “Semoga saudara jauh kita itu segera sembuh!” Ardhen berdiri dan langsung menarik tangan Ibu Frans. “Tante, aku rindu sekali dengan spaghetti pedas buatanmu, ayo, masak spaghetti lagi denganku, aku bantu, nanti aku pijit Tante deh, kalo capek!”
Mau tidak mau, akhirnya Ibu Frans berdiri dan tersenyum. “Baiklah.”
Saat memasak, tiba-tiba beberapa potong ingatan masuk dalam ingatan Ardhen, saat dia memasak, pujian dari seorang wanita cantik yang suka berbahasa Inggris padanya, sedangkan satu lagi berpenampilan sederhana, berbicara lembut sambil mengelus kepalanya.
“Kamu kenapa?” tanya Ibu Frans saat melihat Ardhen memegang kepalanya.
“Tidak apa-apa Tante, kepalaku terasa pusing!” jawabnya dengan raut wajah meringis.
Haizum segera memapahnya. “Kepalanya sakit sekali?” tanyanya cemas.
__ADS_1
“Iya, ayo, antarkan aku ke kamar. Tante, aku balik kamar dulu ya, maaf, aku cuma bisa bantu Tante setengah saja!”
“Tidak apa-apa, ini sudah cukup. Cepatlah istirahat!”
***
Di dalam kamar. Ardhen memeluk Haizum erat.
“Ahm, itu-- aku--- anu-- bisa kamu jangan memelukku seperti ini?” pinta Haizum merasa risih karena dipeluk sambil tiduran.
“Kenapa Sayang, sekarang 'kan sedang di dalam kamar, buat apa malu? Aku sudah menahan diri agar tidak memeluk dan bermanja-manja berlebihan padamu jika ada orang di rumah. Sekarang 'kan ada di kamar! Hanya kita berdua, dan kepalaku sedang sakit sekali, jadi mengertilah!” protes Ardhen.
Haizum menghela nafas. Memilih diam dan tak ingin berdebat, takutnya nanti dia salah cakap.
“Sayang, aku sudah sembuh total loh. Badanku udah fit, apa kamu gak rindu sama aku?” bisik Ardhen di belakang telinga Haizum.
Bulu kuduk Haizum meremang mendengarnya, apalagi ditemani dengan hembusan nafas di tengkuknya. “A-apa maksudnya?”
__ADS_1
“Kamu malu, ya? Tentu saja sesuatu yang indah, kamu tidak merasakannya?” Ardhen menarik pinggul Haizum yang membelakangi nya lebih rapat lagi ke kakinya, sehingga sesuatu terasa menusuk di bokongnya. Muka Haizum menjadi merah padam.
‘Apa selama ini Tuan Muda Ardhen semesum ini? Pria cuek yang terkenal tak ada perasaan itu?’ pikir Haizum.