
Ardhen menggendong Jamila ke dalam kamarnya. Sesampainya di kamar, Ardhen menurunkan adik perempuannya itu, mendudukkan di atas ranjang.
“Sudah, Nces jangan bersedih lagi. Coba cerita sama Uda, ada apa? Kenapa Mom bisa ngambek begitu?” Ardhen menatap Jamila lembut dengan senyuman tulus.
Jamila masih diam tak menjawab.
“Apa Nces mau Mom kayak gitu terus? Apa Nces gak mau Uda bantuin? Nanti Uda sama Abang bakalan bujuk Mom, tetapi Nces harus cerita dulu masalahnya sama Uda, biar Uda tahu.” Ardhen membujuk Jamila.
“Apa Abang mau membantu? Apa Abang tidak akan marah sama aku?” Jamila mulai merespon, menatap Ardhen dengan polosnya.
“Tentu saja, Nces 'kan tahu, di dunia ini, hanya Mom dan Nces ratu Abang dan Uda,” tutur Ardhen lagi sambil membelai kepala Jamila lembut.
“Beneran?”
“Bener, dong!”
“Hm, sebenarnya, anak-anak di sekolah itu sering ejek pakaian ku, kenapa sih Mom dan aku memakai baju kayak gini? Orang lain gak pakai kayak gini? Cuma aku seorang yang kayak gini? Apa keluarga Van Hallen sebegitu bahayanya? Sampai gak boleh lihatin tubuh dan wajah kita terhadap orang lain?” Jamila mulai menaikkan nada suaranya lebih kuat dari sebelumnya.
“Kenapa juga teman-teman di kelas mengejek agamaku, mengejek pakaianku, jadi aku kesal, aku pukul mereka, dan merusak taman bermain mereka!” Jamila menjelaskan alasannya.
__ADS_1
“Jadi, Nces menyelesaikan masalah dengan memukul dan balas dendam, ya? Pantes aja Mom sedih gitu, Mom 'kan selalu mengajarkan kita, jangan balas dendam, redakan amarah, dan bersabar.” Ardhen bergumam kecil, membuat Jamila merunduk sedih.
“Apa Mom sangat marah Uda?”
“Em, marah sih, nanti Uda sama Abang akan ngomong sama Mom, tetapi Nces harus janji gak boleh kayak gitu lagi,” pinta Ardhen. “Nces mau janji 'kan?” tanyanya lagi.
“Hu'um.” Jamila mengangguk.
“Hm, satu lagi, masalah pakaian. Pakaian ini bukan karena Nces dan Mom dari keluarga Van Hallen, tetapi karena agama kita menganjurkan seorang perempuan menutupi auratnya. Seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan. Nces bisa lihat 'kan, Mama Calista tidak memakai pakaian yang sama dengan Mom dan Nces, padahal dia juga bagian keluarga Van Hallen, itu semua karena kita dan dia berbeda agama. Dalam agamanya tidak menganjurkan menutupi seluruh tubuh.”
“Loh, itu katanya wajah dan telapak tangan boleh! Kenapa aku harus menutupi wajah juga sama seperti Mom?”
“Hm, karena--” Ardhen menggaruk kepalanya sejenak, berpikir bagaimana cara menjelaskan kepada seorang anak kecil. “Karena Abang dan Papa cemburuan, Uda dan Kakak juga cemburu, tetapi Nces 'kan tau gimana Abang sama Papa? Mereka gak mau kecantikan Mom dan Nces dilihat orang lain.”
“Iya, Nces paham, Uda.” Dia senang karena di sukai dan dicemburui kakak sulungnya.
“Pintar, sekarang mari bobok, Uda bacakan sebuah cerita ya!” Ardhen merebahkan tubuhnya di atas ranjang sembari menepuk ranjang di sebelahnya agar Jamila juga ikut berbaring di sampingnya.
Jamila ikut berbaring, menatap Ardhen dan bertanya. “Abang mau ceritakan cerita apa?”
__ADS_1
“Cerita pada zaman dahulu, zaman Rasulullah, tentang seorang yang bernama Uwais Al-Qarni. Dia seorang pemuda yang berbakti pada ibunya.” Ardhen memulai cerita sampai Jamila tertidur.
Tadinya Jamila sempat bertanya beberapa hal, kenapa Uwais harus menggendong sapi naik turun bukit, kenapa Uwais menggendong ibunya, kenapa tidak naik pesawat saja? Ardhen pun menjelaskan pada masa itu tidak ada pesawat dan kendaraan yang cepat seperti mobil.
Ardhen keluar dari kamar Jamila setelah menyelimutinya, melewati ruang di mana Arsen tengah duduk menunggunya. “Princes sudah tidur?” tanya Arsen.
“Sudah, Bang! Apa Jay sudah menjelaskan sama Abang kronologinya?”
“Sudah, katanya berawal dari anak-anak mengejek pakaian adik,” jawab Arsen.
“Princes Mila juga berkata seperti itu tadi padaku, Bang. Apakah adik harus pindah sekolah lagi?” Ardhen kemudian memilih duduk di hadapan Arsen, karena sejak tadi dia masih berdiri saat Arsen mulai bertanya.
“Tak perlu! Aku akan mendatangi ketiga perusahaan kecil itu, aku akan menekan mereka seperti mana anak mereka menekan adik kita!”
“Mom pasti tidak suka cara itu!” protes Ardhen.
“Makanya jangan beritahu Mom, jika tidak begitu, mereka akan terus bersikap kurang ajar!”
“Itu bukan cara yang baik, mereka masih anak-anak.”
__ADS_1
“Orangtuanya 'kan bukan anak-anak. Mereka harus bisa mendidik anak mereka menjadi manusia baik yang bisa menghargai orang, di negara ini sudah ada UUD kebebasan dalam beragama dan larangan untuk mencela agama seseorang. Aku hanya punya cara menekannya atau menjebloskan mereka ke dalam penjara.” Arsen memasang wajah dingin penuh perhitungan.
“Baiklah, jika Abang sudah memikirkannya dengan matang. Kalau begitu aku masuk dulu ke kamar Bang, kepalaku cukup sakit, banyak masalah di kantor,” tutur Ardhen dan berlalu pergi dari sana.