Anak Genius Itu Anakku

Anak Genius Itu Anakku
Melepas Handuk.


__ADS_3

Cuit! Cuit!


Terdengar suara burung berkicau. Arhen dan Ardhen menggeliat. Mentari sudah muncul, artinya mereka sudah melewatkan sholat subuh. Biasanya mereka selalu dibangunkan sang Ibu. Kini, wanita itu tak tahu dimana kamar putra-putranya, bagaimana cara membangunkannya.


“Aduh, Mom pasti akan marah kalau kita tidak sholat. Bagaimana ini?” ucap Ardhen cemas dengan suara seraknya.


“Kita bohong saja!” jawab Arhen dengan suara serak khas bangun tidurnya juga.


“Mom bilang orang berbohong hidungnya akan panjang.”


“Itu 'kan bohong. Itu hanya cerita dongeng Pinokio. Diluaran sana banyak orang berbohong hidungnya tak panjang.”


“Ya sudah, nanti jika Mom tanya kita bohong ya?” tanya Ardhen polos. Arhen menjawab dengan mengangguk.


“Sekarang ayo kita mandi.”


Mereka berdua masuk ke kamar mandi. Lalu mematung seketika. “Bagaimana cara mengisi airnya? Dimana sabunnya?”


Dua anak laki-laki genius itu kebingungan. “Apa kita otak atik saja?”


“Jangan Kak. Jangan membuat repot dan merusak sesuatu benda disini. Tidak ada Abang yang akan memperbaikinya. Kita tidak tahu 'kan, bagaimana nasib Mom kedepannya. Kita harus bersikap baik dulu.” tutur Ardhen.


Mereka kembali ke luar. Memencet tombol dengan kode semalam, menelfon pengurus pakaian mereka.


‘Tuan Muda, silahkan buka pintu, pasti Maid sudah berdiri di sana.’ jawabnya ramah. Tugas memandikan bukanlah tugasnya hari ini karena ada jadwal tertentu untuk mereka.


Arhen membuka pintu kamar.


“Pagi, Tuan Muda. Kalian sudah bangun?” sapa salah satu dari tiga maid yang berdiri di depan pintu.


“Apa Tuan Muda mau mandi?” tanyanya ramah dan sopan.


Arhen mengangguk membuat mimik angkuh seperti yang dilakukan Arsen selama ini padanya.


Salah satu di antara mereka menyiapkan air dibathup, menuangkan sabun cair yang sangat wangi.


“Tuan Muda mau dimasukkan mainan?” tanyanya.


Sedangkan dua lainnya sedang menyiapkan pakaian ganti, bedak, handbody, minyak rambut, farfum, perhiasan yang selaras dengan pakaian Sikembar.


“Tidak, kami akan melakukannya sendiri. Keluarlah!”


“Tapi, Tuan Muda...”


“Keluar!” perintah Arhen.


“Baiklah, kami akan menunggu.”

__ADS_1


Arhen dan Ardhen mandi, berendam di bathup berdua, menggosok-gosokkan badan mereka, membaluri kepala dengan sampo yang sudah disiapkan maid tadi. Setelah dirasa cukup bersih, mereka berjalan ke ruang kaca, dengan otomatis air memancur dari atas setelah mereka menapaki kaki di ruangan berkaca itu.


“Dik, keren sekali ya, kamar mandi ini!” ucap Arhen sembari menghembuskan air yang mengalir diwajahnya.


“Iya, Kak.” sahut Ardhen sembari mengusap wajahnya yang juga basah kuyup karena air mengalir dari atas kepalanya.


Cukup lama mereka bermain-main air di sana, terasa sangat menyenangkan.


Tak lama mereka keluar dengan handuk putih bersih yang melilit di pinggang, lalu handuk kecil bertengger dibahu mereka. Para Maid tersenyum ramah, mungkin lebih tepatnya merasa gemes ingin mencubiti pipi mereka, tetapi tak akan pernah berani untuk melakukannya, mereka akan mendapatkan kekurangan point.


“Menghadap ke sana!” perintah Arhen, “kami bisa melakukannya sendiri!”


“Baik, Tuan Muda.” Tiga orang Maid itu memutar tubuhnya membelakangi Arhen dan Ardhen.


Mereka memakai pakaian mereka. “Sudah!”


Tiga Maid itu kembali menoleh, satu orang mengambil hair dryer, mengeringkan rambut Arhen dan Ardhen secara bergantian, menyisir rambut mereka, memberi minyak rambut, yang lain mengoleskan handbody, farfum.


Sedangkan yang satu lagi, bagian mencocokan perhiasan, jam tangan, anting tempel dan cincin.


Mereka bertiga tersenyum puas dengan hasil karyanya. Dua anak laki-laki kecil itu sungguhlah sangat tampan dan menggemaskan.


“Silahkan Tuan Muda, kita akan ke ruang makan untuk sarapan.” ucap mereka.


Di dalam kamar Sakinah.


Ia menjadi frustasi dan memilih sholat arah sembarangan.


Setelah sholat, ia mandi di kamar kaca yang kecil itu. Bergumam-gumam kecil karena keunikan kamar mandi itu.


Ia telah selesai mandi, jam menunjukkan jam 6 pagi. Ia membuka pintu arah balkon kamar. Udara sejuk menusuk hidung, belum lagi hembusan angin.


Pemandangan yang sangat indah, sebagian temparan lampu masih menyala, sebagian sudah dipadamkan. Ada taman bunga dibawah, beberapa para Maid dengan seragamnya berjalan bolak balik.


“Tempat yang indah.”


Cukup lama ia bermenung menikmati pagi di sana, sampai sebuah ketukan mengetuk pintunya.


Ia berjalan mendekati pintu dan membuka pintu kamar. Andrean muncul dengan wajah lelah yang kusut. Mata mereka berdua sama-sama beradu, dengan cepat Sakinah menundukkan pandangannya, beranjak agar Andrean bisa masuk.


Andrean melepas dasi dan membuka baju kemejanya, membuang sembarangan, lalu langsung merebahkan tubuhnya ditengah-tengah ranjang dengan posisi kaki masih menjuntai.


Sakinah membuka sepatu Andrean, membuat pria itu terkesiap. “Apa yang kau lakukan?” tanyanya langsung terduduk.


“Membantu melepas sepatu.”


“Ini bukan tugasmu.”

__ADS_1


Para Maid datang dan masuk ke dalam kamar. Menatap Sakinah yang berjongkok.


“Bangunlah!” perintah Andrean.


“Siapkan!” ucapnya pada maid.


Para Maid masuk ke kamar mandi, menyiapkan air mandi, handuk, sabun dan sampo. Yang lainnya, menyiapkan pakaian, perkakas perawatan dan perhiasan.


“Pardon Mevrouw, staat u mij toe.” (Permisi, Nyonya, tolong beri saya izin.)


Maid mendekat dan mengeringkan rambut panjang Sakinah yang berwarna hitam, lalu mencoba membuka baju Sakinah, membuat ia menolak dan mendorong maid.


“Dia hanya ingin membalur tubuhmu untuk melakukan perawatan!” ucap Andrean.


“Oh.”


Sedikit malu dan masih menutupi tubuhnya, Sakinah mengangguk dan menjulurkan tangannya memberikan izin.


Andrean pun pergi mandi.


Sakinah telah dibaluri banyak produk, wajahnya dirias dengan sempurna, lalu rambutnya disisir.


Mereka hendak memberikan pita dan perhiasan di atas rambutnya, Sakinah menolak dengan gelengan kepala dan tangan, ia mengambil hijab dan memberikan gerakan agar para Maid mengerti.


Para Maid hanya bisa mengangguk, mereka tak bisa memakaikan hijab. Mungkin setelah ini mereka akan belajar cara memakaikan pakaian Nyonya Muda barunya ini.


Kinah menyanggul rambutnya, memakai hijab, memasang peniti, para Maid tak berkedip memperhatikan.


Lalu seseorang membantu memasangkan perhiasan di hijabnya, ia memakaikan cincin dan gelang yang sesuai dengan corak baju Kinah.


“Thanks,” ucap Kinah tersenyum ramah, membuat wajah para Maid bersemu merah karena terharu.


Andrean keluar, semua maid langsung berjalan dan menghadap ke arah dinding serempak.


Andrean berjalan mendekat ke arah ranjang, dimana Sakinah juga baru duduk disana memegang hp nya. Ia sedikit bergeser melihat Andrean memegang baju.


Srek! Dengan santai, Andrean membuka handuk yang melilit dipinggangnya. Lalu, memakai celana dal*mnya.


“Aaaaaaaaaa!!!” Sakinah terkejut, tanpa sengaja ia berteriak kuat.


Para Maid dan Andrean juga tak kalah terkejut.


“Kenapa kau berteriak?!” tanya Andrean melotot.


Sakinah memalingkan wajahnya. “Kenapa kau melepas handuk sembarangan begitu, apa kau tidak malu?”


“Tidak!” jawab Andrean, lalu ia melanjutkan memakai pakaiannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2