
Arsen pergi ke kantor Dedrick bersama Xander Pim, sedangkan Hans dan Vindo berada di perusahaan Ar3s.
Setelah sampai dan duduk di ruangan Dedrick, dia bertanya, “Perusahaan ini juga diserang, Pa?” Arsen terkejut. Dedrick mengangguk sambil memijat pelipisnya.
“Bukan hanya perusahaan Wilzplants Groups ini saja, tetapi Antaman Wilzgold juga, beberapa perusahaan kecil yang bekerjasama dengan kita juga diserang,” jelas Dedrick.
“Paman Alex ada di ruang privat, Pa?”
“Iya!”
“Ok, aku akan ke sana menemui Paman Alex dulu, Pa,” pamit Arsen. Dedrick mengangguk, ia kembali melanjutkan aktivitasnya.
Akhir-akhir ini perusahaan bermasalah, entah kenapa dan oleh siapa. Seolah orang itu menaruh dendam dan mengenal lama keluarga Van Hallen, mengetahui seluk beluk keluarga dan bisnis keluarga Van Hallen, bahkan hal-hal rahasia juga.
Arsen mengetuk pintu dua kali sebelum masuk, Alex menoleh sebentar karena mendengar ketukan pintu dan melihat Arsen. Kemudian Arsen masuk, duduk di samping Alex yang nampak berwajah kusam. Sepertinya dia juga kurang tidur, sama seperti Vindo yang kerja siang malam di perusahaan Ar3s.
“Paman, bukankah cara kerjanya terasa familiar?” Arsen menatap layar monitor laptop yang sejak tadi ia otak atik.
__ADS_1
“Ya, benar. Kemarin, aku sempat curiga pada Puloh, karena dia yang Anda bebaskan.” Alex mendesah.
“Tapi ... Paman tidak menemukan apapun?” tanya Arsen masih menatap Alex.
“Benar, dia memilih hidup di desa, di Negara Swiss bersama mantan istri Jonathan dan menikahinya. Kemarin bahkan istrinya itu baru saja melahirkan. Dia memilih bertani sayur-sayuran. Dia mengganti nama dan penampilannya, dia benar-benar meninggalkan kehidupan masa lalunya dan hidup baru bersama wanita itu. Aku sudah menyuruh orang mengikutinya selama dua minggu ini,” jelas Alex. Ia memijat-mijat keningnya.
“Semua bawahan Puloh dan Jonathan Rhys waktu itu sudah kita lumpuhkan dan masuk ke dalam penjara, apakah menurutmu ada yang terlepas dari pantauan kita, Paman?”
“Kemungkinan ada, tetapi keberhasilan bawahan yang kabur atau terbebas untuk melakukan ini semua, Paman rasa tidak akan bisa, pasti ruang geraknya terbatas. Puloh benar-benar telah berhenti, lalu Jonathan juga sudah tiada,” jawab Alex.
“Kurasa musuh besar tak ada, tetapi semua pebisnis adalah musuh yang nyata,” Alex menoleh pada Arsen.
“Hm!” Arsen bergumam.
Setelah berbincang dengan Alex dan Dedrick, Arsen memilih rebahan di kursi mobil yang sedang melaju hendak ke kantor kembali. Akan tetapi, dia meminta Xander Pim mengikuti sebuah sepeda motor yang melaju dengan lambat.
Di atas motor itu ada Rayyan yang sedang membonceng Roselia dengan motor sederhana. Mereka berdua tampak tertawa riang, Roselia mencondongkan tubuhnya ke depan saat bicara pada Rayyan, terkekeh saat helm mereka beradu karena berbunyi, di lampu merah. Arsen mengepalkan tangannya membentuk tinju menonton pemandangan menyesakkan itu.
__ADS_1
“Ikuti terus!” perintah Arsen dengan amarah.
Rayyan dan Roselia berhenti di pinggir jalan, membeli jajanan. Arsen tak bisa berhenti karena dia menggunakan mobil, akhirnya hanya bisa melajukan mobil karena tak ingin ketahuan sedang mengikuti Roselia.
“Cih!” Berdecih kesal dan menendang kursi mobil yang ada di depannya.
Tak lama, notifikasi hp nya berdering, nampak Roselia memposting jajanan yang mereka beli dan memakannya berdua dengan Rayyan.
“Aku curiga sama baji*ngan itu! Aku sudah membuntuti dia waktu itu, jelas-jelas dia anak orang kaya! Kenapa pakai motor butut begini dengan Ros? Kenapa menempeli Ros terus sih!” Arsen terus berbicara sendiri dengan intonasi tinggi.
Xander Pim hanya diam menjadi pendengar yang baik.
“Lalu kenapa Kak Hans membiarkan saja Ros sama pria seperti dia itu sih? Hah?” Masih kesal dan menyalahkan orang sana sini.
“Kesal sekali rasanya! Antarkan aku ke Vend Beutique!” pintanya pada Xander Pim. Lalu, mengirimi pesan pada Hans dan Vindo, kalau dia sedang merasa tak enak badan. Memilih pergi istirahat ke Vend Beutique.
...----------------...
__ADS_1