
Arsen pun masuk ke dalam kamar mandi Roselia. Setelah Arsen masuk, Hans kembali melanjutkan mandinya segera tanpa berendam seperti tadi lagi.
Di dalam kamar mandi, Arsen menatap semua isi ruangan itu, ia kembali tersenyum dengan pipi yang merona berwarna merah muda. Kamar mandi itu sejak dulu selalu putih karena Arsen suka warna merah, hitam dan putih, sedangkan sekarang warna itu di dominasi dengan warna putih, hijau dan pink.
Cermin berwarna pink, odol hijau dengan pastanya, handuk hijau, sampo hijau, lalu beberapa kotak berwarna merah muda. Arsen menyentuh beberapa peralatan itu, lalu tersenyum.
“Rupanya alat mandi perempuan banyak juga, ya? Apa aku coba saja ... pakai sabun Ros? Ya, lebih baik kupakai saja, lagian ... aku suruh Kakak beli lagi ke bawah, lama dan merepotkan,” gumam Arsen. Kemudian ia memutuskan mandi menggunakan sabun cair milik Roselia.
Arsen tipe pria yang mandinya cepat, tak menunggu lama ia sudah selesai mandi, lalu keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang melilit di pinggang.
Lagi-lagi, kejadian memalukan terjadi. Saat ia melepaskan handuk hendak memakai pakaiannya, Roselia langsung masuk ke kamarnya tanpa permisi. Sehingga mempertontonkan secara gratis burung pipit Arsen yang sedang tertidur. Sekarang siapa yang akan disalahkan? Arsen atau Roselia?
“Aaaaah!” Roselia langsung berputar dan bergegas keluar menutup pintu kamarnya. “Apa barusan itu?!” Roselia memegang dadanya, pipinya memerah. Jantungnya berdebar-debar.
“Kenapa?” Hans langsung berlari sambil memakai bajunya bergegas, menuju adiknya. “Kenapa kau berteriak begitu kencang?” tanya Hans, ia merapikan pakaian dan rambutnya dengan jemari tangannya.
“I-itu--” Roselia menunjuk pintu kamar yang sudah ia kunci.
“Oh, Tuan Muda?” tanya Hans. “Kakak suruh Tuan Muda mandi di kamarmu, bajunya kotor, tadi Kakak sedang mandi juga. Kamar mandi kita 'kan cuma ada dua, kamu tau sendirilah bagaimana sikap Tuan Muda 'kan? Tidak suka menunggu, lagian kamarmu itu dulu juga kamar Tuan Muda,” jelas Hans. “sudah, gak apa-apa, jangan berisik lagi, nanti Tuan Muda merasa tidak nyaman.”
“Oh, ya! Makanannya sudah kamu panaskan?” lanjutnya bertanya pada Roselia.
“Sudah, Kak.”
“Oh, ya sudah, ayo, kita menunggu Tuan Muda di meja makan.” ajak Hans, kemudian mengetuk pintu kamar Roselia dan berseru, “Tuan Muda, kami duluan ke meja makan, ya. Nanti, jika Anda sudah selesai, susul saja kami ke sana!”
“Ya, baiklah!" jawab Arsen.
Roselia dan Hans memilih pergi terlebih dahulu ke ruang makan, sedangkan Arsen melanjutkan memakai pakaiannya, kemudian mengeringkan rambutnya dengan hairdryer milik Roselia.
Setelah mengeringkan rambutnya, matanya menangkap sebuah foto yang terpajang di meja belajar Roselia dengan dua buah bingkisan. Arsen berdiri, ia melihat coklat Silverqueen dengan setangkai bunga yang terikat dengan pita berwarna merah, di sana ada kertas kecil yang bertuliskan sebuah kalimat. ‘Happy Valentine Day! Aku berharap menjadi orang yang spesial di hari kasih sayang ini, dari Rayyan.’ Mata Arsen langsung mengkilat, menatap tajam, memindai nama Rayyan.
Lalu, tangannya kembali meraih bingkisan satu lagi. Sebuah gantungan kecil dengan boneka bear berwarna coklat. ‘Hai, Ros, aku tahu kamu dan aku gak rayain hari Valentine, tetapi karena kita temanan, aku mau berbagi coklat dan mainan kunci ini. Arhen!’
“Arhen?” tanya Arsen, lalu matanya melihat ke sana kemari, hendak melihat coklat apa yang diberikan Arhen pada Roselia. Tidak ada coklat yang terlihat kecuali bingkisan dari Rayyan.
“Apa dia memakan coklat pemberian Arhen?”
Ia terus menatap sekeliling, lalu menemukan sebuah foto berukuran 5r yang diletakkan Roselia di rak lemari belajarnya. Foto dirinya bersama Arhen saat acara wisudanya dengan tangan membentuk huruf V.
“Cih! Bukankah dia selama ini menyukaiku? Kenapa dia memajang foto Arhen? Lalu tidak memajang fotoku bersamanya?”
Tak lama, Arsen tersenyum kecil, “Baiklah, begitu rupanya, kau mencari simpatiku seperti ini, kau mendekati Arhen supaya aku memperhatikanmu, ya? Ok, aku suka itu!” tutur Arsen narsis.
__ADS_1
Arsen ke luar dari kamar Roselia. Menuju ke ruang makan, di sana Roselia dan Hans sudah duduk dan menghidangkan makanan. Mereka bertiga pun makan, tetapi Roselia dan Arsen tidak bisa makan dengan lahap, pipi mereka berdua sama-sama memerah sejak tadi. Pikiran mereka sama-sama mengingat kejadian memalukan tadi.
Setelah makan, Roselia langsung kabur ke kamar dan mengunci kamarnya, memberitahukan Hans bahwa dia sangat mengantuk dan akan ujian sekolah besok.
Arsen dan Hans membahas pekerjaan cukup lama, hingga waktu sudah menunjukkan tengah malam, Xander Pim juga sudah menguap-nguap sejak tadi menunggu bersama rekannya, ia bahkan sudah datang sejak jam 9 malam tadi ke apartemen untuk menjemput Arsen.
“Aku permisi dulu Kak. Kemungkinan besok aku akan telat datang ke kantor, ada sesuatu yang mau kuurus.”
“Baik, Tuan Muda.”
Arsen pun keluar dari apartemen bersama dua bodyguardnya, salah satunya Xander Pim.
“Paman, kita berhenti di supermarket ya!”
Sebuah supermarket yang dibuka 24 jam, Xander Pim menghentikan mobilnya di sana, turunlah Arsen dari mobil itu dengan diiringi satu pengawal.
Pelayan pun dibuat terkesima dengan ketampanan Arsen. “Nona, Hei!” Pengawal Arsen memanggil-manggil wanita yang terbengong sejak tadi.
“Ah, iya, ada yang bisa saya bantu, Pak?” tanya wanita itu.
“Aku mau semua coklat ini! Mainan kunci boneka itu!” tunjuk Arsen memerintah.
“Semuanya?” tanya Pelayan itu meragu.
“Kau bisa membungkusnya? Untuk hadiah?” tanyanya pada pelayan itu.
“Bisa, Pak," jawabnya.
“Tolong bungkuskan yang bagus, ini untuk hadiah!" pinta Arsen.
Akhirnya, gadis itu membungkus semua coklat yang ditunjuk Arsen, lalu mainan kunci boneka dengan berbagai warna.
Keesokan paginya, pagi-pagi sekali, Arsen sudah rapi dengan setelan jasnya, ia meminta Xander Pim mengantarnya ke toko penjual bunga.
“Paman, bunga apa yang bagus dan berapa jumlahnya?” tanya Arsen menatap Xander Pim.
__ADS_1
Xander Pim berdehem dulu sebelum menjawab. “ Satu mawar menunjukkan cinta pada pandangan pertama, dua mawar tunggal untuk dia yang sangat Anda cintai, 3 Roses, Aku mencintaimu. Empat Roses cara sempurna untuk mengatakan tidak akan ada apa-apa diantara kita. Em, kalau boleh saya tahu, Tuan Muda hendak memberikan bunga pada siapa?"
Arsen berdecih sebal. “Paman tak perlu tahu! Aku hanya ingin mendengar jawaban! Lanjutkan!” ucap Arsen dengan wajah dinginnya meminta penjelasan Xander.
Akhirnya, Xander pun memilih menjelaskan. “Lima Roses menandakan Anda mencintai seseorang yang istimewa, Anda sangat mempedulikan dirinya. Enam Roses menandakan Anda ingin menjadi miliknya.”
Hingga penjelasan itu berakhir di 99 mawar. “99 mawar menandakan Anda mencintai dirinya sampai mati.”
Uhuk! Arsen tersedak dan batuk mendengar itu. Ia mulai meragu dan menimbang-nimbang.
‘Cinta sampai mati hanya boleh untuk Mom dan Princes Jamila, apa aku boleh mengirimnya 99 mawar?’ Arsen bergumam dalam hati.
Tak lama, mereka telah sampai di toko bunga.
“Tolong buat buket bunga 99 Mawar, kirim ke alamat ini, tanpa nama!”
“Baik, Tuan.”
Setelahnya, Arsen membeli satu tangkai bunga mawar lagi.
...\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*\*...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan like dan komentar manjahnya Arlove😚