
Arsen tengah duduk di dalam ruangan sebuah perusahaan kecil yang bekerjasama dengan perusahaannya. Tampak seorang pria yang jauh lebih tua dari ayahnya, Andrean, berbasa-basi dan menyanjungnya.
Hans dan Xander Pim tampak masih berdiri di samping kiri dan kanan Arsen. “Saya sangat senang, Tuan Muda Arsen berkunjung ke perusahaan kami yang kecil ini,” tutur pria itu.
“Hm,” sahut Arsen dengan gumaman.
“Begini Tuan Gallael, masalah kerjasama yang Anda ajukan waktu itu, apakah Anda sudah yakin datanya valid dan sudah sesuai?” Hans mulai bertanya saat melihat kode dari Arsen.
“Iya, itu sudah valid Tuan Hans. Saya sudah memeriksa dengan sangat teliti. Apakah proposal kerjasama kita bisa dilaksanakan?” tanya pria itu penuh harap.
“Kudengar kau memiliki seorang putri yang masih kecil berumur 8 tahunan, ya?” Arsen bertanya dengan wajah dingin.
“Iya, Tuan Muda. Dia putri ke dua saya.”
“Apa kau tahu, kemarin putrimu itu memukul dan menjahati adik saya?” tanya Arsen masih dengan ekspresi dingin.
Pria tua itu menelan salivanya, dia memang dengar kalau putrinya terlibat perkelahian dengan teman sekelasnya, tapi tak disangka Arsen akan sampai turun tangan seperti ini.
__ADS_1
“Itu hanya masalah anak-anak,” jawab Pria itu mengalihkan.
“Ya, karena anak-anak aku bisa memahami, tetapi tidak pada orang tua anak itu. Seharusnya anak itu di didik dengan benar. Jika kau gagal mengurus anak dan istrimu, bagaimana bisa kau becus mengurus perusahaan,” sinis Arsen.
Tentu saja perkataan itu menusuk bagi sang pria, dia diceramahi oleh anak yang masih kecil begitu, ia merasa harga dirinya di rendahkan. Akan tetapi, dia masih menunjukkan sikap ramah dan sopan pada Arsen.
“Aku akan beri kesempatan untuk kerjasama kita, tapi aku tidak suka sesuatu yang gagal dan kejadian buruk terjadi untuk kedua kalinya. Kamu paham 'kan maksud ku?”
“Terimakasih Tuan Muda,” ucapnya, wajahnya berubah jadi ceria dan senang.
Arsen mengambil hp di kantong celananya, kemudian Hans berbicara dan mengurus perihal kepentingan kerja sama bersama Tuan Gallael.
“Cih!” Dia berdecih kesal, Roselia tampak makan bersama di kantin kuliah bersama Rayyan. Arsen ingin sekali rasanya meremukkan Rayyan itu. Dia kesal kenapa asisten pribadinya ini mengizinkan Roselia, adik satu-satunya itu dekat dengan Rayyan.
Masih berkutat dengan sosial media Roselia, tiba-tiba telepon nya berbunyi, ada panggilan dari Vindo.
“Hm, ada apa?” Arsen mengangkat telepon malas-malasan. “Apa?” pekiknya setelah mendengar perkataan Vindo. “Ok, aku akan segera ke kantor!” Telepon pun segera di matikan.
__ADS_1
“Masih lama?” Arsen bertanya pada Hans.
“Sebentat lagi,” jawab Hans.
Setelah semuanya sudah disepakati, mereka pun bersalaman dan segera kembali ke kantor.
Sesampainya di kantor, Arsen langsung menemui Vindo yang berada di ruangan khusus di dalam ruangan presdir. “Apa bisa di bobol?" Arsen bertanya dan terburu-buru memperhatikan layar monitor yang menyala.
“Susah, tetapi cara mereka hampir sama dengan cara Tuan Muda dan Tuan Andrean saat itu.”
“Maksudmu?” tanya Arsen menatap Vindo.
“Sama seperti saat Anda dan Tuan Andrean pergi ke Inggris. Meninggalkan laptop atau alat perangkat sejenisnya di beberapa kamar hotel, lalu juga mengunci akses ke beberapa jaringan, ada di Negar Inggris, Rusia, Jepang, Amerika, dan Belanda,” jelas Vindo.
“Kita butuh bantuan Paman Alex dan teamnya, Tuan Muda!”
“Baiklah kalau begitu, aku akan menghubungi Paman Alex dan teamnya,” ucap Arsen.
__ADS_1
...----------------...