
Saat masuk ke dalam kamar, mata Lucas terbelalak hebat, ia segera mengunci rapat kamar dengan kepanikan.
Ia langsung menelfon Vindo dan pengawal lain yang dikirim Vindo untuk mengawal mereka ke Indonesia. “Sial! Bagaimana bisa terjadi seperti ini!” umpat Lucas akan keteledoran dirinya.
Lucas mengambil selimut, menutupi tubuh gadis yang telah pingsan di tepi bathup, darah keluar dari roknya, bajunya terlihat kacau dan robek. Sedangkan baju Arhen sudah terbuka dan teronggok di sana sini, keadaan pemuda itu dengan posisi bugil, meringkuk di bathup dengan tubuh yang gemetar. Pandangan mata pemuda itu terlihat penuh gairah dan berna-f-su.
Lucas menggendong tubuh gadis yang telah ia selimuti dengan selimut itu ke atas ranjang, masih dengan kepanikan, ia sambil berkata dengan Vindo di seberang telepon.
‘Tenanglah Lucas, jangan cemas dan hilang akal! Tunggu dua orang akan datang sebentar lagi ke kamar itu.’ Vindo menenangkan Lucas. ‘Kini, periksa Tuan Muda, rendam dia di dalam air dingin dulu!’ perintahnya pada Vindo.
“Baik!” jawab Lucas, kemudian ia menyimpan hp nya. Menghidupkan kran air di bathup.
Setelah beberapa saat air mengalir dan merendam tubuh Arhen, ia mulai mengangkat wajahnya. “Lucas, Lucas! Kau kah ini? Lucas!”
“Tuan Muda, ini saya Lucas!”
“Tolong aku Lucas, tolong!”
“Iya, Tuan! Berendamlah dulu, saya telah meminta bantuan, sebentar lagi akan ada yang datang, tunggu ya!”
Di atas ranjang, gadis itu terbangun dari pingsannya. Ia adalah Aini, ia merapikan pakaiannya, namun baju itu terlalu buruk untuk dikenakan karena sudah melar dan sedikit robek. Beriringan dengan kesadarannya, terdengar suara dari luar, buru-buru Lucas membuka pintu dan mempersilahkan dua orang itu masuk.
Pandangan mata Aini dan tiga orang itu berserobok saat Aini mencoba berjalan, ia meraih jacket parka yang tergeletak di samping ranjang, memakainya untuk menutupi bajunya yang rusak. Dia juga tak tahu itu milik siapa, tetapi dia hanya akan memakainya untuk menutupi tubuhnya, karena bajunya tak layak untuk dipakai keluar dari kamar ini.
“Ka-kau sudah sadar Nona?” tanya Lucas terbata. Aini menatap Lucas tajam, ia mengedarkan pandangannya, tak ada Arhen di sini, hanya ada asitennya serta dua orang pria yang baru masuk. Dia tidak melihat Arhen yang direndam di dalam kamar mandi.
__ADS_1
Aini tak menjawab, ia hanya terburu-buru memakai sendal sorongnya setelah jacket parka ia kenalan, roknya yang kotor karena darah, ia rapikan, rok itu masih baik-baik saja, sedikit basah dan kotor, tetapi tak mengapa, masih bisa di pakai, darahnya juga tak terlihat jelas jika tak diperhatikan secara seksama, karena roknya berwarna hitam.
“Nona, Anda baik-baik saja? Saya akan periksa Anda dulu,” ucap salah satu pria yang baru masuk hati-hati.
Melihat sikap Aini yang waspada, Lucas menaikkan kedua tangannya dan berkata. “Nona, kami akan bertanggungjawab atas semua ini, kita bisa bicarakan ini baik-baik, sebelum itu, mari kita obati Anda dulu dan-”
Bruk! Aini mendorong tubuh dua orang di depannya, menuju ke pintu dan menggoyangkan pintu dengan kuat, karena pintu itu di kunci. “Kunci, kunci, aku mau keluar!” Aini berseru dengan menoleh pada Lucas.
“Nona, tenanglah, mari kita bicara,” bujuk Lucas.
“Tidak ada yang ingin kubicarakan, aku hanya ingin pergi dari sini sekarang, sebelum aku teriak, mana kunci!”
“No-”
“Tolong! Tolong!” Aini mulai berteriak.
“Lemparkan!” perintahnya menatap tajam.
Dua pria itu hendak menciduk dan menangkap Aini, namun Lucas memberikan kode untuk tidak melakukan apapun, ia hanya melemparkan kunci, dengan segera Aini membuka pintu kamar hotel itu, lalu melarikan diri.
Lucas langsung menelfon seseorang. “Ikuti wanita yang keluar dari kamar Tuan Muda Arhen, pastikan keselamatan dirinya!” perintah Lucas.
Setelah itu, pintu kamar kembali dikunci, Arhen di gopong keluar dari bathup, ia disuntik oleh salah satu pria yang masuk tadi. Setelah disuntik, Arhen tampak tenang dan tertidur, Lucas pun memakaikan bajunya.
“Kamar hotel ini tidak ada Cctv 'kan?” Lucas bertanya dengan menatap mereka berdua.
__ADS_1
“Hm, Cctv hanya ada di depan pintu itu, selebihnya tidak ada, itu adalah privasi untuk tamu, jadi tidak diperkenankan Tuan,” jawab salah satu diantara mereka.
“Baguslah, kalian tolong atur dan jaga mulut kalian dengan rapat atas kejadian ini!” Lucas menatap tajam.
“Tentu Tuan, kami bisa dipercaya!” jawab mereka berdua.
Aini berlari ngos-ngosan keluar, ia langsung menuju pulang dengan menaiki bus kota. Setelah duduk di atas bus, barulah ia mengirim Mutiara pesan.
Tadinya, ia memang telah menyelesaikan pekerjaan, jam kerja dia memang telah selesai, tetapi saat ia hendak pergi, ia melihat Arhen di kejauhan sekilas, pria itu tampak berjalan terhuyung-huyung. Diam-diam dia mengikuti, hingga ia melihat ada yang aneh, tangan pria itu gemetar bahkan tak sanggup untuk memegang hp, pria tampan itu juga sendirian, karena itu ia mendekat dan berniat menolong.
Melihat Arhen minta tolong, ia pun tak pikir panjang, langsung membopoh badan Arhen yang tinggi besar itu dengan tubuhnya yang kurus dan mungil, ia kesusahan dan kepayahan menopang badan berat itu, tetapi tak apa, demi Arhen, pria yang dirindukannya.
Saat di depan pintu, Arhen menyuruh dia merogoh saku celananya untuk mencari kunci, tak sengaja matanya menatap benda keramat Arhen yang naik turun, wajah pemuda itu juga terlihat aneh. Setelah pintu terbuka, ia masuk dengan tubuh Arhen yang digopongnya, lalu ia menutup pintu dengan kakinya, meletakkan Arhen di ranjang.
Arhen terlihat Aneh, ia mulai meraba kening Arhen, wajah pemuda tampan itu terlihat memerah, tetapi berkeringat banyak, kelakuan Arhen juga aneh, dia membuka baju dan melemparnya sembarangan, hingga baju itu teronggok di mana-mana. Kini hanya tertinggal ****** ***** boxer yang di pakai Arhen.
Aini masih berdiri diam memastikan Arhen tak apa-apa, walupun sekarang ia tak menjamin matanya yang terpukau akan tubuh atletis Arhen akan bisa berpaling. Dengan setengah merem, Arhen mengusirnya keluar, bahkan menghardiknya, tetapi dia tak ingin keluar, sebelum memastikan Arhen tertidur dengan tenang, ia masih berdiri diam di tepi ranjang.
Akan tetapi, tiba-tiba Arhen bangkit dan marah, ia menarik wajah Aini dan menciumnya, Aini terkejut bukan main, ia tegang, ini adalah ciuman pertamanya, tak ada penolakan ataupun balasan ciuman darinya, karena dia memang tak berpengalaman, tetapi dia tidak marah akan perlakuan Arhen.
Jauh dilubuk hatinya yang terdalam, dia menyukai sentuhan itu, tetapi pikirannya masih waras, ini hanya sekedar nafsu, dilihat dari keanehan sikap Arhen yang tidak sopan, apalagi pemuda itu berkata dia mabuk. Aini terus berpikir saat tubuhnya mulai di jamah Arhen, apakah Arhen selalu begini selama ini? Pemuda tampan itu jika mabuk akan menyentuh perempuan seperti ini?
Arhen memasukkan tangan ke dalam bajunya dan memainkan dadanya, lalu menyibak baju itu, mengecup dadanya lembut dan mulai memainkannya. Ia menggigit bibirnya merasakan sensasi aneh, ia mengelus kepala Arhen lembut dengan suara yang ia tahan. Akan tetapi, suara itu juga keluar dengan mende-s-ah.
Setelah puas mencium dan meraba, Arhen mulai menarik paksa bajunya hingga bagian lehernya longgar dan sedikit robek. “Tuan Muda!” Aini memegang tangan Arhen, menatap wajah yang berkabut gairah itu.
__ADS_1
Arhen menatap wajah Aini cukup lama dan perlahan mulai menurunkan tangannya yang tadi memaksa baju Aini agar terbuka sempurna.