BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
98


__ADS_3

Kedua bayangan berkelebat cepat menuju gubuk sembari mengejar waktu yang semakin mendesak. Batas racun di dalam tubuh tukang satang akan cepat menjalar bilamana fajar menyingsing. Dan hanya segelintir orang sajalah yang mampu menawarkan racun itu. Salah satunya yang diyakini oleh Arya Dipa adalah orang bercambuk disampingnya.


.


Di kala berlari itu, Arya Dipa mencoba melirik orang bercambuk. Tetapi ia agak kecewa, karena orang bercambuk telah menyelubungi wajahnya menggunakan topeng yang terbuat dari getah karet tipis. Sehingga sangat sulit untuk mengenali wajah pemuda itu.


.


Walau begitu, saat Arya Dipa melakukan semedi, sosok Resi Suci sempat menuturkan sekelumit jati diri pemuda bercambuk tersebut. Pemuda ini masih mengalir darah bangsawan Majapahit. Dan ia mendapat gemblengan dari perguruan Windujati, salah satu perguruan dari kalangan ningrat yang mempunyai ilmu mendebarkan. Di dalam perguruan itu, seorang murid mempunyai rajah di lengannya, yaitu sebuah cambuk bergerigi.


.


"Ilmu peringannya sangat tinggi. Aku akan bermain dengan Raden ini.." batin Arya Dipa.


.


Seusai berkata, Arya Dipa meningkatkan kemampuannya dalam meringankan tubuhnya selapis lebih tinggi. Aji Sepi Angin terkuak membuat tubuhnya melesat cepat melewati semak dan pohon.


.


Melihat Arya Dipa berlaku seperti itu, orang bercambuk tersenyum. Entah mengapa dirinya ikut terpancing untuk menyusul pemuda di depannya. Aji Kidang Melar diungkapnya selapis lebih tinggi dari sebelumnya. Kaki orang bercambuk bagaikan tidak menapak tanah.


.


Jadilah keduanya seperti adu lari diambang fajar. Bayangan berkelebat dengan cepat dan tangkas, bagai hantu yang takut kemanungsan. Hantu atau demit menurut anggapan orang awam, tidak berani memandang atau terkena sinar mentari. Jika tubuhnya terkena cahaya mentari, tubuh itu akan meleleh layaknya karet yang terbakar.


.


Tidak terasa akhirnya gubuk sudah nampak. Tanpa mengurangi laju larinya, Arya Dipa memasuki gubuk itu.


.


"Kakang... " desis Windujaya, saat mengetahui pintu terbuka dan dua orang sudah ada di dalam gubuk.


Arya Dipa mengangguk perlahan. Tanpa lama - lama ia menghadap orang bercambuk dan memberitahukan keadaan tukang satang yang berbaring lemah di amben.


.

__ADS_1


"Silahkan Raden memeriksanya, hamba akan menjaga di luar bersama adi Windujaya." ucap Arya Dipa, lalu melanjutkan, "Di luar ada tamu yang ingin menyapa Raden. Untuk itu hamba akan mewakili diri Raden dalam menyambut mereka."


.


Orang bercambuk itu menghela nafas, "Sudahlah, janganlah kisanak berlaku berlebihan kepadaku. Lupakan sebutan itu dariku, dan panggilah aku Jati Pamungkas."


.


Tanpa menunggu tanggapan dari Arya, Jati Pamungkas memeriksa wajah, mulut dan perut tukang satang. Sementara Arya Dipa setelah menganggukan kepala, ia mengajak Windujaya keluar.


.


"Mereka masih enggan untuk menampakan wujud mereka, kakang." desis.Windujaya.


.


Arya Dipa menatap tajam tepat ke pohon ketapang. Dan memang di sanalah lima orang berada. Tetapi di sisi lain juga terdapat tiga orang yang patut dicurigai. Ketiga orang ini sebelumnya tidak diketahui keberadaannya oleh Arya Dipa dan Windujaya. Barulah setelah memusatkan pendengarannya lebih tajam, desir halus terdengar dari arah tersebut.


.


"Kisanak sekalian, hari sebentar lagi akan terang. Jadi keluarlah supaya kita saling mengenal !" seru Arya Dipa.


.


.


"Kalian... " desis Windujaya.


.


"Kau mengenalnya, adi ?" tanya Arya Dipa.


.


Windujaya mengangguk berkata lirih, "Mereka gerombolan perampok di sekitar Lasem. Salah satu pemimpinnya tewas ditanganku, yaitu Kala Gumbrek."


"He Windujaya, tak usah kau berbisik seperti kunyuk !" seru Jaladri.

__ADS_1


.


"Hari ini kami akan menjadikan dirimu tawanan bagi kami !" sambung Jaladri.


.


"Tunggu sebentar, kisanak." kata Arya Dipa, "Soal kawanku ini tentu dapat kita selesaikan, tetapi kali ini masih ada seseorang yang malu menampakan wujudnya."


.


Suara Arya Dipa agak keras. Sehingga perkataannya membuat orang yang dimaksud agak geram. Orang itu meloncat keluar dari tempatnya bersembunyi, diikuti kedua kawannya.


.


"Cih... Semakin lama kau semakin congak, anak muda!" seru orang itu.


.


Semua orang memandang ketiga orang yang baru muncul itu. Di lihat dari penampilannya, tentu orang - orang ini dari golongan ahli kanuragan. Apalagi tadi mereka hampir dapat menyembunyikan keberadaannya.


.


"Kisanak, aku tidak akan mencampuri urusan kalian." seru orang itu, dilayangkan kepada ki Kala Sargota dan kemudian menunjuk Arya Dipa, " Aku hanya berurusan dengan pemuda ini !"


.


"Adi, sepertinya kita bertemu musuh masing - masing. Berhati - hatilah." desis Arya Dipa.


.


Keduanya berjalan menghampiri musuh berbeda. Windujaya berhadapan dengan perampok telatah Lasem. Sedangkan Arya Dipa menghampiri orang tua yang ia kenal saat berada di gunung Penanggungan.


.


Di dalam gubuk, orang bercambuk yang menyebut dirinya Jati Pamungkas, berusaha mengobati tukang satang dari ancaman racun. Serbuk halus dari dalam kantongnya ia larutkan ke air dan ia tegukan ke mulut tukang satang. Tidak hanya itu saja, dari bekas tusukan jarum di perut tukang satang, ia gores dan mengeluarkan darah yang menggumpal itu. Sehabis itu dibersihkan dan dikasih boreh serta ia balut dengan kain melingkar di perut tukang satang.


.

__ADS_1


"Semoga ia cepay siuman... " desis Jati Pamungkas.


__ADS_2