
Orang tua yang bernama ki Wijang Pawagal dan tidak lain paman guru Panji Tohjaya, berjalan mendekati murid adik seperguruannya. Dengan sunggingan masih diperlihatkan, ia menepuk pundak Panji Tohjaya.
"Berhati - hatilah menghadapi tata gerak andalan mereka." bisik ki Wijang Pawagal.
"Iya, paman." sahut Panji Tohjaya.
Dalam pada itu, anak buah gerombolan Ular Sendok sudah siap untuk bergerak menghabisi lelaki yang pernah menjadi sasaran tugas dari Tumenggung Haryo Kumara kepada mereka. Kali ini mereka tak akan memberi kesempatan untuk kedua kalinya bagi lelaki itu.
__ADS_1
Sementara itu, Arya Dipa masih mencari waktu yang tepat untuk ikut terjun ke kancah pertarungan yang akan terjadi tak lama lagi. Dirinya sudah menjatuhkan pilihan untuk memanfaatkan kesempatan ini, untuk menggagalkan tindakan gerombolan Ular Sendok ke Banyubiru. Masalah dua orang yaitu lelaki bernama Panji Tohjaya dan orang tua satunya, akan ia urus kemudian. Syukur - syukur, dirinya tidak terlibat bentrok dengan keduanya.
Hembusan semilir angin di pagi hari, bersamaan bergeraknya lima orang gerombolan Ular Sendok menyerang Panji Tohjaya. Sedangkan empat lainnya mengarah ki Wijang Pawagal dengan sebat dan penuh ancaman. Tinggalah pemimpin gerombolan yang masih sendiri mengawasi pertarungan yang berlangsung.
Blego Trengganis, mengernyitkan alisnya saat mengetahui kemajuan Panji Tohjaya. Lelaki yang tempo dulu hanya bertahan ratusan tata gerak, saat ini menunjukan dapat menghadapi tata gerak Panca Margi Pralaya tingkat kawitan. Sekilan memandang, Blego Trengganis dapat menyimpulkan kalau kemajuan Panji Tohjaya didapat dari orang tua yang dihadapi empat anak buahnya.
"He, Ganter. Gunakan langkah kedua dari Panca Margi Pralaya !" seru Blego Trengganis.
__ADS_1
Apa yang dialami oleh Panji Tohjaya, tak lepas dari pengamatan ki Wijang Pawagal. Orang tua itu merasa tenang dengan kemajuan yang diperoleh murid adik seperguruannya itu. Namun ia merasa cemas kalau Blego Trengganis akan turun langsung.
Dan apa yang dicemaskan oleh ki Wijang Pawagal, menjadi kenyataan. Blego Trengganis yang sudah bosan menunggu telah bergerak meloncat sambil menggebukan tongkatnya ke arah Panji Tohjaya. Bahaya itu akan menyulitkan Panji Tohjaya yang masih berkutat menghadapi tingkatan keempat dari tata gerak Panca Margi Pralaya.
"Traaang.... !"
Sebuah benturan keras mengejutkan Blego Trengganis. Tongkat yang sedianya akan membuat celaka Panji Tohjaya, hampir saja lepas dari tangannya. Tak tahunya, seseorang telah menggagalkan serangannya.
__ADS_1
Orang yang menggagalkan serangan Blego Trengganis ternyata Arya Dipa. Pemuda itu menggunakan ikat pinggang kyai Anta Denta untuk menghadang laju pergerakan tongkat pemimpin gerombolan Ular Sendok. Seperti halnya Blego Trengganis, Arya Dipa pin, sempat terkejut dengan akibat benturan tadi. Tangannya merasakan sengatan tajam mencengkam sampai ke urat - urat.
Kedatangan Arya Dipa merupakan sebuah kiriman gerimis di musim kemarau yang dirasakan oleh ki Wijang Pawagal dan Panji Tohjaya. Meskipun keduanya tak mengenal pemuda itu, mereka berharap orang yang baru muncul itu dapat menghadapi atau menghambat pergerakan Blego Trengganis. Oleh karenanya, ki Wijang Pawagal telah meningkatkan tenaganya. Ilmu perguruan Sekar Jagat ia terapkan dengan sungguh - sungguh. Begitu juga dengan Panji Tohjaya.