BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
107


__ADS_3

Diantara berbagai tanggapan berbeda atas sikap Arya Dipa, hanya dua orang saja yang dapat dan mampu menyelami hati pemuda itu, yaitu Resi Puspanaga dan Panembahan Anom sendiri. Bagi Resi Puspanaga, Arya Dipa adalah seorang pemuda pilihan dan dipilih oleh alam untuk mendalami kitab kuno Cakra Paksi Jatayu, karenanya Resi Puspanaga yakin atas keputusan yang diambil oleh pemuda tersebut. Sedangkan bagi Panembahan Anom, ia merasakan adanya sesuatu hubungan yang sulit ia ketahui antara dirinya dan anak muda itu, yaitu bahwasanya pemuda dihadapannya pernah memasuki gua dimana ia pernah menghuninya dan menemukan selongsong keris.


.


Kembali Panembahan Anom mencoba mempertanyakan alasan mengapa pemuda itu tidak mengharapkan sisa buah Maja. Ini akan menjadi penentu untuk kedepannya.


.


"Angger, apa alasanmu menolak sisa buah Maja ?"


.


"Eyang Panembahan, suatu kali cucumu ini pernah singgah disebuah tempat yang mungkin pernah ditempati eyang Panembahan." ucap Arya Dipa.


.


Panembahan Anom mengernyitkan alisnya. Sementara Raden Sanjaya dadanya mulai bergetar. Sedangkan lainnya tidak mengerti maksud pemuda itu.


.


"Meskipun sisa Maja itu berawal dari bawaan eyang Panembahan, tetapi eyang pernah mengguratkan kalau pusaka itu akan berjodoh dengan orang yang akan menemukan selongsong yang terbuat dari pendok emas dengan tanda Surya Kencana."

__ADS_1


.


"He.... " seluruh orang terkejut.


.


Anggukan dan senyum menyeruak mewarnai wajah Panembahan Anom. Dirinya pun tak mengira jika benda yang ia sembunyikan, mampu ditemukan oleh pemuda di depannya ini. Selain itu ia merasa bersyukur, untunglah benda itu tidak ditemukan oleh murid yang telah menghianatinya dan sekarang ada di tepian itu juga.


.


"Bagus anak muda !" seru Panembahan Anom, lalu orang tua itu membalikan badan menghadap kelompok Raden Sajiwo dan Raden Sanjaya, "Tuan semua sudah mendengarkan dengan telinga secara langsung. Aku mempercayakan sisa buah Maja kepada pemuda dibelakangku !"


.


.


"Kau masih berani mengaku aku sebagai gurumu, Sanjaya ?!" seru Panembahan Anom, "Setelah kau ingin mengeroyoku dengan orang - orang dibelakangmu itu !"


Mendapati dirinya sudah tidak dihiraukan gurunya, tiba - tiba Raden Sanjaya tertawa terbahak - bahak. Tawa itu bagai mengandung bermacam makna. Tetapi bagi Panembahan Anom yang tak lain guru yang dikhianati oleh Raden Sanjaya, tawa itu merupakan kepastian kalau muridnya memang benar - benar manusia serakah.


.

__ADS_1


"Tertawalah, jika itu membuatmu merasa ringan untuk berhadapan dengaku." kata Panembahan Anom.


.


Raden Sanjaya melangkah ke depan, tetapi saat melewati Raden Sajiwo ia membisiki bangsawan dari Kadiri itu, "Saatnya kita mulai, paman. Kita menang jumlah."


.


"Hm... " sahut Raden Sajiwo sambil mengisyaratkan untuk mulai bergerak.


.


Aba - aba dari Raden Sajiwo langsung menggerakan kelompoknya untuk menghabisi lawan - lawan mereka. Tepian kali Brantas mendekati senja hari terasa menegangkan penuh ancaman. Bagai sudah ditetapkan, masing - masing mencari lawannya dengan tataran yang hampir seimbang. Sisanya harus berhadapan lebih dari satu atau dua orang.


.


Raden Sajiwo sendiri langsung berhadapan dengan Resi Puspanaga. sementara Begawan Jambul Kuning atau Raden Bancak telah mendapat lawan tangguh dari paman Raden Sajiwo. Begawan Kakrasana dihadapi tiga orang yaitu, ki Widarba, ki Pandak Wengker dan Gonggang Keling. Lalu Jati Pamungkas menghadapi ki Sardulo Liwung yang bercirikan pakaian dari kulit macan. Selanjutnya Windujaya menghadapi seorang berbadan tambun, Ra Srimpang. Sepasang garuda dari Penanggungan, Palon dan Sabdho dihadang oleh sepasang naga dari gunung Welirang, Jayakusuma dan Nila Gandasari. Sementara Arya Dipa sendiri harus melawan Duaji dan Bangau Banaran.


.


Perkelahian seru dan sengit mulai mewarnai tepian kali Brantas. Di balik gerumbul, orang - orang yang juga mengincar pusaka dan harta peninggalan Majapahit, tetapi hanya mempunyai kemampuan rendah, cuma melihat saja tanpa berani ikut campur. Bagi mereka, kekuatan orang - orang di tepian bagai raksasa saja. Jika mereka ikut terjun, kemungkinan diri mereka akan hanyut bagai debu dihembus angin prahara.

__ADS_1


__ADS_2