BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
Kitab 02 - Eps.15


__ADS_3

Maksudnya bagaimana kisanak.?" Sahut Resi Chandakara.


"Biarlah saudaraku ini yang menjelaskan." Kata Ki Lodaya, sambil memandang dan memegang pundak Ki Gagak Seta yang duduk di sebelahnya.


Orang yang disebut oleh pemimpin padepokan Lemah Abang itu menggeser duduknya.


"Sebelumnya mohon maaf sang resi, perkenalkanlah diriku ini. Namaku ialah Gagak Seta dari Kadiri, maksud kedatanganku ke pertapaan sang Resi Chandakara yaitu ingin menuntut keadilan akan kedua saudara seperguruanku yang tewas ditangan murid sang resi di sebuah bulak di daerah Kadiri setahun yang lalu." Terang Ki Gagak Seta.


"Kalau boleh tahu, apakah kau sudah mendapatkan informasi tentang muridku yang membunuh saudara seperguruanmu itu,atau mungkin nama dari muridku yang membunuh saudara seperguruanmu itu, Ki Gagak Seta.?"


"Mohon maaf sang resi, murid sang resi yang telah membunuh saudara seperguruanku itu adalah Ki Ireng. Resi, mohon kiranya sang resi menyerahkan orang itu kepadaku."


"Tahan kisanak, nanti dulu. Itu hanya sepihak saja."


Tampak ketegangan di raut muka saudara Ki Panji Danur dan Ki Lurah Sanjaya.


"Biarkanlah aku bertanya kepada muridku dan apa alasan muridku sampai dia berani menghilangkan nyawa seseorang."


"Ah... Mengapa sang resi yang terkenal dengan berjiwa adil dan bijaksana telah meninggalkan aturan yang menyimpang sehingga membela dan menutupi muridnya yang telah salah.!" Sergah Ki Gagak Seta, penuh dengan perasaan kemarahan.


"Hei, jaga bicaramu kisanak.!" Bentak Ki Ireng, yang tidak tahan mendengar kata – kata yang merendahkan gurunya.


"Sabarlah Ireng, aku sangat memaklumi perasaan kisanak ini." Ucap Resi Chandakara, "Bukannya aku membela, menutupi murid ataupun orang terdekatku, Ki Gagak Seta. Siapapun itu, walaupun seorang raja yang memang ternyata dan terbukti melakukan kesalahan tentunya akan aku katakan salah.


Sesaat sang resi itu berhenti dan memandang berkeliling menatap raut semua tamu yang hadir, lalu ia menoleh ke muridnya Ki Ireng dan bertanya.

__ADS_1


"Ireng, kaupun sudah mendengar sendiri dengan telingamu tuduhan yang diberikan kepadamu, apa penjelasanmu serta jawabanmu.?"


Pemuda itu menghela napas cukup panjang untuk meredakan amarahnya, "Benar guru, memang akulah yang menewaskan Ki Panji Danur dan Ki Lurah Sanjaya, itupun karena kedua orang itu ingin mencelakai seorang prajurit dari Japanan."


Orang tua itu manggut - manggut.


"Tapi guru tidak hanya itu saja. Ki Panji Danur yang dulunya seorang prajurit Kadiri, telah menyimpang dari paugeran prajurit dan menjadi seorang begal yang sangat meresahkan pedagang ataupun orang yang akan melewati bulak itu." Lanjut Ki Ireng.


"Kurang ajar..!! Beraninya mulutmu mengeluarkan fitnah dan memfitnah saudaraku..!" Teriak Ki Gagak Seta. "Ayo turun Ki Ireng, aku tantang kau untuk berperang tanding, jika kau memang laki – laki jantan.!"


Tanpa unggah ungguh murid dari Resi Gangsiran itu langsung berdiri dan serta merta berjalan turun ke arah halaman didepan pendopo serta berdiri dengan bertolak pinggang.


Sebenarnya didalam hati Ki Ireng kemarahannya yang tidak terkira meluap luap, namun karena sang resi yang merupakan guru dari Ki Ireng yang memahami sekali watak serta keadaan muridnya, segera menenangkan Ki Ireng.


"Redakan amarahmu Ireng, dan kendalikanlah nalarmu dan hatimu dengan bening." Desis Resi Chandakara.


Ki Ireng memandang wajah gurunya, dan setelah gurunya mengangguk mengiyakan, maka ia pun turun dari pendopo dan berdirimenghadapi murid dari Resi Gangsiran itu.


Kini dihalaman depan pendopo Resi Chandakara telah menjadi satu lingkaran yang agak lebar dengan dikelilingi oleh penghuni pertapaan Resi Chandakara dan kawan - kawan dari Ki Gagak Seta.


Di samping pendopo sedikit lebih menjorok ke dalam, dua pasang mata yang memperhatikan secara seksama dan cermat apa yang terjadi di halaman itu.


"Kakang, mari kita juga mendekat." Ajak pemilik sepasang mata yang tidak lain adalah Ayu Nilamsari dengan sepasang pedang tipis yang sudah tergantung di samping kedua pinggangnya.


"Mari, tapi aku mengaharap kau berhati - hati." Sambut Adigama, yang langsung menggandeng tangan Ayu Nilamsari dan melangkahkan kakinya.

__ADS_1


Di tengah – tengah lingkaran Ki Ireng dan Ki Gagak Seta sudah merubah posisinya dan mempersiapkan kuda - kuda yang kokoh seakan sebuah gelonggongan pohon jati yang menancap ke dalam bumi, kesunyian yang sesaat menyelimuti lingkaran Ki Ireng dan Ki Gagak Seta terobek disaat Ki Gagak Seta berteriak dan dengan dahsyatnya mengarahkan pukulan ke arah kepala serta tendangan ke tubuh Ki Ireng.


Tentu saja Ki Ireng yang sudah siap siaga itu dengan mudah menghindar dari kedua serangan dari Ki Gagak Seta dengan mundur ke belakang satu langkah dan dengan sangat cepat membalas serangan Ki Ireng.


Walau dirinya diliputi oleh kemarahan yang menggebu - gebu di dalam dada, Ki Gagak Seta, tetapi ia mampu mengendalikan nalarnya serta melakukan penjajagan untuk menilai kemampuan Ki Ireng.


"Pantas saja cecunguk ini mampu menghadapi dan menewaskan kedua adik seperguruanku, ternyata kemampuannya selapis di atas dari kemampuan mereka." Ucap Ki Gagak Seta.


Perlahan lahan baik Ki Gagak Seta dan Ki Ireng semakin meningkatkan tata gerak yang mereka pelajari dari guru mereka masing – masing. Desir angin yang ditimbulkan dari pukulan atau tendangan dari keduanya semakin cepat.


Pada suatu kesempatan Ki Gagak Seta dengan sangat cepat melenting serta memutar tubuhnya sembari melakukan sebuah tendangan yang cukup terarah ke leher Ki Ireng, namun murid dari Resi Chandakara itu dengan sangat cepat menundukan kepalanya sehingga terbebas dari tendangan yang cukup mematikan itu.


"Ternyata kau cukup hebat juga cecunguk."


"Hahaha... Menghadapi serangan dari tata gerak dasar yang seperti itu cukup mudah, anak yang baru belajar merangkak pun akan mudah menghindarinya." Sahut Ki Ireng.


"Bangsat..!" Bentak Ki Gagak Seta marah."Akan ku robek – robek mulutmu itu.!"


Dari luar lingkaran pertempuran, Empu Citrajati hanya menggeleng - gelengkan kepalanya saja, mendengar ucapan dari keponakannya itu.


"Hhmm... Anak itu sedari dulu tidak berubah sama sekali sifat usilnya baik sedang bertarung ataupun tidak bertarung." Desis Empu Citrajati.


"Hahaha, mudah - mudahan lawannya tidak semakin terpancing dan keponakanmu mampu menghadapinya empu." Sahut Resi Chandakara.


Kini gerakan Ki Gagak Seta semakin deras dan dahsyat sehingga Ki Ireng mulai terdesak mundur beberapa langkah. Ki Gagak Seta selain menjadi begal, juga orang yang sangat disegani di tlatah selatan.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2