
Kini semakin nyata dan jelaslah apa yang didengarkan oleh Ireng maupun Wilis, gerombolan itu ternyata mempunyai niat tidak baik terhadap pertapaan Resi Chandakara dan perasaan mereka mengatakan bahwa gerombolan itu mempunyai niat ingin merampas kitab yang sekarang telah menjadi milik Adigama Bayu Chandakara.
Tetapi dari pada itu perasaan mengganjal masih menyelimuti hati Ki Ireng mengenai niatan seseorang yang bernama Ki Gagak Seta untuk menuntut balas akan kematian saudara seperguruannya.
"Mungkinkah orang ini salah satu dari sepasang begal yang waktu itu bertikai denganku.?" desis Ki Ireng dalam perjalanan kembali ke pertapaan.
Sesampainya di pertapaan kedua murid Resi Chandakara langsung saja melaporkan hasil pengamatan mereka.
"Dari siapakah mereka mengetahui keberadaan kitab Cakra Paksi Jatayu..?" Desis Resi Chandakara, setelah mendengarkan hasil pengamatan kedua muridnya atas sekelompok orang yang sedang mendekati pertapaan Resi Chandakara.
"Menurutku ini semua bersumber dari ilmu yang dimiliki Nyai Kenanga, bukankah guru dari Nyai Kenanga adalah Nyai Susuk Kantil resi.?" Kata Empu Citrajati, "Ia pasti mendalami ilmu mendiang gurunya, yaitu Nyai Susuk Kantil."
"Hem... Kemungkinan itu memang ada, dan memang Nyai Susuk Kantil mempunyai ilmu weruh sak durunge winarah." Ucap Resi Chandakara.
__ADS_1
"Lalu apa yang sebaiknya kita lakukan, guru.?" Tanya Ki Wilis.
Resi Chandakara termenung sesaat, lalu berkata.
"Kita akan sambut tamu kita dengan baik, lalu berusaha menanyakan maksud kedatangan tamu kita, serta menjauhi penyelesaian dengan kekerasan, tetapi apabila cara kita untuk menyelesaikan masalah secara baik – baik tidak memungkinkan dan ternyata tamu kita bersikeras dengan kekerasan, maka kita harus siap menghadapi mereka. Tapi ingatlah, aku tidak ingin ada jatuhnya korban jiwa."
Semua orang mengangguk dan memahami jalan pikiran sang resi yang sangat menghindari sebuah benturan ini.
"Selain itu, tolonglah kalian waspada kepada Nyai Kenanga serta murid - muridnya, Nyai Kenangan dan murid – muridnya tentu tak segan – segan menggunakan racun." Kata empu Citrasena menambahi keterangan Resi Chandakara, "Aku akan memberikan bekal beberapa butir obat penangkal racun kepada kalian, terkecuali angger Adigama yang sudah kebal terhadap racun yang dia dapatkan sendiri dari alam.
Derap kaki kuda terdengar ramai memasuki pintu gerbang pertapaan Resi Chandakara yang disambut oleh kedua murid sang resi, yaitu Ki Wilis dan Ki Ireng.
"Selamat datang di pertapaan Resi Chandakara, kisanak. Kalau boleh kami tahu kisanak – kisanak ini berasal dari mana dan ada keperluan apa.?" kata Ki Wilis.
__ADS_1
Nyai Kenanga menghampiri ki Ajar Lodaya dan berbisik kepadanya, "Kakang Lodaya, pemuda ini yang terlihat di dalam mata batinku."
Ki Lodaya mengangguk lalu dengan senyum mengembang menjawab pertanyaan murid Resi Chandakara.
"Mohon maaf kisanak, perkenalkan aku Ki Lodaya yang berasal dari padepokan Lemah Abang, daerah timur Penarukan. Dan ini aku datang bersama kawan - kawanku jauh dari timur Penarukan ingin menghadap Sang Resi, untuk meminta sebuah keadilan."
"Oh seperti itu kisanak, mari masuk, aku akan melapor kepada sang resi. Dan kawanku ini akan mengantarkan kisanak – kisanak semuanya ke pendopo pertapaan." Ucap Ki Wilis, lalu kemudian pergi menghadap Resi Chandakara, sementara itu Ki Ireng mengantarkan para tamu yang datang dari timur Penarukan itu ke pendopo pertapaan.
Beberapa saat Ki Wilis muncul kembali dengan dua orang yang sudah cukup tua untuk menemui tamu yang berasal dari tlatah wetan tersebut.
"Selamat datang di pertapan yang kumuh dan kecil ini, kisanak. Aku Chandakara merasa terhormat atas kunjungan dari Ki Lodaya dan Nyai Kenanga dari padepokan Kembang Duri." sambut Resi Chandakara ramah.
"Ah terima kasih, sang resi. Maafkanlah kami yang tiba – tiba datang dan merepotkan sang resi serta para penghuni pertapaan sang resi ini. Tetapi sang resi itu semua dikarenakan adanya sesuatu yang menyangkut terhadap salah satu murid sang resi." Ucap Ki Lodaya.
__ADS_1
Bersambung ke "Kitab 02 - Eps.15"