
Sesampai di rumah, segalanya diceritakan bagaimana tadi saat di gumuk ada perkelahian menegangkan, kepada semuanya. Berbagai kesan berbeda terlihat diwajah - wajah orang yang mendengarkan ceritanya. Tetapi dari sekian itu, semuanya berucap syukur akan keselamatan Lurah Arya Dipa.
"Syukurlah, anakmas mampu menanggulangi tindakan mereka." ucap Kyai Jalasutro.
"Begitulah, kyai."
Baru saja Ayu Andini akan angkat suara, dari luar terdengar derap kuda memasuki regol rumah Lurah Arya Dipa. Bergegas semuanya berdiri dan menuju pintu utama dan membukanya. Terlihatlah seorang prajurit sudah turun dari pelana kuda dan menuntun kuda tersebut.
"Assalamu'alaikum !" seru prajurit itu, mengucap salam.
"Wa'alaikum salam... " sahut Lurah Arya Dipa dan mengenali prajurit itu, "Kau, Soca.. "
"Kasinggihan, ki Lurah." kata prajurit itu.
"Naiklah.. "
"Mohon maaf, ki Lurah. Sebuah pesan dari gusti Adipati Anom yang lekas aku sampaikan.. "
Lurah Arya Dipa mengerutkan alisnya, "Apa itu Soca ?"
__ADS_1
"Ki Lurah diharapkan untuk bergegas ke Kanoman."
"Hm.. Baiklah. Kau duluan saja. Aku akan menyusul."
"Baik, ki Lurah." Bergegas prajurit itu berbalik arah keluar regol dan dengan sigap meloncat ke kudanya untuk kemudian ia pacu menuju Kanoman.
Sepeninggal prajurit Soca, Lurah Arya Dipa mempersiapkan diri dan pamit kepada istri, para tetua dan Windujaya. Selanjutnya dengan menaiki kuda kesayangannya, ia menuju Kanoman menemui Adipati Anom, Pangeran Pati Bagus Mukmin.
Tiada sulit baginya memasuki kediaman Adipati Anom. Semua prajurit pengawal sudah diberitahu akan kedatangannya, karena itulah dengan lancar Lurah Arya Dipa sudah memasuki ruang dalam Kanoman. Sejenak Lurah Arya Dipa terdiam memperhatikan suasana yang begitu tenang. Orang yang mengantarkan sudah undur diri dan hanya memberi pesan kepadanya untuk menunggu kehadiran Pangeran Anom.
"Maafkan aku, kakang Lurah.. " sebuah suara telah mendahului daripada sosok yang memasuki ruangan itu.
Rupanya sosok itu adalah Pangeran Bagus Mukmin itu sendiri. Pangeran putra tertua dari Sultan Trenggono yang akan meneruskan dampar kencana, kelak dikemudian hari.
Setelah duduk di dampar, Pangeran Anom mulai menerangkan alasan memanggil Lurah Arya Dipa.
"Kakang, Ayahanda Kanjeng Sultan akan segera menunaikan apa yang beliau cita - citakan. Yaitu, rencana untuk menyatukan tanah Jawa ini dalam satu kesatuan yang utuh. Esok tatkala sang surya merekah, iringan panjang mulai melangkah ke Bang Wetan."
Sejenak Pangeran Anom berhenti demi mendapatkan kesan dari Lurah muda di depannya. Kemudian lanjutnya.
__ADS_1
"Dalam rencana perjalanan tersebut, Ayahanda sejenak akan singgah di Purbaya sekaligus menemui Adimas Pangeran Timur. Dari sana Ujung Galuh dan Canggu akan menjadi sasaran yang harus diutamakan untuk diamankan dari kekuasaan Panembahan Bhre Wiraraja."
"Hamba, gusti Pangeran.. " sambut Lurah Arya Dipa.
"Dari awal aku mengharapkan agar kau tetap di kotaraja. Dan syukurlah pemikiran itu sama dengan Ayahanda, walau sebenarnya tenagamu sangat dibutuhkan di garis depan." Kembali Pangeran Bagus Mukmin terdiam untuk mengambil napas, "Kakang Lurah Arya Dipa.. "
"Hamba, gusti Pangeran... "
"Ingatkah kau kejadian memilukan di Bengawan Sore ?"
Tanpa sadar kepala Lurah Arya Dipa mendongak menatap gustinya. Tetapi sejenak kemudian bergegas kembali menunduk menatap lantai, meskipun keningnya masih mengerut dalam. Hatinya tidak mampu meraba maksud dari pertanyaan Pangeran Anom. Namun bibirnya lekas bergerak demi menjawab perihal tersebut.
"Bila yang dimaksud adalah kematian gusti Pangeran Sekar, hamba masih teringat gusti Pangeran."
Pangeran Anom mengangguk perlahan dan katanya, "Saat itu sungguh aku tidak memerintahkan paman Suranata, tetapi pihak Jipang Panolan bersikukuh akulah pelaku utamanya. Dan akhir - akhir ini aku mendengar kalau kakangmas Adipati Arya Jipang telah membentuk pasukan Siluman."
"Oh... " kejut Lurah Arya Dipa, "Be.. Benarkah itu, gusti Pangeran ?"
"Karena itulah aku mengharapkan kehadiranmu disampingku, kakang. Tiada lain dan bukan untuk memastikan warta yang berseliweran di telingaku. Aku tak ingin memperkeruh hubunganku dengan Kakangmas Arya Jipang dan kerabat Jipang Panolan. Karenanya aku mengharap dirimu untuk menyelidiki warta itu."
__ADS_1
"Sendiko dawuh, gusti. Semua yang mampu hamba kerjakan tentu untuk keberlangsungan Demak ini." Lurah Arya Dipa menyanggupi perintah gustinya.