BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK

BARA DIATAS SINGGASANA DEMAK
Kitab 02 - Eps.11


__ADS_3

Pagi itu setelah mengisi perut dengan masakan khas pegunungan, seisi pertapaan Pucangan di gunung Penanggungan berkumpul di ruang utama pertapaan.


Empu Citrasena yang sudah menuntaskan pekerjaannya dalam membantu resi Puspanaga, telah memberikan hasil yang gemilang dalam menempa wesi aji yang kini berbentuk pedang tipis dengan guratan yang menyerupai bulu burung garuda, sedangkan tangkainya terbuat dari kayu cendana berbentuk kepala burung garuda.


Dengan cermat resi Puspanaga mengamati pusaka itu dan ia nampak senang dengan hasil itu.


"Sungguh hasil tempaan empu, sangat bagus. Ternyata ilmu dari empu Supa yang terkenal itu bisa engkau teruskan, empu Citresena." puji resi Puspanaga.


"Ah, itu hanya sekuku ireng dari paman Supa, resi...." kata empu Citrasena.


"Hahaha... tak hanya ilmu empu Supa saja yang menurun di tubuh empu Citrasena, tapi jiwa rendah hatinya pun juga ia tiru.." sela ki Mahesa Anabrang, yang disambut tawa yang hadir di ruang utama itu.


"Karena pedang itu tipis dan lentur, maka pedang itupun bisa menjadi ikat pinggang dan mudah dibawa, resi." terang empu Citrasena.


Resi Puspanaga mengangguk, lalu ia bertanya kepada keponakan empu Supa itu.


"Resi kau sebagai pembuatnya, dengan senang hati aku ingin memberi kesempatan dan rasa hormat berupa pemberian nama yang cocok dengan pusaka ini."


Mendengar itu, empu Citrasena termangu dan menggelengkan kepalanya.


"Maaf resi Puspanaga, aku tak bisa mengusulkan barang satu nama pun, lebih baik resi sendiri atau orang yang berhak menggunakan pusaka itu, yaitu angger Arya Dipa."


"Hem..." lalu resi Penanggungan itu memandang Arya Dipa.

__ADS_1


"Angger Dipa, kau sudah mendengar sendiri apa yang dikatakan pamanmu empu Citrasena, dan karena aku pun juga sulit untuk memberikan nama pusaka yang akan kau terima ini, maka kaulah yang akan menamai pusaka yang akan mendukung perjalananmu nanti.."


Tampak remaja itu terdiam sesaat dan menundukkan kepalanya. Tak lama kemudian kepala itu terangkat dan memandang semua orang yang hadir di tempat itu.


"Terima kasih eyang dan paman, karena wesi aji yang kini berbentuk pedang tipis itu, anugrah sang prabu Airlangga atau resi Gentayu yang mempunyai lambang garuda, maka pusaka ini aku beri tetenger, kyai Jatayu.."


Semua yang mendengar nama yang disebut remaja itu, merasa senang karena memang cocok nama kyai Jatayu dengan ilmu kanuragan dari kita cakra Peksi Jatayu.


"Wah nama yang bagus, kakang. lalu apa nama sabuk yang dari kulit naga itu...?" sela Ayu Andini.


Arya Dipa tak menyangka akan mendapat pertanyaan mengenai sabuk kulit naga itu, sehingga anak remaja itu tampak bingung dan membuat orang - orang disekitarnya tersenyum.


"Kenapa kakang tampak bingung seperti itu.? aku punya usul dengan kyai Anta Denta. Bagaimana.?" kata Ayu Andini.


"Baik, sabuk kulit naga ini aku namai kyai Anta Denta." sahut Dipa, seraya menyentuh sabuk yang kini melekat di pinggangnya itu.


Maka mulai hari itu, Arya Dipa mempunyai senjata pedang kyai Jatayu dan ikat pinggang kyai Anta Denta. Dalam hari - hari selanjutnya, kedua pusaka itu pun mulai dipergunakan dalam latihan.


Ternyata keserasian dari kedua senjata itu melebur menjadi satu tata gerak dan mendukung pesatnya ilmu kanuragan Arya Dipa. Pedang yang sangat tipis dan lentur itu mampu memotong daun yang sangat tipis sekalipun dan mampu membabat pohon sebesar paha orang dewasa sekali tebas. Sedangkan ikat pinggang kyai Anta Denta, yang terlihat lentur itu bila dikibaskan dan mengenai batu, maka batu itu akan remuk. Tak hanya itu saja, tatkala sebuah serangan dari tajamnya pedang mengenai ikat pinggang itu, keuletan serat kulit naga itu layaknya besi gligen.


"Sungguh sangat besar karunia Hyang Agung terhadapmu, ngger." ucap resi Puspanaga," Selain ilmu tata gerak Cakra Peksi Jatayu dan pusaka kyai Jatayu, kau mendapatkan ikat pinggang kyai Anta Denta serta tak sengaja kau menelan darah naga Anta Denta yang mengakibatkan engkau kebal racun dan menambah tenaga cadanganmu."


"Tapi itu semua jangan membuatmu merasa terkuat di jagat ini, karena di atas langit masih ada langit, bukankah kau ingat tentang seorang raja dari Alengka yang mempunyai aji pancasona itu.?"

__ADS_1


"Cucu selalu ingat, eyang."


"Bagus, karena sifat angkara murkanya, maka Hyang Agung membinasakan melalui Sri Rama." tutur resi Puspanaga.


"Jadikan ilmu itu berguna dengan membantu sesama yang memerlukan pertolongan dan hindarilah sifat angkuh jumawa dan mementingkan diri sendiri." lanjut Orang tua itu.


"Baik eyang, semua nasehat eyang akan terpatri dalam hati cucumu ini."


"Bagus ngger, kini tata gerak dasar Cakra Peksi Jatayu sudah kau kuasai dengan baik, selanjutnya dalam tahap yang lebih tinggi akan dapat kau telusuri sendiri seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu besok ayahmu akan kembali ke barat dan kau dapat menentukan untuk mengikutinya atau kau akan tinggal disini untuk sementara."


Remaja yang kini tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan badan tinggi besar itu menatap jauh kebarat, lalu katanya.


"Aku akan tinggal di sini, Eyang."


"Baiklah, itulah yang sebenarnya aku harapkan. Mungkin ayahmu akan sedih untuk beberapa saat, tapi aku yakin jika ia akan tabah karena ia pun merupakan seorang berjiwa besar dan penuh bijak."


Di ke esok harinya, ki Mahesa Anabrang sudah siap menaiki pelana kudanya untuk kembali ke padukuhan Pudak di kadipaten Prana Raga yang kini berganti menjadi kadipaten Ponorogo.


"Jagalah dirimu, ngger. Jika kau berjalan ke barat, singgahlah di gubuk kita."


"Iya ayah, suatu saat aku akan pulang ke padukuhan Pudak dan kembali menyirami bunga di halaman depan."


Ki Mahesa Anabrang tersenyum seraya menepuk pundak anak angkatnya, lalu setelah berpamitan kepada semuanya, ia pun segera menaiki kudanya dan memacu kuda itu.

__ADS_1


__ADS_2